BAB 17

6.7K 424 12
                                        

"Pak Marto... kita ke blok-M 11 dulu yaa.." perintah Aindia ke pak Marto setelah ia sibuk menscroll handphonenya.

"Iya non.."

Mobil pun melaju ke arah tujuan Anindia. Saat ini ia sedang ingin membeli sesuatu, Arkan yang masih terlelap pun ia titipkan pada pak Marto.

Setelah sampai rumah pak Marto segera membawa barang belanjaan Anindia, tp tidak ke kamarnya. Melainkan ke kamar putranya, Arkan yang sedari tadi sudah bangun meminta bundanya untuk membuat cemilan. Namun Anindia ingat sebelum menjemput Anindia sudah membuatkan Arkan pudding, Anindia pun langsung mengambil pudding di lemari pendingin.

"Yuukk sayang kita bersenang-senang" ucap Anindia pada Arkan.

"Mbok.. saya dikamar Arkan ya, kalo tidak ada yang penting jangan ganggu saya"

"Iya nona.." mbok Minah mengangguk patuh.

Anindia pun beranjak ke kamar Arkan dengan membawa pudding di tangannya. Sebelum itu ia sudah memandikan Arkan.

***

"Mbok.. Anindia masih di kamar Arkan?" Tanya Ardi pada mbok Minah.

"Masih den, semenjak pulang tadi non Anindia belum keluar dari kamarnya den Arkan"

"Oh.. yauda mbok, saya kesana dulu"

Ardi pun berjalan menuju ke kamar putranya. Ia kaget dengan suara berisik yang keluar dari kamar putranya.

Ceklek.

"Astagfirullah.."
Ardi kaget.

Ardi melihat istri dan putranya sedang asik berjoget-joget dengan menggenggam sesuatu di tangannya. Seperti tongkat kecil lalu di kepalanya ada bola yang memancarkan cahaya warna warni. Tidak lupa menggumamkan sesuatu yang bahkan Ardi pun tidak paham apa yang ucapkan istrinya. Entahlah Ardi pun tidak paham apa itu.

"Apa-apaan ini.. apa yang kalian lakukan??" Tanya Ardi, namun kedua ibu dan anak itu tidak mendengarkan sama sekali.
Ardi pun kesal melihatnya, ia langsung masuk ke dalam kamar putranya dan mematikan televisi.

Anindia pun kaget dengan kedatangan Ardi yang tiba-tiba. Arkan pun kesal melihat papanya mematikan televisi.

"Papa.. kok di matikan tv nya.. lagi asik juga" ujar Arkan kesal.

Tanpa memperdulikan ocehan putranya, Ardi segera menarik tangan Anindia menuju ke kamar mereka.

"Ihhh.. mas lepasin. Mau ngapain sih mas narik-narik aku." Anindia mencoba melepas tangannya namun tidak bisa terlepas. Akhirnya ia mengikuti pergerakan Ardi yang terus membawanya ke kamar.

"Duduk.." ucap Ardi tegas.

Anindia pun mengikuti intruksi Ardi, ia pun duduk di tepi ranjang.
Ardi pun berjongkok menghadap Anindia, ia langsung memegang tangan Anindia.

"Dengerin mas.. mas mau minta maaf sama kamu soal di kantor.. please maafin mas ya.. mas mau jelasin soal kejadian siang tadi." Ardi memohon.

"Mas.. uda ya mas.. aku tau mas itu gak mungkin ngehianatin aku.. cuma aku takut aja dengan wanita-wanita diluar sana yang mengincar mas." Anindia menunduk sedih.

"Anindia..percaya dong sama mas ya.. meski banyak wanita diluar sana yang ingin mengincar mas.. tetap hanya satu wanita yang ada di hati mas yaitu kamu dan gak ada yang lain.. mas cuma mau kamu.." ujar Ardi yang terus meyakinkan Anindia.

"Ihh mas gombal.. gimana dengan mbak Rania? Apa mbak Rania sudah tidak ada di hati mas lagi?"

"Kamu cemburu yaaa?"

CINTA DARI GADIS BIASA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang