Zayyan Zainul Muttaqin (21)

3.4K 333 11
                                        

Assalamualaikum Warohmatulloh Wabarokatuh

Alhamdulillah, lama tak sua. Maafkan diriku yang belum bisa istiqomah update.

Semoga kita istiqomah jamaahnya, tilawah Al-Qur'annya , sholawatnya aamiin...

Nanti akan ada revisi dari bab-bab awal, sambil saya mau berterima kasih untuk teman-teman yang sudah visit, read, vote and comment also motivate...thanks...

Alhamdulilah sudah 10k readers ...seneng saya...
Kalau mau saya cepet update silakan ya para readers vote and comment

Sudah dulu curhatnya...

Happy reading

¤¤¤

Bil birri wa taqwa

"Ketika kau akan membantu orang lain jangan pernah berlandas dalil kasihan. Memangnya Allah tidak bisa menolongnya tanpamu? Saling tolong menolonglah kerena Allah."

Aku baru saja mengantar Abah dan Umi masuk ke mobil. Beliau berdua sudah akan perjalanan pulang. Umi sudah berlinang air mata melepasku. Aku ini anak bungsu, tetapi kan sudah dewasa. Untung saja Umi tidak membawa santri dari Lampung. Sekali lagi, aku tidak sedang menyamar. Namun, aku hanya ingin merasakan nyantri tanpa mereka tahu asal usulku. Pengecualian Bashir yang memang temanku.

Bashir lagi, jadi teringat gadis bercelak itu. Mbak bendahara putri. Dari kejauhan aku melihat dua mbak pondok. Kalau aku perhatikan bukannya itu santri baru anaknya bapak tadi ya. Aku berniat menghampirinya.

"Assalamualaikum, Mbak yang tadi santri baru ya, kenapa Mbak?" tanyaku pada mbak santri kecil sambil melirik sekilas ke mbak yang menunduk. Seperti Mbak bendahara, kenapa bisa langsung bertemu.

"Wa'alakum salam, iya Mas, ini kakakku sandalnya putus, nyeker ga mau. Aku mau beliin sebentar ga mau takut ditinggal. Terus ini ada masnya, gimana kak? aku tinggal ini dijagain masnya. Aku nyebrang jalan, ini ada warung, beli sandal lima menit aja." kata santri kecil dengan lancarnya menjelaskan yang membuat mbak bendahara semakin menunduk.

"Jangan!" Aku dan suara mbak bendahara bersamaan.

Hening sejenak. Hanya angin yang mengurai keringatku yang gugup dengan situasi ini. Niat ingin membantu, tetapi, jangan pakai tetapi niat berbuat baik tidak boleh setengah-setengah.

"Maksud saya, begini biar saya saja yang membelikan sandalnya di koperasi, sebentar," kataku berlari pergi meninggalkan dua mbak santri.

"iya jangan lama-lama Mas," teriak santri kecil yang masih bisa kudengar.

Secepat kilat aku sudah di depan koperasi putra. Tanpa memilih warna, model, ataupun ukuran tanganku mengambil sandal swallow di depan etalase. Aku bergegas membayar di kasir. Setelahnya lagi, aku berlari untuk menghampiri dua santri putri tadi yang sudah mulai berjalan.

"Maaf Mbak, ini sandalnya," kataku dengan suara ala kadar karena napas memburu. Jadi teringat kenapa ketika akan salat dan menjadi makmum masbuk tidak boleh berlari langsung takbir. Tunggu sampai napas kembali normal agar saat salat tidak dengan napas terengah akibat berlari.

Perlahan santri kecil itu berbalik, "Makasih Mas , eh Kang ya manggilnya Kak? Sebentar ini harganya berapa, Kang? Uangku adanya lima puluh ribu. Ada kembaliannnya tidak? Kalau tidak ada gimana ya? belum tentu bisa ketemu kangnya lagi?" Aku dibuat diam lagi. Santri kecil ini rupanya sangat ceriwis. Apa dia bilang ketemu lagi? Rasanya aku ingin segera mengakhiri perbincangan takut ada fitnah. Niatnya membantu takut berakhir takziran.

Aku masih memperhatikan mba bendahara yang tidak berbalik, kondisi kakinya masih nyeker. Tidak boleh bilang kasihan.

"Sudah dibawa saja," jawabku.

"Baik sekali, boleh tau nama kangnya siapa?" tanya santri kecil lagi. Aku kaget. Baru kali ini diajak berkenalan dengan anak kecil lulusan sd.

"Saya Zayan, maaf saya sibuk, Assalamualaikum," jawabku dan langsung menuju kamar pengurus.

Sore ini aku masih punya waktu luang. Aku ingin mandi dulu karena rasanya badanku panas dingin. Ini mungkim efek bertemu dengan mba bendahara. Tadi sebelum Abah pulang dan menginjak gas mobil, beliau menasehatiku lagi.

"Gus, kalau sudah yakin bilang Abah, Abah tidak mau kamu terus-terusan zina hati, tidak hanya hati, nanti merambat ke mata, lalu....ah Abah ingin Gus bersikap tegas dengan diri sendiri. Gus sudah dewasa. Gus bukannya belum bertemu atau belum mencari. Jodoh itu layaknya rizki dari Allah. Bukan ditunggu atau dicari. Jodoh itu ya ikhtiar dan doa. Ikhtiarnya ya dengan pedekate dengan Allah sang pemberi cinta. Berdoalah dengan mengemis cinta kepada Allah. Bukan mengemis cinta kepada sesama makhluknya. Hati itu kan bahasa arabnya qolbun artinya terbolak-balik. Jadi ketika hati kecilmu sudah yakin mbak siapa itu ehm..ya pokoknya telpon Abah. Mbok yo, hpmu digunakan. Kok, sama sekali gak pernah menghubungi Abahmu. Umi terus yang di telpon."

Tadi niatku menolong bukan karena itu mbak bendahara kan. Lagipula awalnya aku juga tidak tahu kalau itu adalah Mbak Niya. Aku meraba pemikiran dan hatiku yang berselisih. Apa yang salah denganku? Mengapa hati kecilku berkata sesuatu yang belum aku percaya. Aku butuh mandi dan keramas. Kepalaku pusing. Nanti malam ada perlombaan qiroatul kitab bulughul marom.

Jangan lupa vote and comment

Salam manis dari santri lampung.

Sampean Gus?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang