Aku menatap pantulan diriku di cermin dengan seksama. Apa karena aku tidak secantik gadis lainnya? Apa karena aku kurang menarik? Tubuhku membuatnya takut atau muak? Atau malah karena ia sama sekali tidak mencintaiku sejak awal? Penyebab semua pertanyaan dan kegelisahanku adalah Tobirama. Laki-laki yang sudah menjadi orang terdekatku selama bertahun-tahun dan sudah menjadi kekasihku dua tahun ini, tapi tetap tidak pernah menyentuhku. Tidak sampai aku yang memintanya.
Sejujurnya, aku iri dengan Mito yang selalu diperlakukan manis oleh Hashirama, berbeda dengan adiknya yang bahkan enggan untuk menggandeng tangan kekasihnya sendiri. Awalnya, aku tidak merasa khawatir sama sekali karena saat Tobirama sudah bersedia membuka sedikit hatinya untukku, aku sudah sangat gembira. Lama kelamaan aku semakin merasa tidak puas. Panggil aku gadis yang tidak bersyukur, tapi itulah kenyataannya.
Aku yang selalu memulai semuanya, bahkan aku yang harus memintanya untuk menggandeng tanganku agar terlihat seperti pasangan normal lainnya. Aku tidak pernah menanyakan sifatnya ini karena menurutku sangat tidak sopan dan seperti meragukan rasa sayangnya, tapi kalau sudah seperti ini.... Sudah kuputuskan utnuk menanyakan hal ini padanya. Menanyakan perasaannya padaku.
Saat ini Tobirama sedang keluar untuk membeli sesuatu dan kurasa ia akan kembali sebentar lagi. Ya, aku sedang berkunjung ke apartemennya, tapi tetap tidak ada reaksi apapun darinya.
Tanganku bergerak cepat untuk menghapus jejak air mata yang tidak kusadar, lalu menghela nafas panjang. Mempersiapkan diriku untuk bertanya dan mendengar jawaban dari Tobirama.
"Y/N? Aku pulang," panggil Tobirama. Aku kembali menghirup nafas dalam-dalam, lalu keluar dari kamar.
Tobirama sedang membereskan barang-barang yang baru ia beli. Aku menghampirinya dengan langkah perlahan. Kakiku sedikit gemetar karena gugup dengan reaksinya nanti.
"Tobirama, ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucapku.
Pergerakan tangannya berhenti dan ia berbalik untuk menatapku.
"Hm?"
Merasa Tobirama akan mendengarkan, aku membuka mulut. "Apa kau benar-benar mencintaiku?"
Tobirama tertegun, seperti tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulutku. Tatapan matanya agak menajam saat bersirobok dengan mataku. Tangannya terlipat di depan dada dan punggungnya agak menegak.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Tobirama bertanya balik.
"Aku ingin tahu yang sebenarnya," bisikku. "Aku ingin kau mengatakannya padaku karena aku sama sekali tidak merasakannya. Aku tidak pernah melihatmu menatapku dengan mata yang sama seperti Hashirama menatap Mito atau seperti seorang kekasih pada umumnya. Tidak pernah sekali pun kau berinisiatif untuk menggandeng tanganku, merangkul bahuku atau sesuatu yang dilakukan oleh pasangan yang sudah menjalani hubungan dua tahun!"
Pandangan mataku terasa kabur saat air mata mulai menggenang di pelupuk. Bahkan setelah racauanku, tidak ada reaksi. Tobirama hanya diam menatapku, sama sekali tidak ada perubahan dari wajahnya yang tidak terbiasa tersenyum.
Aku mendengus pelan. "Kekasihmu sedang mempertanyakan perasaanmu padanya, tapi kau hanya bisa diam menatapnya tanpa penjelasan apapun. Membuka mulutmu saja tidak."
Baru setelah aku mengucapkan hal yang mengingatkan kalau aku masih kekasihnya, Tobirama bereaksi. Ia menghampiriku, tangannya meraih ke arahku, tapi berhenti sebelum meraih pipiku.
"Y/N..." desah Tobirama. "Seharusnya kau tahu kalau aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku tidak akan bertahan dengan orang yang tidak kucintai selama ini, Y/N. Pertanyaanmu itu sangat bodoh."
"Lalu.... lalu kenapa kau tetap dingin padaku? Kau sama sekali tidak menyentuhku, kecuali kalau aku yang memintanya. Aku selalu merasa kau tidak pernah menganggap keberadaanku. Kenapa?" tanyaku frustasi.
"Karena aku sangat mencintaimu. Terlalu mencintaimu sampai pada tingkat aku takut menyentuh tanpa izin darimu. Kau boleh tidak percaya dengan alasanku, tapi itulah yang kurasakan. Aniki pun tidak percaya saat aku mengatakannya, begitu juga dengan Mito-san," Tobirama mengusap pipiku, menghapus bekas air mataku.
Aku tertegun mendengar alasannya, juga ketika aku merasakan tangan besarnya di pipiku. Ini pertama kalinya Tobirama menyentuhku tanpa harus diminta. Ketika aku menatap matanya untuk mencari kebohongan, aku tidak menemukan apapun. Yang ada hanyalah kejujuran dan rasa sayangnya padaku.
"Kalau begitu tunjukkan padaku. Beritahu aku kalau kau mencintaiku. Berjanjilah kalau kau tidak akan membiarkanku merasakan rasa sakit ini lagi," kataku.
"Sesuai permintaanmu."
Tobirama memelukku sangat erat. Kepalanya berada di lekukan leherku, hidungnya menghirup dalam-dalam bau sampoku. Tangannya berada di sekitar bahuku dan pinggangku, membuatku semakin dekat ke arahnya. Aku mengalungkan tanganku di lehernya. Satu kata yang bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Luar biasa.
"Omong-omong Aniki dan Mito-san akan datang untuk makan malam. Kau mau membantuku memasak untuk mereka?"
"Tentu saja. Kau tahu aku suka memasak, kau bisa serahkan semuanya padaku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Naruto One Shots
FanfictionCuma kumpulan dari berbagai karakter yang ada di Naruto. (Request CLOSED)
