Deidara *Modern*

3.1K 289 16
                                        

Sudah lebih dari satu jam mereka duduk berdampingan, namun sejak Deidara membicarakan tentang gadis yang baru-baru ini ia sukai, Y/N tidak berhenti mencebik dan mendengus. Telinganya panas mendengar Deidara memuja gadis lain di hadapannya. Wajar saja, ia sudah memendam perasaan padanya sejak mereka masih duduk di sekolah dasar. Tapi sepertinya Deidara tidak memperhatikan gelagat Y/N yang tidak suka dengan topik pembicaraan mereka karena mulutnya terus saja memuji dan mengatakan betapa sukanya ia pada gadis itu.

"Aku serius Y/N, hm," kata Deidara untuk yang ke lima kalinya dalam waktu kurang dari dua puluh menit. "Kami memang hanya bertemu di media sosial dan berlanjut di pesan pribadi, tapi sepertinya aku sudah mengenal lama gadis itu. Ia terdengar baik dan yang paling penting, ia setuju dengan pendapatku tentang seni! Hm."

"Kau yakin menyukainya? Kau sendiri yang bilang kalian hanya bertemu di media sosial. Kau baru bisa berkata suka padanya kalau sudah bertemu dengannya, Dei," gerutu Y/N.

Deidara melirik sahabat masa kecilnya. Sudut bibirnya sedikit tertarik begitu menyadari Y/N mencebik lucu. Ia menarik kepala Y/N untuk direbahkan di bahunya, tidak ada perlawanan yang berarti dari Y/N. Bahkan, gadis itu terlihat menyukai gestur ringannya.

"Apa gadis kecilku ini cemburu? Hm," tanya Deidara dengan nada menggoda.

Y/N mendengus kecil. "Untuk apa cemburu? Aku tidak merasa tersaingi oleh gadis yang baru saja kaukenal itu, jadi aku tidak punya alasan untuk bersikap kekanakkan seperti itu."

Y/N memberengut saat Deidara terkekeh. Ia berusaha menahan senyum saat dirinya ditarik lebih dekat oleh Deidara. Tanpa sadar Y/N memejamkan mata saat merasakan tekanan familiar di puncak kepalanya.

"Kau benar, hm," kata Deidara. "Untuk saat ini memang tidak seharusnya kau cemburu."

Dahi Y/N mengernyit. "Untuk saat ini?"

"Iya. Kau bisa tenang untuk saat ini, hm. Tidak akan ada yang mampu menyaingimu untuk saat ini. Tapi kalau aku menemukan gadis yang kucintai lebih dari dirimu, kau baru boleh merasa cemburu, hm."

Y/N tidak menyadari bahwa Deidara tengah tersenyum penuh kemenangan sekarang. Pikirannya tengah disibukkan dengan kemungkinan ia tidak akan menjadi gadis nomor satu di hidup Deidara lagi. Kalau saat itu terjadi dan pasti akan terjadi. Apakah ia mampu bertahan? Apakah ia mampu memendam perasaannya saat yang berada dalam pelukan Deidara bukanlah dirnya? Apakah ia sanggup memperlihatkan senyumannya saat Deidara tiba-tiba datang dan memperkenalkan kekasihnya? Tidak. Y/N yakin ia tidak akan sanggup melewati hal itu.

Tangannya mengepal erat saat membayangkan kemungkinan itu. Tanpa sadar, Y/N mendekatkan dirinya pada tubuh Deidara. Matanya terpejam, mencoba menikmati setiap momen yang bisa ia habiskan bersama orang yang ia sukai sebelum datang gadis lain dalam hidupnya.

"Tapi, kurasa kau bisa tenang untuk waktu yang lama," bisik Deidara. Kedua lengannya melingkari tubuh Y/N bagai selimut. "Karena sampai sekarang aku masih yakin hanya kau gadis yang paling kucintai."

***

Y/N mengacak rambutnya kesal. Ia sangat yakin kalau ia mendengar Deidara berkata hanya dirinya gadis yang paling ia cintai. Seharusnya Y/N merasa senang dengan pengakuan Deidara. Namun, mengingat bagaimana sifat sahabatnya itu, Y/N bisa saja salah paham dengan makna dibalik kalimat itu. Bagaimana kalau Deidara ternyata hanya menganggap Y/N sebagai seorang sahabat baik dan tidak pernah lebih? Ia bisa mengubur dirinya sendiri karena malu dan terlalu percaya diri.

Saat mendengar nada dering pertanda pesan masuk, Y/N menyambar ponselnya dengan cepat.

Kau benar-benar yakin ia mengatakannya seperti itu?

Y/N memutar bola matanya kesal dengan isi pesan yang dibacanya. Tangannya bergerak cepat mengetik balasan untuk sahabat yang dikenalnya lewat media sosial.

Tentu saja. Tidak mungkin aku salah dengar. Argh! Aku jadi bingung karena ucapannya. Haruskah aku menyatakan perasaanku padanya lebih dulu atau aku harus menunggu lebih lama lagi dan membiarkan gadis lain menjadi kekasihnya?

Y/N melempar ponselnya ke sembarang arah lalu merebahkan tubuhnya. Tatapannya terfokus pada langit-langit kamar yang bercat putih. Sejenak, pikirannya kembali sibuk dengan Deidara dan perasaannya.

Kenapa tidak mencoba menyatakan perasaanmu saja? Bukankah ia bilang dirimu masih menjadi gadis yang paling ia cintai? Katakan saja perasaanmu sekarang.

Bibir Y/N mencebik. Kalau memang semudah itu menyatakan perasaan dan mendengarkan jawabannya, ia sudah pasti melakukannya sejak dulu. Tapi, kalau memang ide ini membuatnya selangkah lebih dekat menjadi kekasih Deidara, sepertinya cara ini patut dicoba.

Baiklah kalau kau berpikir seperti itu. Sekarang bagaimana caraku mengungkapkan perasaan? Dengan cokelat yang kubuat sendiri atau dengan hadiah lain? Bagaimana menurutmu?

Kurang dari dua menit, Y/N sudah mendapatkan balasan. Dahinya mengernyit, merasa aneh dengan jawaban yang ia dapatkan.

Menurutku, kau harus keluar rumah sekarang. Aku menunggumu.

Tidak ingin diselimuti oleh rasa penasaran lebih lama, Y/N menyambar jaketnya lalu berlari keluar rumah. Di luar dugaannya, Y/N mendapati Deidara tengah berdiri di dekat pagar rumah sambil memamerkan senyum lebar ke arahnya.

"Kenapa kau berada di sini?" tanya Y/N heran.

Sebelah alis Deidara terangkat. "Bukankah sudah kukatakan aku menunggumu? Hm."

Y/N memandang Deidara seakan pemuda di hadapannya ini memliki kepala tiga. Ia tidak ingat Deidara berkata kalau akan menunggu Y/N, sebaliknya sahabat dunia mayanya-lah yang berkata akan menunggunya. Tidak mungkin kalau Deidara mengenal sahabatnya dan menyuruhnya untuk menunggu Y/N dengan alasan menciptakan kesempatan agar dirinya bisa menyatakan perasaan?

Tunggu dulu! Y/N menatap Deidara horor. Telapak tangannya berkeringat saat senyuman Deidara melebar dan ia menganggukkan kepala.

"Kau sahabatku di dunia maya itu? Yang kukenal lewat media sosial?" Deidara kembali mengangguk. "Bagaimana bisa? Aku mengetahui semua akun media sosialmu."

"Aku membuat akun baru, hm," Deidara mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Sekarang, aku ingin mendengar pernyataan cintamu. Kaubilang mau mengungkapkannya padaku kan?"

Wajah Y/N memanas teringat dengan percakapan panjangnya dengan sahabat dunia mayanya. Ia selalu menceritakan tentang Deidara dan bagaiman ia sangat menyukainya. Astaga! Itu berarti Deidara sudah mengetahui kalau selama ini Y/N menyukainya.

"Baiklah kalau kau tidak mau mengatakannya, hm," belum sanggup Y/N menghadapi fakta yang ia ketahui, Deidara sudah melanjutkan kalimatnya. "Aku menyukaimu Y/N. Alasan mengapa aku membuat akun baru adalah untuk mengetahui bagaimana perasaanmu padaku, hm."

"T-tapi bagaimana dengan gadis yang kaukenal lewat media sosial itu? Kau bilang kau menyukainya, kan?"

"Gadis itu adalah dirimu, bodoh. Aku tidak menyangka kau bisa selambat ini, hm," ejek Deidara.

"Jadi kau ...?"

"Aku benar-benar menyukaimu dan sangat mencintaimu. Aku sudah bilang sampai saat ini hanya kau gadis yang paling kucintai dan aku tahu perasaan ini akan bertahan untuk waktu yang lama, hm," Deidara meraih tangan Y/N untuk menggenggamnya. "Kau mau menjadi kekasihku, kan?"

Hayoooo... kalian mau gak jadi pacarnya Deidara?

By the way, maaf requestmu kelamaan ya RairinDR

Andddd... Buat kalian yang kenal Resident Evil versi game.. Aku sudah rilis imagine tentng salah satu karakternya ya... Kalo tertarik bisa dilihat di work-ku..

Naruto One ShotsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang