Dengan sangat berat Ardi membuka matanya. Sayup-sayup ia melihat seseorang dihadapannya, fikirnya ia melihat bayangan istrinya ada di hadapannya.
Setelah sadar sepenuhnya Ardi kaget dengan keberadaan Anindia.
"Anindia.. kok kamu ada disini?" Tanya Ardi yang mulai sadar dari tidurnya.
"Kenapa mas gak suka aku disini?" Jawab Anindia ketus.
"Bukan gitu sayang, kan mas tadi lagi ketemu client disini.." jawab Ardi
Hingga detik ini pun Ardi tidak sadar dengan keadaannya yang sudah tanpa pakaian.
"Ketemu client? Yang bener mas bukannya mas sibuk main sama perempuan lain?" Ujar Anindia.
"Apa? Main sama perempuan lain? Jangan fitnah mas kayak gitu dong sayang.." jawab Ardi merasa tidak terima dengan tuduhan Anindia.
Lalu Anindia menyodorkan ponselnya ia menunjukkan sebuah foto kepada Ardi.
Sebelum Anindia mengusir Nina pergi Anindia memotret suaminya sendiri dengan tujuan untuk mengerjai ardi dan kini berhasil.
"Nih liat buktinya.. masih mau mengelak mas?" Tanya Anindia dengan wajah marah.
"Astagfirullah.. foto apa ini ? Mas gak pernah main sama perempuan lain sayang.. mas gak bohong.. tapi.. ini bukannya.." jawab Ardi memandang lekat-lekat siapa wanita yang ada di foto tersebut.
"Iyaa itu sekretaris barunya mas.. aku gak nyangka ya mas, mas tega sama aku.. mas lupa aku ini lagi mengandung anak mas.. tega ya mas.. mas fikir enak apa bawa-bawa perut sebesar ini kemana-mana.. berat mas berat.. mas gak mikir gimana pengorbanan aku.. hiks..hikss..hikss.."
Anindia semakin mendalami perannya sebagai istri yang tersakiti seperti di sinetron kumenangis yang tayang di televisi.
"Ya ALLAH Anindia.., tolong percaya sama mas sayang... mas gak pernah nyakitin kamu.. mas gak tau apa yang terjadi sebenarnya.." ucap ardi yang terus menerus meyakinkan anindia.
Haikal berjalan menuju ke kamar hotel itu lagi, namun kakinya langsung berhenti setelah mendengar suara dari dalam kamar.
Ia memilih menunggu diluar saja namun yang tak habis fikir olehnya adalah tindakan Anindia yang diluar kendalinya.
Ia mendengar Anindia sedang menuduh suaminya berselingkuh.
Padahal dirinya sendiri lah tadi yang mencari bukti kebohongan Nina.
"Apa-apaan ini.. kenapa malah dramanya baru mulai sekarang.. pantes tadi Anindia memotret mereka sebelum membangunkannya.." gumam Haikal, Haikal hanya mengeleng-gelengkan kepalanya tak habis fikir dengan kelakukan Anindia.
Anindia masih terus menerus berpura-pura menangis. Ia masih mempertahankan aktingnya. Ardi sudah kewalahan meyakinkan Anindia.
"Anindia mas mohon sayang.. percaya sama mas ya.. mas gak seperti itu sayang yaampun gimana lagi mas harus yakinin kamu.. mas gak ada hubungan apa-apa dengan wanita itu.." Ardi terus mendekap tubuh Anindia yang menangis.
Dalam pelukan Ardi ia tersenyum karena berhasil mengerjai suaminya itu.
Namun tiba-tiba Ardi merasa tubuh Anindia menegang seperti menahan sakit.
"Kamu kenapa sayang??" Tanya Ardi panik.
"Aduhhh.. kok perut aku sakit ya mas.. aduhhh sakit mas.. arggghhh.. sakit mas sakit.." ucap Anindia sambil menggenggam erat tangan Ardi.
Anindia mendadak merasakan kontraksi diperutnya. Sebelum-sebelumnya ia memang sering mengalami kontraksi palsu namun kali ini ia merasa kontraksi yang asli bukan palsu.
"Kamu mau lahiran ini.. kita kerumah sakit sekarang ya?" ucap Ardi.
"Ya iyalah sekarang masa besok.." jawab Anindia kesal.
"Hahaha iya maaf ya sayang mas salah ya.. " jawab Ardi kikuk.
"Duh!! Baru kali ini Anindia galak.. semasa hamil dia ga pernah tuh emosi mendadak. Kenapa mau lahiran gini malah baru kumat emosinya." Batin Ardi.
"Mas kok malah bengong sih..ayookkk kerumah sakit.. mas mau aku brojol disini?" Bentak Anindia.
"Maaf sayang.. iya iya sebentar ya sayang mas pakai baju dulu.." jawab Ardi ketakutan.
"Mas sih ganjen pake tidur sama perempuan lain segala bikin emosi aja.. "ujar Anindia terus menerus mengomel.
Ardi yang sedang memakai bajunya semakin gugup saja mendengar Anindia yang mengomel terus-menerus.
"Yaampun mas lama banget sih pake baju aja.. kalo ngelepasinnya aja yang cepet.." sindir Anindia terus menerus menahan sakit tapi meski menahan sakit omelan anindia semakin menjadi-jadi.
"Iya sayang bentar ya sabar yaa.. mas telfon Haikal dulu ya.."
Ardi mencari ponselnya yang entah ada dimana. Dari pada ia di omeli lagi oleh anindia ia lebih baik menelfon Hikal dengan ponsel Anindia saja.
"Hallo Kal.. lo dimana? Ke hotel xxxx sekarang oke.." pinta Ardi.
Tut..tut..tut..
Dalam tempo 5 menit Haikal sudah sampai di kamar itu.
"Ada apa bos?" Tanya Haikal panik
"Lohh kok lo uda disini aja Kal.." tanya Ardi heran.
Haikal yang sedari tadi menunggu di lobi hotel. Jelas saja dalam tempo singkat ia sudah sampai.
"Udaaaa gausah banyak nanya.. uda mau brojol ini.." ucap Anindia kesal.
Haikal kaget melihat Anindia yang sudah ingin melahirkan.
Haikal dan Ardi segera membawa anindia kerumah sakit.
***
Anindia sudah berada di ruang persalinan. Dokter sudah menyiapkan segala keperluan untuk melakukan proses persalinan.
"Sayang mas di dalam aja apa diluar?" Tanya Ardi hati-hati takut Anindia meledak. Namun itu adalah pertanyaan yang sangat fatal. Ardi benar-benar bodoh menanyakan hal seperti itu.
Anindia langsung melotot.
"Jadi mas gak mau nemenin aku melahirkan? Jadi mas cuma mau bikinnya doang? Iyaaaa??" Omel Anindia di sela-sela nafasnya yang tidak beraturan karena menahan gejolak kontraksi.
Perawat yang ada diruangan pun menahan tawanya melihat Ardi yang terus di omeli dengan Anindia.
"Yaampun salah lagi aku." Batin rdi sambil menutup wajahnya dengan tangan.
"Pak ibuk kita mulai ya persalinannya.." ucap dokter.
***
Setelah beberapa waktu berlalu akhirnya terdengar suara bayi menangis dari dalam ruangan.
Ardi di minta perawat untuk keluar dari ruangan bersalin. Setelah Anindia di pindahkan keruangan perawatan baru ia bisa di menemui Anindia lagi.
"Gimana bos.." tanya Haikal terputus melihat keadaan bosnya itu.
Sungguh malang nasib Ardi, sudah di omelin terus-menerus oleh Anindia.
Dan saat Anindia melahirkan pun ia menjadi sasaran empuk Anindia.wajah tampannya kini tertutupi oleh keringat yang mengucur deras.
Rambutnya sudah compang-camping tak beraturan. Kancing bajunya juga sudah banyak yang terlepas. Tangannya juga memar-memar kena remasan dan cubitan tangan Anindia.
"Kal.. gue saranin lo mikir-mikir lagi deh kalo mau nikah.." ucap Ardi dengan wajah lelahnya setelah disiksa oleh Anindia.
Ingin rasanya Haikal tertawa terbahak-bahak melihat kondisi sahabatnya itu. Baru kali ini ia melihat Ardi seperti ini, dulu saat dengan almarhumah Ranya. Ia tidak pernah seperti ini. Bahkan saat Ranya melahirkan Ardi tidak menemaninya di dalam ruangan persalinan.
"Ya ALLAH bos.. yang sabar ya bos.. yang penting Anindia dan anak bos selamat.." ucap Haikal menenangkan Ardi,ia menahan sekuat tenaganya agar tidak tertawa terbahak-bahak.
"Kal.. lo kalo mau ketawa ya ketawa aja gausah di tahan-tahan.. itu sih kalo lo masih mau dapet gaji bulan ini.." ancam Ardi.
Mendengar ancaman itu Haikal mengurungkan niatnya untuk tertawa. Awalnya ia tidak ingin menahannya lagi tapi dari pada gajinya harus lenyap lebih baik ia menahannya saja. Dan memilih tertawa di dalam hati saja.
Namun ia bahagia melihat sahabatnya itu sudah menjadi ayah dari dua orang anak.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DARI GADIS BIASA [END]
RomanceBukan menjadi satu-satunya yang belum menikah namun Anindia selalu menjadi bahan untuk dipaksa menikah. Selalu di jodoh-jodohkan membuat Anindia muak. Mendadak pak lurah dikampungnya ingin menjodohkan Anindia dengan kerabatnya namun perjodohan kali...
![CINTA DARI GADIS BIASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/259735039-64-k553538.jpg)