Bismillahhir rohmanir rohim
Jangan tinggal sholat jamaah dan tilawah al-Qur'an..
Asmaul husna dan burdah juga di baca ya teman...
Vote bintang pojok dan saran yang mendukung ditunggu....
¤¤¤¤¤
Warung Ibu Wasilah
"Lapar ya makan. Kebutuhan makan itu tidak hanya pada perut. Otak dan hati pun butuh makan. Perutku sudah terisi makanan. Namun, otak dan hatiku masih kebingungan. Otakku terpaksa menelan bab nikah, sedangkan hatiku mendadak gelisah karena masalah jodoh."
Sepekan berlalu sejak aku membantu khitbah Mbak Roihana untuk kepala pondok ini, Ustad Bashir terlihat begitu bahagia. Aku sering melihatnya tersenyum. Bahkan sikap garangnya di pondok sedikit berkurang. Ahad sore setelah pulang dari makam masyayikh aku sengaja mengajaknya makan di warung belakang pondok.
"Bashir bagaimana untuk persiapan pernikahanmu dengan Mbak Roihana itu?" tanyaku sambil mengambil gorengan di hadapanku.
"Alhamdulilah Gus, sebulan lagi acaranya sederhana saja di masjid pondok dan nanti ke rumahnya Mbak Roihana dekat sini ternyata Gus," katanya sambil menerima piring berisi nasi dan lauk-pauk.
"Begitu, alhamdulillah lebih cepat lebih baik kata Abah Afnan juga," kataku menyeduh teh hangat.
"Iya Gus, ini juga saya terima kasih sama Gus sudah membantu saya, ngomong-ngomong Gusnya kapan ini mau khitbah calonnya, mbak pondoknya sendiri atau mbak pondok yang ada disini gus?" tanya Bashir malah menggodaku.
"Saya belum bertemu jodohku Bashir, " jawabku santai.
"Lha mbak yang di sampingnya Mbak Hana itu Gus," kata Bashir masih senyum menggodaku.
"Mbak yang mana, aku ga kenal Bashir," suaraku masih santai walau jadi teringat gadis bercelak itu.
"Masak Guse ga kenal mbak itu, kemarin pas di ndalem saya liat Guse sering melirik mbak itu? Saya sedikit paham soalnya kayaknya mbak itu pengurus , sebentar namanya kalau tidak salah Mbak Niya gitu," katanya menjelaskan sambil mencuci tangan.
"Aku hanya tau kalau mbak itu ngaji denganku setiap hari senin," kataku yang membayar makanan kepada Ibu Wasilah pemilik warung ini.
Bashir yang mendengar penjelasanku terkejut dan langsung ikut berdiri menyamakan langkahku.
Aku sebenarnya jadi linglung. Bashir ini sudah menjadi alarm untukku tentang masalah nikah dan jodoh. Padahal aku sengaja mengulur waktu di pondok ini agar terhindar dari dua hal itu. Abah dan Umi tidak pernah absen menanyakan kepulanganku saat di telepon. Pertanyaan itu pun pasti bersambung dengan kapan nikah Gus?Apakah di sana tidak bertemu jodohnya Gus? Masih banyak pertanyaan serupa. Perutku kenyang, tetapi otak dan hatiku gersang. Aku harus salat, mutolaah kitab atau semacamnya untuk menjernihkan keadaan otak dan hatiku.
¤¤¤
"Bu, nasi lodeh tiga, " suara perempuan menyadarkanku. Aku kali ini menyendiri di warung Bu Wasilah. Sebab, hari senin semua orang sibuk sekolah. Pengurus lain, entah, aku memang biasa menyendiri, bila Bashir tidak mengikutiku terus.
"Lauknya apa cah ayu? " aku mendengar suara Bu Wasiilah semakin penasaran. Rasanya aku ingin berbalik badan melihat siapa perempuan yang pagi-pagi begini keluar pondok.
"Telur dadar tiga, gorengannya, berapa ya, " ucapnya ragu seperti sedang diskusi dengan kawannya.
"gorengannya banyakin aja, biar tukangnya sekalian ngemil." suara kawannya mendominasi.
"iya Bu, gorengannya campur sepuluh ribu, "putusnya.
Hening beberapa saat, Ibu Wasilah pasti masih sibuk melayani pesanan mereka.
"loh, kok nasinya ada lima?" suara kawannya yang terdengar lebih cempreng.
"iya, cah ayu, buat kalian berdua, belum sarapan to? "
"boten usah, " aku mengeryit mendengar tolakan halus salah satu mba itu.
"Alhamdulillah, terima kasih Bu, rizqi gk boleh ditolak, nyaa, " suara cempreng itu lagi yang mengalahkan mbak satunya.
Setelah itu, suara dan langkah kaki mereka menghilang. Aku perlahan memutar badan. Sarapanku juga sudah habis.
"Butuh nopo maleh Ust, " tanya Ibu Wasilah membuatku salah tingkah.
"ehem... " aku berdehem sambil berpikir.
"unjuane biasa geh, teh anget? " lanjut Bu Wasilah yang membuatku hanya mengangguk pelan.
Rasa penasaranku kali ini tak terbendung. Namun, mau menanyakan mbak-mbak sarungan tadi juga sangat sungkan.
"Pondok masih pembangunan lagi ya, Ust, " kata Bu Wasilah sambil membungkus nasi pesanan.
"Iya, Bu, tetapi tahun ini bagian pondok perempuan. "kataku sambil menyeduh teh perlahan. Warungnya Bu Wasilah ini langganan santri, karena rasanya pas, harganya pas dan kadang ada bonus. Maka dari itu santri juga sungkan mau bon disini. Ingat pepatah, "Nagasaki dan Hiroshima hancur karena bom, Warung bisa hancur karena bon. " hehe itu kata Bashir sering mengingatkan anak-anak santri yang boros di pondok.
"Alhamdulillah, santrinya banyak ya Ust? " tanya Bu Wasilah. Kami tidak hanya berdua. Ada beberapa santri putra kelas tiga yang sudah absen kelas, izin sarapan. Memang santri itu ada-ada saja. Apa buktinya, mereka gak bolos? Ada, tangan mereka ada cap izin dari gurunya. Aku melihatnya sendiri. Lagipula, walaupun Bu Wasilah sudah memasuki usia senja bukankah lebih baik kita tetap tidak berduaan dengan namanya lawan jenis?
"Setahu saya kalau santri lama putra ada sekitar empat ratusan, kalau santri putri ataupun santri baru kurang paham, Bu, "jawabku sambil membenarkan sarung.
"Alhamdulillah jaman sekarang orang sudah mulai sadar akan pentingnya masuk ke pesantren. Tadi itu Gus, Mbak-mbak ndalem kalau pagi lauk khusus ndalem belum matengan pasti kesini ya, " curhatnya.
Setahuku, memang pagi itu tidak ada kos makan. Sedangkan di pondok hanya ada nasi kucing seribu lima ratusan yang kalau makan dua jam kemudian bikin kelaparan lagi. Apa kabar untuk para tukang? Seingetku Nabi pernah berkata, "Berilah upah kepada pekerjamu sebelum keringatnya mengering. " keluarga ndalem selalu mengupayakan memberi makan para tukang itu tiga kali makan pokok dan dua kali jajan atau pacitan.
Berbicara tentang mbak santri, jadi tadi itu mbak ndalem yang berani kesini. Kenapa aku ingin bertemu dengan salah satu santrinya Abah Afnan lagi, setelah ini kan ngaji di putri. Astagfirullah, niat bismillah,
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Aku bergegas berdiri. Aku pamit, sambil membayar uang makan beserta para santri kelas tiga. Mereka mengucapkan terima kasih sambil berebut mencium tanganku, tetapi aku menariknya perlahan.
Ada hal yang harus aku kejar,bukan mbak tadi. Aku ini ada urusan lain di pondok. Panggilan alam, membuatku berjalan setengah berlari.
Jangan lupa tinggalkan jejak voment
KAMU SEDANG MEMBACA
Sampean Gus?
SpiritualSemenjak membantu temanku mengkhitbah calonnya yaitu santri pamanku, aku sedikit memperhatikan gadis bercelak yang mengantarkan unjuan di ruang tamu ndalem itu. Zayyan Zainul Muttaqin Tahun keduaku mengabdi di ndalem ini sedikit berbeda karena sahab...
