Assalamualaikum Warohmatulloh Wabarokatuh
Bismillahirrohmanirrohim
Jangan tinggal sholat jamaah dan tilawah qur'an
Asmaul husna dan burdah juga di baca teman-teman.....
Doain saya, sedang melamar naskah ini di penerbit..... Saya repost lagi. Kalau masih ada yg kangen....
Jangan lupa yg belum vote bintang pojok ... dan koment mendukung...
¤¤¤¤
Cara-Nya Mencipta Bahagia
"Bahagia itu seperti abstrak. Ukurannya menjadi relatif. Begitupun cara Allah menciptakan percik kebahagian abstrak di hatimu tak bisa disamakan antar satu dan lainnya."
Siang ini aku dan Bashir baru saja ke belakang pondok dengan menggeret gerobak sampah. Tempat pembungan sampah pondok berada di belakang pondok putri dekat sumur. Aku merasa heran melihat Bashir tersenyum melihat ada dua mba pondok yang sedang mencuci baju dengan lima ember besar.
"Bashir apa yang kau lihat? apakah itu halal?" tanyaku sambil masih membuang sampah.
"Astaghfirullohaladhim bukan apa-apa, Gus," katanya salah tingkah membantuku menurunkan gerobak.
"Bashir, apa kamu mengenal mba itu?" tanyaku santai sambil mengajaknya duduk di gardu.
"Ehm..itu ..." Bashir kelihatan bingung menjawab pertanyaanku.
"Sudahlah jujur saja, tenang, " kataku dengan senyum untuk meredakan gugupnya.
"Mba ndalem Gus, Mba yang kerudung biru sepengetahuan saya khidmah mencuci pakaian keluarga ndalem. Saya juga tidak paham, hanya pernah melihatnya sekali saat haflah khotmil Al-Quran dua tahun yang lalu," jawabnya sambil menggaruk rambutnya.
"Oh begitu..." Aku terdiam sambil berpikir. Bashir masih sibuk membuang sampah yang ada di hadapannya.
Bashir adalah laki-laki dewasa yang sudah siap untuk menikah. Bashir juga berilmu, dan bertanggungjawab.
Alangkah lebih baik bila disegerakan membangun keluarga. Selama ini kulihat dia terlalu serius memegang pondok ini.
"Bashir, tolong salamkan ibumu besok senin ke pondok. Aku akan matur ke abah Afnan kalau Ustadz Bashir sudah siap jadi imam." kataku sambil mengedipkan mata membuatnya semakin gelagapan.
"Ya Allah Gus ....bagaiamana ini, Gus serius mau membantu saya?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Aku kaget melihat ketua pondok yang biasa terlihat garang jadi seperti ini. Ada kebahagian di wajahnya yang belum pernah dilihat siapapun. Bahagia memang tidak bisa diukur, tetapi bisa dirasakan pemilik kebahagian tersebut.
"Aku serius, bila kamu juga sudah mantap. Aku ingin kamu melihat yang halal bagimu," kataku sambil mulai berjalan membawa gerobak sampah dan Bashir ikut berdiri.
"InsyaAllah Gus, saya akan kabari ibu nanti," katanya sambil mengelap keringatnya di kening.
Perjalanan dari piket buang sampah tiap ahad bagi pengurus kali ini membuatku mengingat bahwa sunnah Nabi yang satu itu menikah belum aku kerjakan malah belum terpikirkan.
Selama ini aku hanya fokus menuntut ilmu dan bersiap meneruskan perjuangan Abahku di rumah. Setelah sampai aula pondok putra aku berbaring dan mulai terlelap karena lelah.
¤¤¤¤¤
Jedukkk....
Aku terbangun. Rasanya aku mimpi terjatuh. Namun, ketika mata melihat sekeliling aku tetap pada posisiku. Hanya saja aula putra tampak ramai.
Kulihat dari kejauhan ada beberapa pengurus membuat kelompok. Mereka saling menglilingi, membuat bentuk lingkaran.
Aku mendekati salah satu lingkaran santri itu. Ternyata mereka sedang praktek mensucikan najis.
"Apa itu najis?" suara Bashir mendominasi aula.
Hening menghiasi suasana santri.
Kemudian, Bashir mengambil segenggam pasir di dekat teras aula.
"Apa hukum pasir ini? "
Masih saja santri saling memandang kawannya, berharap ada yang menjawab.
"Oke, kalau kalian masih bingung, saya tanya yang lain. barusan ini kita sudah belajar membersihkan dan mensucikan najis apa? "
"Najis mutawasitoh," kompak mereka menjawab.
Kesadaranku mulai penuh. Aku melirik jam sudah menunjukkan pukul setengah dua. Pantas saja diniyah siang sudah aktif.
MasyaAllah nikmatnya tidur. Berkah semalam aku menjaga masjid pesantren. Penyakit insomnia itu obatnya kata Umi, ngaji atau I'tikaf di masjid.
Aku berjalan menyusuri kamar mandi dan menunaikan wudu di tempat khusus wudu.
Tak selang berapa lama aku menunaikan salat empat rakaat wajib dan dua rakaat sunnah rawatib di kamar pengurus. Sendiri saja.
Kulihat kos makan siang masih tersisa untuk tiga orang. Aku mulai menyuapkan nasi, tempe dan sayur tumis.
"Dani, ih jangan dorong-dorong, nanti aku kena najis, " suara santri anak kelas dua yang baru naik kelas. Aku melihat dari pintu kamar yang terbuka.
"Najis, mana najis? " kata Rafa santai. Mereka memang berjalan beriringan di atas batu ancik ancik dari aula menuju kantin pondok untuk istirahat.
"La ini, pasirnya, " jawab Dani tak mau kalah.
"Sampean gimana to, gk ndengerin Ustad Bashir tadi, " kata Rafa meninggalkan Dani seorang diri yang masih cemberut.
"Dani, kotor itu belum tentu najis. Bersih juga belum tentu suci. Pasir kering itu bumi Allah hukumnya suci. Walaupun terlihat kotor. Mendingan kamu belajar mencuci baju sendiri. Walaupun baju kamu terlihat bersih dan wangi, takutnya belum suci lo. " Ari anak kelas tiga yang paling kecil menggodanya lalu berlari pergi.
Yah, aku mengenal Dani itu memang anak orang kaya. Kalau kata orang tuanya masih untung dia mau belajar di pesantren, walaupun masih manja, pasti laundry baju. Namun, anaknya termasuk penurut. Jadi, kadang temannya sedikit memberikan pelajaran seperti itu. Aku hanya tersenyum melihat pemandangan yang indah ini.
Ternyata bahagia itu sederhana, melihat orang tua tersenyum lega di rumah, sedang anak belajar di pesantren yang setiap waktu mentransfer pahala kepada orang tuanya
Jangan lupa tinggalkan jejak voment. Kalau ingin aku cepat republish, hehe
KAMU SEDANG MEMBACA
Sampean Gus?
SpiritualSemenjak membantu temanku mengkhitbah calonnya yaitu santri pamanku, aku sedikit memperhatikan gadis bercelak yang mengantarkan unjuan di ruang tamu ndalem itu. Zayyan Zainul Muttaqin Tahun keduaku mengabdi di ndalem ini sedikit berbeda karena sahab...
