Untuk menyenangkan hatinya Arkan, Anindia memutuskan untuk menemani Arkan di sekolahnya. Anindia ingin menunjukkan bahwa ia cukup baik untuk menjadi ibunya Arkan. Dan Anindia juga ingin bertemu dengan guru sekolahnya Arkan untuk membicarakan perihal Arkan yang sering di bully di sekolah karena memiliki ibu tiri.
"Hari ini bunda temenin aku ke sekolah?" Tanya Arkan antusias.
"Iya sayang, gimana Arkan seneng?"
Jawab Anindia sambil mengelus pipi gembul Arkan.
"Seneng dong bunda..seneng banget malahan.. yukk bunda kita berangkat.." jawab Arkan menarik tangan Anindia agar masuk ke mobil.
"Apa perlu mas juga ikut juga?" Tanya Ardi tiba-tiba, saat Ardi mengetahui putranya kerap di bully di sekolahnya ia sempat meradang dan ingin mengamuk. Namun akal sehatnya masih berfungsi itu hanya permasalahan anak-anak. Lebih baik di selesaikan dengan kekeluargaan saja.
"Gausah mas biar aku aja yaa.. ini tugasku sebagi ibunya Arkan mas.." jawab Anindia memberi pengertian kepada Ardi bahwa ia bisa menyelesaikan semuanya sendiri saja.
"Yauda kalo ada apa-apa langsung kasih tau mas ya.. mas berangkat ke kantor dulu ya sayang.. muaahhh" pamit Ardi.
Anindia mengantar Ardi sampai ke mobilnya, lalu ia juga masuk ke dalam mobil bersama Arkan.
Arkan begitu bahagia karena bundanya hari ini menemaninya di sekolah.
Ketika sampai di sekolah Anindia menggenggam erat tangan putranya itu. Anindia berjalan perlahan karena perutnya yang semakin besar.
Arkan menuntun anindia dengan baik.
"Bunda jalannya pelan-pelan aja bunda ya biar nanti bunda ga capek.." ucap Arkan
"Iya sayang.. anak bunda ini baik banget sama bunda.." ucap Anindia sambil mengusap kepala Arkan.
"Haiii Arkan.." sapa Nia teman sekelasnya rkan.
"Jawab dong sayang itu temennya manggil." Perintah Anindia pada arkan.
"Haii juga.." jawab Arkan.
"Yukk masuk kelas sama aku.." ajak Nia.
"Aku gak boleh ninggalin bunda aku sendirian nanti takut bunda jatoh.." ucap Arkan terus menggenggam tangan Anindia.
Anindia tersenyum mendengar alasan putranya itu.
"Yauda aku boleh ikutan pegang tangan bundanya kamu?" Pinta Nia
"Gak boleh" jawab Arkan kesal.
"Hahahaha... Arkan Arkan.. boleh ya sayang.. kan temennya mau barengan sama kamu sayang.." pinta Anindia.
"Iya deh boleh.." ucap Arkan sambil manyun.
Mereka berjalan beriringan. Arkan memegang tangan anindia sebelah kanan sedangkan Nia memegang tangan Anindia sebelah kiri.
Anindia seperti memiliki pengawal saja.
"Nia.. orang tua kamu mana sayang?"
Tanya Anindia.
"Papa tadi ada urusan tante.. tapi nanti mau balik lagi kesini.." jawab Nia
"Nia tiap hari di temenin sama papanya ya kalo ke sekolah?" Tanya Anindia.
"Engga tante.. hari ini papa mau ketemu guru kelas tante.." jawab Nia.
"Ohh gitu.."
Diam-diam Anindia memperhatikan Nia yang terus-menerus memandang Arkan.
Anindia mengingat kembali kejadian yang pernah Arkan ceritakan. Arkan bercerita soal teman sekolahnya yang pernah menyatakan perasaannya. Melihat Nia yang terus menerus melihat Arkan. Anindia tau gadis yang di ceritakan itu adalah Nia.
Anindia tersenyum sendiri membayangkan anak sekecil ini sudah mengerti rasa saling menyukai.
"Bunda.. bunda kenapa senyum-senyum sendiri.." tanya Arkan heran melihat bundanya
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DARI GADIS BIASA [END]
RomanceBukan menjadi satu-satunya yang belum menikah namun Anindia selalu menjadi bahan untuk dipaksa menikah. Selalu di jodoh-jodohkan membuat Anindia muak. Mendadak pak lurah dikampungnya ingin menjodohkan Anindia dengan kerabatnya namun perjodohan kali...
![CINTA DARI GADIS BIASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/259735039-64-k553538.jpg)