Sesaat setelah pintu kamar tertutup, Naruto melempar asal tasnya lalu merebahkan diri di atas kasur. Pandangannya mengarah pada langit-langit kamar yang dicat polos. kedua tangan yang terlipat menjadi alas kepalanya. Benaknya dipenuhi dengan sosok sahabatnya, Y/N. Entah apa yang merasuki dirinya tadi, Naruto dengan berani mengajak Y/N untuk belajar bersama di rumahnya.
Naruto mengacak rambutnya frustasi, lalu berbaring menyamping. Matanya terpejam, kembali membayangkan kejadian saat pulang sekolah tadi.
"Y/N!" seru Naruto menyadari Y/N sudah beranjak dari kursinya menuju pintu kelas. Dengan tas yang sudah tersampir di bahu, Naruto mendekati Y/N yang terdiam karena namanya dipanggil.
"Ada apa Naruto?"
"Mau belajar bersama di rumahku?" Naruto meringis, menyadari kebodohannya karena melontarkan pertanyaan aneh.
Raut wajah Y/N menampakkan gadis itu terkejut dengan ajakannya. Dahinya mengerut dengan sebelah alis terangkat, seakan mempertanyakan kewarasan Naruto. Lagipula, sejak kapan Naruto dan belajar berada dalam kalimat yang sama dengan akur. Siapapun yang mengenal pemuda pirang itu pasti tahu kata 'belajar' adalah salah satu musuh terbesarnya.
Hampir saja Naruto pasrah untuk menerima ejekan Y/N, namun gadis itu malah mengatakan sesuatu yang melenceng dari ekspektasinya.
"Baiklah. Aku akan ke rumahmu setelah kegiatan klubku selesai," senyum Y/N seraya mengangguk. "Tapi jangan menyerah di tengah jalan ya? Begini-begini aku adalah guru yang kejam, lho."
Bibir Naruto tertarik membentuk cengiran lebar. "Yosh! Aku akan berusaha keras."
Y/N terkekeh pelan. Gadis itu kembali melanjutkan langkah keluar kelas seraya melambaikan tangan. "Sampai bertemu di rumahmu, Naruto."
"Pasti sudah ketahuan," batin Naruto merutuk sikap impulsifnya. "Pasti Y/N sudah tahu kalau aku menyukainya. Entah bagaimana aku harus bersikap di depannya nanti."
Ponsel yang bergetar di saku celana memaksa Naruto kembali ke dunia nyata. Tangannya merogoh saku dan menggeser tombol hijau tanpa melihat ID penelpon. Ia langsung bangkit dari posisinya setelah mengetahui identitas si penelpon.
"Naruto ..."
Rahangnya mengeras menyadari suara Y/N terdengar lemah dan ... ketakutan. Tangan Naruto mengepal kuat, berusaha mendengar suara Y/N yang dipenuhi dengan suara napas yang memburu juga hentakan kaki.
"Y/N? ada apa? Kau di mana?" Naruto tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Ada yang mengikutiku. Sekarang ini aku tidak jauh dari rumahmu," Y/N menyebutkan tempat di daerah rumahnya yang memang terkenal dengan banyak preman dan orang jahat.
"Tunggu aku Y/N, aku akan ke sana," hanya itu yang dikatakan Naruto sebelum ia memutuskan sambungan telepon.
Tanpa membuang waktu, Naruto menyambar jaketnya yang tergantung di belakang pintu lalu mencapai pintu dengan kecepatan fantastis. Ia tidak mempedulikan sang Ibu yang berteriak tentang makan malam dari dapur. Naruto hanya membalas 'Aku mau menjemput temanku, bu' sebelum keluar rumah. Mungkin Ibunya akan marah ketika ia pulang nanti, mungkin juga akan misuh-misuh dan tidak memberikan jatah makan malamnya karena sudah bertindak seenak jidat, tapi bukan itu yang menajdi fokus Naruto sekarang.
Pikirannya dipenuhi bayangan apa yang akan terjadi pada Y/N jika ia tidak segera menemui gadis itu. Kalau ada sesuatu yang terjadi pada Y/N, Naruto tidak akan bisa memaafkan diri. Seandainya ia menunggu gadis itu sampai selesai kegiatan klub. Seandainya ia memaksa untuk menemani gadis itu sehingga Y/N tidak perlu ke rumahnya seorang diri. Seandainya ... hanya itu yang bisa Naruto pikirkan sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naruto One Shots
FanfictionCuma kumpulan dari berbagai karakter yang ada di Naruto. (Request CLOSED)
