BAB 12

8.2K 507 1
                                        

"Mas apa-apak sih ini, kok main gendong aja. Jatoh nanti mas, Turunin aku." Ujar Anindia kesal.

"Jangan gerak-gerak nanti beneran jatoh loh mana kamu berat lagi"

"Beraaaat? Jadi mas mau bilang aku gendut?iyaaa..? Siapa yang suruh gendong aku" Anindia pun makin kesal dibuatnya, wanita paling tidak suka jika disinggung soal berat badan.

"Eehh.. engga kok... engga.. mas becanda tau. Gak berat kok.. beneran.."
Sebenarnya ukuran tubuh Anindia itu cukup berisi dia tidak gemuk tapi tidak juga kurus.

Didudukkan nya Anindia dipinggir ranjang, Anindia yang kesal dibuat makin kesal oleh ardi. Ia hanya memanyunkan bibirnya hingga beberapa centi.

Tanpa aba-aba Ardi langsung mengecup bibir Anindia.

Cup..

"Mas...." Anindia melotot.

"Kenapa? Mau marah, dosa loh marah sama suami"

Ardi pun menarik tengkuk Anindia, langsung melahap bibir istrinya itu dengan lembut.
Anindia yang hanya diam saja tanpa membalas ciuman Ardi, Ardi pun menggit bibir bawah Anindia. Anindia tersentak langsung membuka mulutnya. Semakin dalam Ardi mencium bibir Anindia.

Tiba-tiba pintu diketuk dari luar.
Ternyata Haikal yang datang ingin menemui Ardi untuk menyampaikan perihal soal pekerjaan.

Tok.. tok.. tok..
"Permisi bos..."

Ardi dan Anindia pun berhenti sejenak dari aktivitas yang penuh gairah itu.
Ardi yang kesal karena sedang asik-asiknya, malah diganggu oleh sahabat yang tidak paham dengan situasi dan keadaan.

"KAL.. SEKALI LAGI KAU KETUK PINTU ITU.. KUPASTIKAN BESOK KAU AKAN KUKIRIM KE PEDALAMAN UNTUK BERTERNAK KUDA NIL" Ardi murka.

Haikal yang mendengar amarah Ardi dari dalam kamar langsung ngacir ketakutan.
Jelas saja dia takut, Ardi tidak pernah main-main dengan omongannya. Sebelumnya Haikal pernah membuat Ardi marah,ia tidak masuk kerja selama seminggu hanya untuk menemani kekasihnya liburan. Tidak masalah jika itu alasannya, akan tetapi Haikal membuat alasan dikantor ia libur karena harus menjaga kakeknya di kampung. Jelas-jelas kakeknya sudah meninggal 2 tahun yang lalu.

Ardi mengetahui kebohongan Haikal hanya saja dia diam saja. Haikal pun tau Ardi mengetahui kebohongannya,tp dia yakin tidak mungkin Ardi akan menghukumnya dengan berat.
Setelah Haikal kembali ke kantor, ia disuguhin sebuah surat yang menyatakan bahwa selama sebulan ini ia akan dipindah tugaskan ke daerah pedalaman untuk beternak kerbau, selama sebulan ia harus mengirimkan foto kegiatan yang dilakukannya selama sebulan penuh, bukan sekedar formalitas semata. Haikal di awasi oleh orang kepercayaannya Ardi.

Bayangkan malam ini Haikal hampir saja menjatuhkan dirinya ke dasar jurang yang sama seperti sebelumnya. Bergegas ia pergi dari rumah Ardi.. haikal yang ketakutan berjalan kearah mobilnya sambil ngucap-ngucap,zikir bahkan melafalkan doa.

***

Ardi pun melanjutkan kegiatan yang sempat berhenti tadi, dia mendorong perlahan tubuh istrinya ke ranjang. melepaskan handuk yang ada di tubuh istrinya dan di tubuhnya.

"Jadi ini tujuan mas Ardi masih pake handuk sedari tadi.. gak ada embel-embel unboxing dong" gumam Anindia di dalam hati.

Namun Anindia melihat suaminya komat kamit seperti baca mantra.
Canda mantraa.

Meski Ardi tidak sabar ia tidak lupa untuk membaca doa. Duhhh.. lelaki soleha.. eh.. soleh...

Anindia yang semakin gugup hanya bisa memejamkan matanya. Ia tidak berani menatap wajah suaminya apalagi sampai beradu pandangan mata.

CINTA DARI GADIS BIASA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang