Mitsuchou *Modern*

3K 145 4
                                        

Mitsuki menggelengkan kepalanya saat melihat sosok chubby yang sangat familiar dengannya. Siapa lagi kalau bukan Chouchou? Gadis itu sama sekali tidak mempedulikan sekelilingnya, bahkan ia tidak sadar kalau teman kacamatanya belum terlihat di kelas sejak pagi lantaran di hukum oleh Konohamaru-sensei. Boro-boro peduli dengan temannya yang menghilang, sepertinya Chouchou juga tidak sadar sejak tadi ia memperhatikannya.

Matanya melirik ke arah jam dinding yang tergantung di atas papan tulis di depan kelas. Sudah lima belas menit sejak ia menjalankan rencana yang di susun oleh Boruto karena temannya itu terlalu pemalu untuk pembuat onar sekaliber dirinya. Terkadang ia bertanya-tanya dalam hati, apakah Paman Naruto dulunya semereptkan Boruto? Ups, sekarang ia terdengar seperti Shikadai yang masih belum bangun sejak meletakkan kepalanya di atas meja pagi tadi.

Chouchou melihat isi tasnya dengan wajah setengah kecewa dan setengah kesal. Kemungkinan besar keripik kentangnya sudah habis dan ingin mengambil lagi . Mitsuki menghela nafas pelan, lalu menghampiri gadis chubby itu sambil membawa sebungkus keripik kentang berukuran besar di tangannya.

"Kau sedang mencari apa?" tanya Mitsuki berbasa-basi.

Chouchou mengibaskan tangannya tanpa berbalik menatap Mitsuki. "Aku tahu kau menyukaiku, tapi saat ini aku seang tidak ada waktu untuk meladeni pujianmu, maaf ya."

Mitsuki menggelengkan kepalanya lagi. Sekarang ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa yang membuatnya bisa bertahan dengan sosok chubby dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa tinggi ini? Kenapa pula Chouchou dan Sarada bisa aku dan tidak terlihat bertengkar sekali pun padahal kepribadian mereka sangat berbeda? Sepertinya dunia ini memang penuh dengan keajaiban yang tidak ia ketahui.

"Aku ke sini bukan untuk menyatakan perasaanku, Chubby. Aku ke sini untuk memberikanmu ini," Mitsuki menyodorkan bungkus keripik yang ia bawa. "Keripik yang kau bawa sudah habis, kan?"

Chouchou langsung mengambil keripik dari tangan Mitsuki. "Terima kasih. Aku tidak tahu kalau kau benar-benar menyukaiku sampai selalu memperhatikanku. Istilahnya apa ya... ah! Stalker."

"Aku bukan stalker Chouchou," balas Mitsuki jengah. Rasanya lelah juga menghadapi Chouchou yang kepribadiannya tidak mirip dengan Paman Chouji itu.

"Tapi tindakanmu berkata sebaliknya, Mitsuki. Akui sajalah kalau kau memang sering memperhatikan dan menguntitku, kan?" kata Chouchou sambil mengunyah keripik kentang pemberian Mitsuki.

"Terserah padamu sajalah," gumam Mitsuki. Ia tahu lebih baik daripada membuat Chouchou semakin percaya diri, ia lebih memilih untuk mengalah.

Chouchou melirik Mitsuki dari sudut matanya. "Jadi kau mengakui kalau kau memang stalker-ku?"

"Aku tidak mengakui apapun," balas Mitsuki mulai kesal. Matanya melirik ke arah jam, hampir setengah jam sudah sejak rencana mereka berjalan, mungkin sudah saatnya memanggil keduanya kembali. "Apa kau melihat Sarada?"

"Ah, benar juga. Aku tidak melihatnya sejak tadi pagi. Kemana perginya Sarada ya?" tanya Chouchou. Mitsuki ingin sekali menepuk dahinya sendiri karena melihat tingkah Chouchou yang seperti perkiraannya. Kalau sudah bertemu dengan makanan kesukaannya, ia bisa lupa dengan temannya.

Mitsuki menyeringai tipis. "Bukannya Konohamaru-sensei menyuruhnya dan Boruto untuk membersihkan halaman sekolah? Kenapa tidak melihatnya di gudang tempat menyimpan alat kebersihan saja?"

"Baiklah, kutinggal dulu. Kau jangan mengikutiku lagi, ya Mitsuki. Walaupun aku senang memiliki stalker sepertimu, tapi aku juga ingin memiliki privasi sendiri," kata Chouchou sambil buru-buru bangkit dari kursinya. Tangannya sempat menepuk bahu Mitsuki.

Mitsuki menatap punggung Chouchou yang sudah menghilang, lalu menggelengkan kepalanya, sekali lagi heran dengan dirinya sendiri. Tidak lama kemudian Boruto datang dengan raut wajah super bete sambil menggumamkan sesuatu. Mitsuki bisa mendengar ada kata 'hampir' dan 'gara-gara Chouchou' dalam gerutuan Boruto. Ia langsung menghampiri temannya.

"Sukses rencananya?" tanya Mitsuki. Ia menepuk bahu Boruto yang wajahnya masih terlihat bete.
Boruto menggeleng jengkel. "Bagaimana denganmu sendiri? Apa ia sadar dengan perasaanmu?"

Mitsuki terkekeh miris. "Kurasa nasib kita memang sama. Ia memang berpikir seperti itu, tapi sepertinya tidak menanggapiku dengan serius. Setelah aku menyadarkannya tentang Sarada, ia langsung pergi meninggalkanku."

Boruto menertawakan nasib buruknya.

Untuk embunnadha25

Naruto One ShotsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang