Uzumaki Naruto *Modern*

2.7K 304 6
                                        

Sejak bangun tidur, senyum lebar tidak luntur dari wajah Naruto. Sang Ibu, Kushina, hanya mengernyit heran ketika mendapati anak semata wayangnya bangun lebih awal dan memakan sarapan dengan sayur hijau tanpa banyak protes, sementara ayahnya menggeleng pelan seraya mengulum senyum penuh arti. Tidak hanya orangtuanya, begitu sampai di halaman sekolah, Naruto menyapa Iruka-sensei masih dengan senyuman yang sama hingga mengundang beribu pertanyaan yang berseliweran di kepala sang Guru.

“Ada apa denganmu Naruto?” tanya Iruka sambil menahan lengan Naruto. Ia takut kalau Naruto masih mengigau.

Naruto menggeleng antusias. “Tidak ada apa-apa. Hari ini adalah hari yang spesial, sensei.”

Saat Naruto kembali melangkahkan kaki, masuk ke dalam area sekolah, Iruka-sensei masih berusaha mencerna kata spesial yang diungkapkan oleh Naruto. Apa yang membuat hari ini begitu spesial bagi pemuda berambut pirang dengan mata biru itu.

Jawabannya adalah, hari ini merupakan hari dimana hubungannya dengan si Kekasih Hati menginjak umur yang ke satu. Dengan kata lain, hari ini adalah hari anniversarynya. Pasangan mana yang tidak bahagia dan ingin merayakan hari jadi mereka? Bagi Naruto, di umur pertama hubungan romansanya dengan Y/N, ia harus bersikap ekstra untuk membahagiakan gadis yang menerimanya setahun yang lalu itu.

Ia sudah menyiapkan hadiah berupa buku dari penulis favorit kekasihnya beserta dengan seperangkat buku catatan imut dan beberapa kosmetik yang sudah lama gadisnya incar—sebenarnya Naruto tidak tahu apa-apa mengenai kosmetik, ia diam-diam melihat keranjang belanja Y/N di salah satu platform online shopping untuk tahu barang mana yang diinginkan gadisnya. Percayalah, Naruto sudah merencanakan ini sejak dua bulan yang lalu hingga ia rela tidak membeli porsi tambahan ramen demi menabung uang untuk membeli hadiah kekasihnya.

Tidak sampai situ, Naruto harus memohon dan merengek pada sang Ibu untuk membuat kue—karena kemampuan memasak Naruto hanya sebatas menyeduh ramen instan, yang akhirnya dikabulkan oleh Kushina setelah ia berjanji untuk mencuci piring setelah makan malam selama satu bulan. Lihat, betapa keras perjuangan Naruto untuk kekasihnya.

Sesampainya di kelas, senyum Naruto kian sumringah mendapati Y/N sudah duduk di kursinya. Hanya ada ia, Y/N dan dua teman lainnya yang baru datang. Iya, Naruto berangkat lebih pagi hari ini untuk menghindari tatapan penuh ingin tahu dari teman-teman sekelasnya. Y/N memang menjadi salah satu siswi yang datang paling awal—tidak, tidak, Y/N tidak datang lebih awal untuk menyalin jawaban tugas seperti dirinya, melainkan karena gadis itu berprinsip ‘datang tepat waktu sama saja dengan terlambat’.

“Y/N-chan~” sapa Naruto riang. Ia mengabaikan tatapan heran kekasihnya dan langsung menghampiri gadis itu. “Selamat pagi!”

Y/N membalas sapaan Naruto dengan senyuman kecil. “Selamat pagi juga Naruto.”

Tanpa basa-basi, Naruto meletakkan kotak hadiah dengan warna favorit kekasihnya berhiaskan pita dengan warna senada dengan shade yang lebih gelap di meja gadis itu. Naruto mengisyaratkan pada Y/N untuk segera membuka kotaknya, sementara Y/N berulang kali memandang Naruto dan kotak yang ukurannya cukup besar itu bergantian. Untuk kesekian kalinya hari ini, Naruto mendapat tatapan heran.

“Kenapa memberiku hadiah Naruto?” tanya Y/N bingung. “Ada yang spesial hari ini?”

Pertanyaan Y/N sontak hampir meluruhkan senyum Naruto. Namun, dalam pikirannya yang kelewat percaya diri, Naruto menenangkan diri. Mungkin saja gadisnya berpura-pura lupa demi memberinya kejutan di siang harinya, kan?

“Jangan pura-pura lupa Y/N-chan,” decak Naruto. Ia mendudukkan diri di kursi yang berada di depan meja Y/N. “Buka dulu saja. Nanti kau juga akan mengerti.”

Masih dengan ekspresi kebingungan, Y/N membuka kotak pemberian Naruto dengan hati-hati. Seketika raut bingungnya tergantikan dengan sorot tak percaya setengah kagum. Y/N menunjuk isi kotak yang bervariasi dengan terkejut.

“Ini semua untukku? Benar-benar untukku?” pandangan Y/N mengabur oleh air mata. Bahagia dan terharu dengan usaha Naruto untuk membahagiakannya walaupun masih ada setitik pertanyaan yang tersimpan.

“Iya, semua ini untukmu,” Naruto mengangguk antusias. Ia meraih tutup kotak yang sudah tercetak ucapan ‘Selamat hari jadi yang pertama’ dengan tulisan kursif. “Selamat hari jadi, Y/N-chan!!”

“Hah?”

Sungguh. Demi buku mesum bertapa genit, Naruto tidak menyangka reaksi Y/N akan seperti itu. Bingung, heran juga linglung terpampang jelas dalam raut wajah kekasihnya. Tanpa disadari, senyum Naruto memudar, sedih karena gadis yang selama ini menjadi prioritasnya kini melupakan hari yang begitu penting.

“Jadi kau benar-benar lupa ya?” gumam Naruto murung. Pikirannya berkecamuk, biasanya justru para gadis kan yang mengingat tanggal penting seperti ini? Lalu kenapa Y/N melupakannya? “Kupikir Y/N-chan akan sama antusiasnya denganku. Ternyata hanya aku yang senang hari ini.”

Sebelum Naruto sempat kembali ke tempatnya, Y/N menahan lengannya. Gadis itu memaksanya untuk kembali duduk di hadapannya. Kali ini sirat geli yang tampak jelas ketika keduanya beradu tatap.

“Sepertinya kau salah paham, Naruto,” ujar Y/N terkekeh pelan. “Aku juga sama senangnya sepertimu, tahu. Bahkan aku sudah menyiapkan kupon ramen khusus untukmu di kedainya Paman Teuchi. Sungguh, aku tidak lupa.”

Naruto mencebik kesal. “Lalu kenapa bereaksi seperti itu?”

“Karena kau mengucapkannya lebih cepat,” Y/N mencubit hidung Naruto lalu mengusak rambut pria itu gemas. “Hari jadi kita masih tiga hari lagi Naruto.”

“Hah? Yang benar saja!?”

Y/N tertawa lepas. Gadis itu bertopang dagu selagi Naruto merogoh sakunya terburu-buru, memastikan di ponselnya bahwa ia tidak salah tanggal. Namun, saat Naruto mengecek kalender di ponselnya, tertulis jelas dengan huruf kapital bahwa hari ini memang hari jadi mereka.

“Tidak Y/N-chan. Aku tidak salah tanggal,” protes Naruto tidak terima. Ia tidak ingin usahanya untuk mengejutkan Y/N berakhir sia-sia hanya karena perkara tanggal. “Lihat, aku sudah mencatatnya di kalenderku sejak tahun lalu. Pasti tidak salah.”

Dahi Y/N mengerut saat Naruto menunjukkan ponselnya. Gadis itu kemudian turut menyambar ponselnya yang berada di kantung samping tas. Y/N menghela napas jengah lalu memperlihatkan pada Naruto bahwa di kalendernya, hari jadi mereka masih tiga hari lagi.

Nah lho.

Semakin lama ia dan gadisnya berdebat mengenai tanggal yang benar, makin banyak teman sekelas mereka yang datang menyaksikan keduanya adu mulut. Tidak ada yang berani melerai adu argumen mereka, mengingat Y/N hampir sama ganasnya dengan Sakura jika ada yang berani memotong ucapannya ketika marah. Beberapa dari temannya hanya menggelengkan kepala maklum karena ini bukan pertama kalinya mereka adu mulut, sisanya terlihat tak peduli.

“Apa yang kalian ributkan sepagi ini, dobe?” suara rendah familiar menyela aksi protes Naruto.

“Y/N-chan tidak percaya kalau hari ini adalah hari jadi kita, padahal aku sudah mencatatnya di kalender ponsel sejak tahun lalu,” adu Naruto pada Sasuke. “Ia berpikir kalau hari jadi kita masih tiga hari lagi.”

Naruto hampir mengumpat saat Sasuke menarik napas panjang lalu memanggilnya dengan sebutan ‘dobe’. Pria berambut gelap itu tidak tahu betapa krusialnya tanggal hari jadi mereka bagi Naruto.

“Kalau begitu Naruto, mari kita tanyakan pada Sasuke tentang kebenarannya,” baik Naruto maupun Y/N kini kompak melihat ke arah Sasuke yang menampakkan ekspresi seolah menyesal telah berusaha melerai. “Sasuke, apa kau tahu kapan tepatnya hari jadi kami?”

“Hari jadi kalian masih seminggu lagi bodoh,” ujar Sasuke jengkel. “Aku tidak mungkin lupa hari dimana Naruto sangat menyebalkan dengan terus-menerus pamer bahwa ia sudah menjadi kekasih Y/N sekarang.”

“Hah!?”

“Lagipula, Sakura yang memasang notifikasi di kalender bahwa seminggu lagi adalah hari dimana Naruto akan mentraktirnya sebagai perayaan hari jadi,” tukas Sasuke. Ia mendengus kalah dengan tingkah kedua teman dekatnya.

Kini, Y/N dan Naruto saling berpandangan, takjub dengan fakta bahwa tidak ada satupun dari mereka yang mengingat tanggal penting, bahkan sampai berdebat sengit yang berujung kesimpulan kalau keduanya sama-sama lupa. Sebaliknya, justru teman merekalah yang mampu mengingat dengan pasti.

Tidak heran, orang-orang memanggil mereka dengan sebutan pasangan konyol.

Percayalah, ini beneran kejadian nyata dan aku adalah Sasuke.

Naruto One ShotsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang