Bagi Sasori, ia tidak butuh orang lain dalam hidupnya. Setelah apa yang ia alami, dibohongi oleh Nenek Chiyo mengenai orangtuanya yang meninggal karena kecelakaan pesawat, ia menunggu berhari-hari bahkan berbulan-bulan menunggu kedatangan kedua orangtuanya hingga ia mendengar pembicaraan bahwa orangtuanya telah meninggal. Sasori merasa ... ia tidak percaya lagi dengan orang lain selain dirinya sendiri.
Ia tidak bergantung pada siapapun, ia nyaman dalam kesendiriannya dan ... ia tidak peduli pada manusia selain dirinya sendiri. Hingga gadis itu datang dalam hidupnya.
Gadis penyendiri yang selalu sibuk dengan bukunya. Jika bukan karena Deidara, ia tidak akan pernah menyadari keberadaan gadis itu. Teman pirangnya memperkenalkan mereka di bangku kuliah dan seperti biasa, Sasori tidak merasakan apapun dari gadis itu. Jika gadis itu tidak seberisik Deidara dan Tobi menurutnya sudah cukup, itulah yang ada dibenaknya saat itu.
Namun, hari itu mengubah pandangan Sasori terhadap gadis yang memihak pandangannya tentang seni. Hari dimana ia dikabarkan bahwa Nenek Chiyo meninggal karena sakit.
Deidara, Tobi dan semua temannya di Akatsuki menghadiri pemakaman Nenek Chiyo, turut bersedih dengan kepergian nenek yang sering berkunjung ke apartemen mereka untuk membawakan makanan atau camilan buatannya. Selain Sasori, anggota Akatsuki yang lain berpendapat bahwa Nenek Chiyo adalah wanita tua baik yang pantas diberi pujian setinggi-tingginya untuk apa yang telah ia lakukan. Sasori tidak masalah, teman-temannya mengenal siapa Nenek Chiyo. Hanya saja, ia terkejut mendapati gadis itu berdiri di barisan yang sama dengan teman-temannya dan gadis itu menangis.
Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki nenek. Kehilangan satu-satunya sosok yang kuanggap sebagai Nenekku adalah hal yang menyakitkan.
Itulah yang dikatakan gadis itu. Sepertinya Nenek Chiyo pernah beberapa kali bertemu dan mengobrol dengan gadis itu kala ia bertamu di apartemen mereka. Ada satu hal yang membuat Sasori tersentuh, gadis itu menangis untuknya. Ia berkata mengerti apa yang dirasakannya, mengerti bagaimana kehilangannya Sasori saat Nenek Chiyo pergi.
Entah bagaimana, mendengar penuturan gadis itu, Sasori mengajaknya ke salah satu bukit tempat Nenek Chiyo biasa membawanya ketika ia sedih. Tempat favoritnya. Malam itu, Sasori menceritakan segalanya, apa yang ia rasakan, apa yang terjadi padanya hingga ia memutuskan untuk tidak membutuhkan orang lain.
Aku mengerti, Sasori. Tapi kau tidak perlu takut terluka, karena ada orang yang benar-benar peduli padamu, ada orang yang sedih saat melihatmu bersedih. Kurasa itulah alasan mengapa Nenek menyembunyikan kebenaran darimu. Mungkin kalau itu diriku, aku juga akan melakukan hal yang sama. Kenapa? Hm ... mungkin karena aku akan tersiksa melihat orang yang kusayangi tersakiti.
Sesuatu dalam dirinya bergejolak. Gadis itu seolah meruntuhkan dinding pertahanan terakhirnya, membongkar topeng tak peduli yang selalu ia pasang. Entah bagaimana caranya, gadis itu mampu membuatnya merasakan sesuatu lagi. Perasaan yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat saat berada di dekatnya. Perasaan yang membuatnya ingin merengkuh gadis itu dan tidak pernah melepaskannya agar ia tidak kehilangan lagi.
Entah bagaimana, gadis itu sudah berhasil membuatnya jatuh hati. Gadis bernama Y/N.
Dan untuk berterima kasih atas semua yang telah gadis itu lakukan untuknya, Sasori berencana untuk menggelar pameran dengan 'Y/N' sebagai temanya.
***
Atensi Sasori ditarik paksa dari bongkahan kayu yang hampir jadi saat seseorang membuka pintu studio. Pandangannya melembut begitu melihat Y/N yang kerepotan menutup pintu karena sebelah tangannya menenteng kantung plastik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naruto One Shots
FanfictionCuma kumpulan dari berbagai karakter yang ada di Naruto. (Request CLOSED)
