BAB 43

5K 330 3
                                        

Anindia semakin kesal saja melihat tingkah suaminya itu. Semakin hari semakin aneh dan membuat emosi anindia naik. Apalagi malam ini ardi semakin menjadi-jadi, ia malah membuat anaknya sendiri menangis.
Anindia sudah tidak tahan lagi melihat tingkah Ardi yang semakin berubah.
Dulu saat ia ketus dengan Anindia karena cemburu dengan Rangga tidak separah ini.

Padahal Ardi sudah berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama.
Namun kali ini sepertinya Ardi sudah kelewatan batas.

Anindia sibuk memasukkan pakaian a
Arkan ke dalam koper. Tidak lupa pakaian anindia dan Rania juga. Anindia berniat memboyong kedua anaknya untuk pulang ke kampung.
Ardi tengah sibuk mandi saat Anindia sibuk membereskan semuanya.

Sudah ada tiga koper berjejer di ruang tamu.
Anindia segera mengambil Rania yang di tidurkan mbok Minah di kamar Arkan.

"Pak Marto tolong masukkan koper ini ke dalam mobil ya pak.." pinta Anindia.

"Non.. non mau kemana malam-malam begini?" Tanya mbok Minah kawatir.

"Saya mau pulang kampung mbok.. saya sudah tidak tahan di rumah ini.. mbok jaga diri baik-baik ya mbok.. saya pamit.." pamit Anindia.

"Bundaa.. kita mau kemana?" Tanya Arkan.

"Sayang... kamu mau kan ikut bunda kerumah kakek?" Tanya Anindia.

"Kerumah kakek? Mau bunda arkan mau.. tapi papa gak ikut?" Tanya Arkan yang tidak melihat keberadaan papanya.

"Papa gak ikut sayang..kita bertiga aja.."

"Tapi papa.."

"Kalian mau kemana?" Ucap Ardi sambil menuruni tangga.

"Apa pedulinya mas.. kami mau kemana.." jawab Anindia ketus.

"Oh.. kalian mau kabur dari rumah?" Tebak Ardi yang memang adalah kebenaran.

"Iya kenapa mas mau ngelarang?"

"Engga tuh.. kalo memang mau pergi ya silahkan pergi aja.. toh gak ada yang larang.." ucap Ardi tidak perduli.

"Oke kalau begitu.. ayuk Arkan kita pergi.. papa kamu bener-bener kesambet setan.. kamu gak mau kan punya papa yang kesambet setan.. kita nanti cari papa baru aja.. yang lebih kaya raya.." ucap Anindia sambil meraih tangan arkan dan membawanya pergi.

"Pak Marto uda siap semuanya kan.." tanya Anindia.

"Sudah non..kita mau kemana non?" Tanya pak Marto.

"Kebandara pak" ucap Anindia singkat.

Anindia masuk ke dalam mobil sedangkan Ardi hanya melihat kepergian mereka dari pintu rumah.

Anindia sedikit meneteskan air matanya namun dengan cepat di usapnya karena tidak ingin pak Marto melihatnya menangis.
Hatinya begitu sakit karena kini suaminya sudah berubah tidak seperti yang dulu lagi.
Ia harus lebih kuat dari sebelumnya, kini ia sudah memiliki dua orang anak yang harus ia jaga dengan sepenuh hati.

Hancur hatinya Anindia saat Ardi sama sekali tidak mencegahnya untuk pergi. Bahkan ia membawa putranya pun ia tidak perduli.
Entah apa yang ada di benak suaminya itu.

Ia memandang sedih wajah Rania di dalam dekapannya. Bayi mungil yang baru ia lahirkan kini akan hidup tanpa ayahnya.

"Malangnya nasibmu nak.." ucap Anindia sambil mengusap lembut wajah putrinya.

Tiba-tiba mobil Anindia mendadak berhanti.
"Ada apa pak kok berhenti mendadak?" Tanya Anindia.

"Saya juga tidak tau non.. mobil di depan tiba-tiba menyalip trus berhenti di depan mobil kita.." ucap pak Marto.

CINTA DARI GADIS BIASA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang