Anindia terduduk di sebuah sofa yang cukup empuk dengan mata yang ditutupi oleh kain.
Jantungnya berdegup kencang membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.
Ia berfikir ini mungkin akhir dari hidupnya.
Namun rasa ingin tahunya soal siapa dalang dari kejadian ini lebih besar dari pada mengetahui apa yang akan terjadi nanti.
Siapa dia? Apa maunya? Dan apa kesalahannku sampai dia berani bertindak seperti ini. Batin anindia.
Ceklek.
Suara pintu terbuka, membuat Anindia sadar bahwa seseorang masuk ke dalam ruangan.
Anindia terus mencoba untuk tenang meski ia sangat ketakutan.
Perlahan seseorang mendekat ke arah anindia lalu membuka ikatan di matanya. Anindia perlahan-lahan membuka matanya dan sedikit menyilaukan matanya karena terlalu lama tertutup.
Setelah matanya terbuka sempurna ia kaget dengan seseorang yang ada di hadapannya. Seseorang yang tengah duduk manis di hadapan Anindia.
"Alisa... kamu.. apa maksud ini semua?" Tanya Anindia kaget.
"Iya mbak.. ini aku Alisa.. sudah lama ya kita tidak bertemu.. mbak apa kabar? Sepertinya baik-baik saja tapi tidak tau nanti.. hehehehe" ucap Alisa santai.
"Apa maksud kamu melakukan ini semua Alisa? Apa kesalahanku sama kamu?" Tanya Anindia sambil mengepal erat tangannya karena emosi namun ia masih harus menyimpan tenaganya.
"Mbak jangan pura-pura bodoh deh.. mbak itu ngerebut apa yang seharusnya jadi milik aku.."
"Aku fikir selama ini kamu menghilang karena sudah tobat dengan ambisi kamu untuk merebut mas Ardi dari aku.. ternyata kamu menghilang hanya untuk hal ini??" Ucap Anindia meremehkan Alisa.
"Ahahahaha.. jujur sebenarnya waktu aku tau mbak hamil anaknya mas Ardi.. aku sengaja menghilang dari kehidupan kalian. aku pengen nyerah dan ikhlasin mas Ardi untuk mbak.. tapi setelah aku fikir lagi aku gak bisa mbak.. aku gak bisa ikhlas.."
"Jadi kamu fikir setelah meleyapkan aku.. kamu akan bisa miliki mas Ardi?"
Anindia terus menerus memainkan emosi Alisa. Ia ingin menyadarkan Alisa bahwa yang ia lakukan adalah kesalahan.
"Meski nantinya aku tidak akan bersamanya setidaknya mbak juga gak bisa miliki mas Ardi.." ucap Alisa.
"Kamu lupa Alisa?? Meskipun kelak aku harus mengikhlaskan mas Ardi.. tapi aku lebih menang banyak dari kamu.." ucap Anindia sombong.
Emosi Alisa semakin memuncak saja rasanya saat mendengar Anindia berbicara. Ia sudah tidak tahan lagi karena selalu kalah berdebat.
Lalu ia memerintahkan anak buahnya untuk kembali menutup mata Anindia.
"Tutup lagi matanya bawa dia keluar.." perintah Alisa
Laki-laki itu segera menutup mata Anindia lagi. Lalu memapahnya untuk berjalan keluar dari ruangan.
"Sial!! Mau di bawa kemana aku." Batin Anindia.
"Karena aku orang baik setidaknya sebelum mbak lenyap dari dunia ini.. aku bakal kasih moment terindah untuk mbak Anindia.." ucap Alisa saat mereka berjalan.
Anindia sampai di sebuah kamar disitu telah tersedia sebuah baju dan beberapa perlengkapan makeup. Alisa memerintahkan anindia untuk mengganti bajunya dan Anindia menurut.
"Apa maksud kamu meminta aku untuk berganti baju seperti ini Alisa?" Tanya Anindia heran.
"Kan sudah aku bilang karena aku orang baik.. aku bakal kasih moment terindah sebelum mbak lenyap dari dunia ini.. ya setidaknya nanti mas Ardi ngeliat mbak terlihat cantik di saat eksekusi berlangsung.. hehehe" ujar Alisa tertawa senang.
"Astagfirullah Alisa.. istighfar.. kemarin mas Ardi yang kesambet setan dan sekarang kamu?" Ujar Anindia geleng-geleng.
Anindia sedikit bergidik ngeri melihat Alisa yang semengerikan ini. Ingin rasanya Anindia kabur namun apalah dayanya Anindia hanya wanita biasa. Memberontak pun hanya akan menghabiskan tenaganya saja. Ia hanya berharap akan datang keajaiban nantinya yang akan membuatnya tertolong dari situasi ini.
Setelah selesai di dandani oleh Alisa sendiri. Mata Anindia ditutup kembali, ia dibawa lagi keluar dari ruangan itu.
Seperti yang Alisa katakan Anindia akan di eksekusi mungkin ia sedang di bawa ke tempat dimana ia akan bertemu suaminya untuk terakhir kalinya.
Sungguh mengerikan jika berurusan dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan seperti mereka. Anindia menerima Ardi yang notabene cowok tajir agar hidupnya kelak akan bahagia dan sentosa malah harus menerima pil pahit seperti ini.
"Ayah, kakak.. maafin Anindia yang gak bisa melihat kalian untuk terakhir kalinya..tolong jangan benci mas Ardi.. mas Ardi gak salah." batin Anindia.
Anindia terus berjalan mengikuti arahan seseorang yang memegang tangannya. Karena seseorang itu akhirnya berhenti Anindia pun juga ikut berhenti.
"Dek.. kamu gapapa dek.." teriak Ardi.
"Mas.. kamu disini? Anak kita baik-baik aja kan.." jawab Anindia dengan mata yang masih tertutup oleh kain.
"Bundaaa hiks.. hikss.. " teriak Arkan sambil menangis.
"Astagfirullah mas.. kenapa kamu bawa Arkan kesini mas.." teriak Anindia frustasi karena suaminya malah membawa putranya.
Tidak ada jawaban sama sekali dari suaminya. Anindia mau tidak mau harus melepaskan ikatan di matanya sendiri.
Jreng..jreng...
"HAPPY BIRTHDAY TO YOU... HAPPY BIRTHDAY TO YOU.. HAPPY BIRTHDAY...HAPPY BIRTHDAY.. HAPPY BIRTHDAY TO YOU..."
Prok..prok..prok..prok...
Nyanyian selamat ulang tahun oleh semua orang yang ada di ruangan itu.
Ardi suaminya, Arkan putranya, Rania putri kecilnya tidak lupa ayah dan juga kakak perempuan Anindia telah berdiri di hadapan Anindia. Bersama-sama menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.
Namun Anindia hanya terdiam memandang mereka, lalu ia menangis tersedu-sedu. Ardi yang melihat itu langsung berlari ke arah Anindia.
"Kok malah nangis sih sayang?" Tanya Ardi sambil memeluk Anindia.
"Gimana gak nangis coba.. mas jahat banget sih sama aku.. pake sandiwara begini segala, aku kan takut kalo ini ternyata beneran.." ucap Anindia dalam tangisannya.
"Heheheh maafin mas ya.. abis kan kamu duluan yang kerjain mas.. jadi mas pengen bales kamu aja..kebetulan ulang tahun kamu uda deket jadi ada kesempatan buat mas ngerjain kamu.." ujar Ardi.
"Ya tapi gak gini juga kali mas.. mas gak tau apa gimana takutnya aku.. aku takut mas.. coba mas yang ada di posisi aku.." Anindia makin mengomel.
"Iya iyaaa.. mas minta maaf yaasayang ya.. jadi gak mau nih maafin mas? Jadi pestanya di bubarin aja gitu?" Tanya Ardi
"Ya jangan lah.. masa uda dibikin pesta nya malah di bubarin kan sayang makanannya mas.." jawab Anindia.
"Nahh yauda jangan nangis lagi nanti makeup kamu luntur loh.." ucap Ardi sambil mengusap pipi Anindia.
Ardi mengajak Anindia untuk bertemu dengan ayah dan kakaknya. Ternyata Ardi menyiapkan pesta kecil ini untuk anindia. Pestanya memang sederhana namun dramanya yang luar biasa.
Anindia langsung memeluk ayahnya karena memang Anindia sangat merindukan ayahnya. Tidak lupa ia memeluk kakak perempuannya juga..
"Ayah kapan sampai kesini? Bukannya ayah takut naik pesawat?" Tanya Anindia sambil memeluk ayahnya.
"Tiga hari yang lalu suami kamu menjemput ayah nak.. demi kamu ayah kesampingkan rasa takut ayah.. hehehe" jawab ayah Anindia
"Makasii ya mas.." ucap Anindia sambil memandang suaminya.
"Iyaaa sayangg.. " jawab Ardi.
"Bundaaaa.. bunda gak mau peluk Arkan.." ucap Arkan yang sedih karena ia tidak di peluk.
"Gak mau bunda marah sama Arkan karna ikut ngerjain bunda.."
"Hiks..hiks.. maafin Arkan bunda.. papa itu yang maksa Arkan.." ucap Arkan sambil menangis tersedu-sedu
"Ehh cup..cup..cup.. bunda bercanda sayang.. jangan nangis ya.. sini bunda peluk.."
Ucap Anindia sambil memeluk hangat putranya itu.
Karena sudah dalam keadaan seperti ini Anindia mengurungkan niatnya untuk meminta kejelasan tentang semua ini. Ia harus mengesampingkan rasa penasarannya agar acara yang telah disiapkan oleh suaminya ini berjalan dengan baik. Maka dari itu Anindia langsung berbaur dengan para tamu meski tamunya hanya keluarga Anindia, keluarga Alisa, sahabat Anindia dan juga keluarga Haikal.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DARI GADIS BIASA [END]
RomanceBukan menjadi satu-satunya yang belum menikah namun Anindia selalu menjadi bahan untuk dipaksa menikah. Selalu di jodoh-jodohkan membuat Anindia muak. Mendadak pak lurah dikampungnya ingin menjodohkan Anindia dengan kerabatnya namun perjodohan kali...
![CINTA DARI GADIS BIASA [END]](https://img.wattpad.com/cover/259735039-64-k553538.jpg)