"Bobo aja yuk sayang mas ngantuk banget ini" kilah Ardi menghindar dari pertanyaan Anindia.
Merebahkan tubuhnya bersiap untuk tidur.
"Ihh .. mas curang.. gak adil, aku uda cerita tapi gantian di tanya balik malah aku ditinggal molor.." ucap Anindia kesal.
Meskipun kesal Anindia tetap memeluk suaminya dengan hangat. Mereka berdua terlelap dalam mimpi indahnya.
Belum lama mereka terlelap, tiba-tiba pintu kamar di gedor seseorang.
Dor..dor..dor..
"Bundaaa... papa.. buka pintu..."
Dor..dorr..dorrr..
"Buka bunda.. papa..." teriak Arkan dari luar kamar.
Anindia kaget dan langsung terbangun.
"Mas.. mas... bangun mas.. itu Arkan kenapa kok gedor-gedor pintu kamar.."
Ucap Anindia membangunkan suaminya.
"Eeeuuggghhh apa sih sayang.. mas masih ngantuk ini.." jawab Ardi sambil mengucek matanya.
"Ihh.. mas ini.. itu anakmu diluar kamar itu gedor gedor pintu gih liat dulu mas.." ujar Anindia meminta Ardi untuk segera membuka pintu kamar.
Ceklek.
"Ada apa anak papa.. kok malam-malam gedor-gedor pintu?" Tanya Ardi.
"Arkan boleh tidur disini pa.. tadi Arkan mimpi buruk pa.." pinta Arkan.
Ternyata Arkan bermimpi buruk itu sebabnya ia bangun dan langsung beranjak ke kamar orang tuanya.
"Tapi janji bobo nya jangan petakilan ya.. jangan sampe kena perut bunda kamu ya.." Ujar Ardi mewanti-wanti.
"Okay papa..." jawab Arkan sambil berlari menuju ranjang mereka.
"Bundaaaaa... arkan bobo sama bundaa... asyiiikkk" ujar Arkan nyengir.
"Yauda sini sayang bobo sama bunda.. tapi memangnya tadi Arkan mimpi buruk apa? Sampe lari ke kamar bunda.." Tanya Anindia penasaran.
"Gatau bunda Arkan gak inget.." jawab Arkan sambil merebahkan tubuhnya di tengah-tengah orang tuanya.
"Yaampun anak nakal satu ini ya.. " Anindia geleng-geleng.
Karena masih terlalu malam mereka akhirnya memilih untuk tidur kembali. Untung ranjangnya cukup besar anindia tidak kesulitan untuk tidur apalagi perutnya yang semakin besar membuat Anindia sulit mencari posisi yang nyaman untuknya tidur.
***
"Mas.. bangunin Arkan dulu mas.. gak mau sekolah apa dia kok dari tadi masih belum bangun juga.."
Ucap Anindia di sela-sela kegiatannya di dapur bersama mbok Minah.
Ardi yang sudah berpakaian rapi dengan setelan biasa ia pergi ke kantor tengah duduk manis di meja makan sambil menikmati segelas kopi manisnya.
Tidak lupa koran yang biasa setiap pagi ia baca.
"Arkan bilang hari ini libur.. gurunya ada urusan." Jawab Ardi singkat.
"Ah masa mas.. kan ada guru yang lain.. mana mungkin kelas di liburkan hanya karna gurunya tidak masuk.." ujar Anindia heran.
"Tapi tadi Arkan ngomong gitu dek.. mas juga gak ngerti.." jawab Ardi pun merasa heran dengan putranya.
"Yauda nanti biar aku tanyain ke dia mas.."
Jawab Anindia.
Anindia kawatir ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arkan. Nanti dia akan bertanya dengan putranya itu.
"Sayqng mas berangkat ke kantor dulu ya.. assalammualaikum.." pamit Ardi.
"Waalaikumsalam.. mas lupa sesuatu?" Tanya Anindia dengan ekpresi wajah menyelidik.
"Mas bawa semua kok gak ada yang kelupaan.." jawab Ardi sambil mencari-cari apa yang kelupaan.
"Tuhkan.. yauda lah.. mas berangkat aja sekarang.." Anindia memanyunkan bibirnya kesal karena suaminya gak peka.
"Yaampuunn gitu aja kok ngambek sih .. mas becanda tau.. mana mungkin mas lupa cium kening istri mas yang manja ini.. cup..yauda mas berangkat dulu ya sayang.."
Ardi berpura-pura kelupaan mencium kening Anindia saat berangkat kerja.
Bagi Ardi mengerjai istrinya ada rasa senang tersendiri. Apalagi sampai Anindia memanyunkan bibirnya.
"Hati-hati dijalan mas.. pulang nanti beliin pizza ya mas.." pinta Anindia.
"Siap sayang... tunggu mas dirumah.. I love you.."
Mendengar Ardi mengucap I love you.. Anindia merasa malu sendiri apalagi Ardi mengucapnya di hadapan supir pribadi Ardi.
"Cih sok romantis" gumam Anindia
***
"Arkan... anak bundaaa.. yuk bangun dulu sayang..kamu ga sekolah nak?"ujar Anindia membangunkan Arkan.
"Hari ini arkan libur bunda gurunya ada urusan.." jawab Arkan berbohong.
"Boleh bunda bertanya sesuatu sayang? Tapi jawab jujur.. gak boleh bohong.."
Anindia kini mulai serius menanggapi arkan yang sepertinya sedang menyimpan masalahnya sendiri.
"Iya bunda.." jawab Arkan menunduk.
"Cerita sama bunda, kenapa Arkan gak mau sekolah?" Tanya Anindia sambil memeluk putranya itu.
"Sebenarnya hari ini gak libur bunda.. tapi Arkan yang gak mau sekolah.. soalnya di sekolah Arkan di ejekin terus sama temen, katanya punya ibu tiri itu gak enak, ibu tiri itu jahat.. ibu tiri cuma sayang sama anak kandungnya." Jawab Arkan dengan jujur.
"Yaampun sayang... kok jahat banget itu yang ngomong.. coba bunda tanya sama arkan.. Arkan gak suka punya ibu tiri?" Tanya Anindia.
"Arkan suka bunda..hiks hiks" jawab Arkan sambil menangis..
"Bunda juga suka sama Arkan.. walaupun bunda gak melahirkan Arkan, tapi bunda sudah anggap Arkan seperti anak kandung bunda sendiri. Jadi jangan berfikiran semua ibu tiri itu jahat sebelum mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Bunda juga bukan ibu yang baik tapi bunda akan selalu belajar untuk menjadi ibu yang terbaik untuk Arkan dan adiknya Arkan yang akan lahir" Ujar Anindia memberi pengertian kepada putranya itu.
"Kalo gak gini aja bunda, Arkan masuk ke perut bunda trus bunda lahirin lagi Arkan.. kan Arkan jadi anak kandung bunda karena Arkan lahir dari perutnya bunda." Ucap Arkan gak pake mikir.
"Bwahahahaha... mana bisa gitu sayang.. Arkan yang segede ini gak akan muat kalo di masukin ke perut bunda.." jawab Anindia terkekeh geli mendengar ucapan konyol putranya.
"Jadi Arkan tetep jadi anak tirinya bunda dong.." Arkan kecewa.
"Sayang.. sebutan itu tidak penting untuk saat ini.. yang terpenting itu hubungan hati yang selalu terjalin baik. Bunda sayang sama kamu, Arkan juga sayang bunda. Itu lebih dari cukup dibandingkan sebutan anak kandung atau anak tiri. Jangan sedih lagi ya sayang.." ucap Anindia menenangkan kegundahan hati putranya.
"Maafin Arkan ya bunda.."
"Maafin bunda juga ya sayang.."
Anindia merasa sedih saat Arkan harus mengalami kejadian seperti ini. Bukan salahnya ia tidak memiliki ibu kandung bukan salahnya juga ia memiliki ibu tiri. Image ibu tiri yang cukup negatif di pandang selama ini. Membuat semua anak ketakutan ketika orang tuanya memiliki pasangan hidup yang baru.
Padahal tidak semua ibu tiri akan berperilaku buruk terhadap anak sambungnya. Dan tidak semua ibu kandung akan berperilaku baik terhadap anak kandungnya. Semua kembali pada diri mereka masing-masing dalam bersikap dan menujukkan kasih sayang.
"Mau bunda bikinin bolu?"
"Mau bunda..." jawab Arkan senang.
"Tapi bantuin bunda kayak waktu itu dirumah kakek? Mauu?"
Anindia mengingatkan Arkan saat mereka berdua membuat bolu bersama. Sebelum Anindia menikah dengan papa nya Arkan.
Anindia beranjak dari tempat tidurnya, awalnya Arkan ingin di gendong Anindia namun Anindia memberi pengertian bahwa saat ini Anindia tidak bisa menggendong Arkan karena perutnya yang semakin membesar.
Arkan mengerti akan hal itu, lantas ia turun dari tempat tidur lalu menggandeng tangan Anindia seperti sedang menuntun Anindia.
Anindia yang diperlakukan seperti itu oleh Arkan menyunggingkan senyum bahagianya.
Sungguh beruntung dirinya memiliki putra yang sangat baik budinya.
Arkan persis seperti papanya, Anindia membayangkan bagaimana suaminya saat kecil. Mungkin wajahnya tidak jauh berbeda seperti Arkan.
Mereka berdua sama-sama tampan, manjanya pun sama.
"Anak bunda pinter banget.. duh bunda makin sayang deh.." ucap Anindia sambil mengelus kepala Arkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DARI GADIS BIASA [END]
RomanceBukan menjadi satu-satunya yang belum menikah namun Anindia selalu menjadi bahan untuk dipaksa menikah. Selalu di jodoh-jodohkan membuat Anindia muak. Mendadak pak lurah dikampungnya ingin menjodohkan Anindia dengan kerabatnya namun perjodohan kali...
![CINTA DARI GADIS BIASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/259735039-64-k553538.jpg)