Bismillahirrohmanirrohim
Jangan tinggal sholat jamaah dan tilawah Qur'an...
Asmaul husna dan burdahnya juga dibaca ya teman...
Vote bintang di pojok dan comment yang membangun di tunggu...
¤¤¤¤
Darul Ilmi Wal Amal
"Ilmu itu yang diamalkan. Pondok Pesantren DAWI adalah rumah keduaku.
Di sini aku belajar mengaji dan mengamalkan."
Aku Zain anak kedua setelah kembaranku lahir lebih dulu lima menit. Namanya Kak Zainab Zayyinatus Syifa. Aku Zain anak dari pasangan suami istri yang menjadi penerus Pondok Pesantren Ar-Rohman. Orang menyebutku keturunan priyai.
Aku Zain, saat ini belajar mengabdi di Pondok pamanku yaitu Pondok Pesantren Darul Ilmi wal Amal yang terkenal DAWI. Aku mulai membantu menjadi mualim di pondok ini kurang lebih tiga tahun. Aku sekamar dengan ketua pondok yaitu Bashir. Kami kenal pertama kali saat di Ma'had Ali dan mulai akrab setelah aku datang ke sini diminta pamanku sementara tinggal di pondok ini. Sepupuku Daffa, masih mondok dan Paman atau Abah Afnan butuh mualim.
Aku jadi teringat percakapan Abah dan umi setahun yang lalu saat pulang ke rumah Hari Raya Idul Fitri.
"Zain kamu kan sudah selesai di Ma'had Ali, kapan mau mulai bantu Abah di rumah ini, malah bantu di rumah Afnan (adiknya Abah)? Kamu tahu kakakmu Ning Zainab sudah menikah dan diboyong suaminya ke Pondok di Boyolali.Jadi Abah di rumah sepi," kata Abah sambil menyesap kopi buatan Umi.
"Iya Zain, umurmu juga sudah 25 tahun, kamu sudah punya calon belum? Atau mau Abah dan Umi yang carikan seperti kakakmu Ning Zainab." Umi menambahkan sambil memijat pundak Abah, terlihat romantis sekali.
"Iya, Abah dan Umi, setahun lagi Zain pulang ke rumah setelah menyelesaikan tugas ngajar di sana," kataku sambil menyalami Abah dan Umi, kemudian berjalan ke kamarku.
Ada dua amanah dari kedua orang tuaku. Pertama , tentu meneruskan perjuangan menghidupkan agama Islam di rumah.
Abah sudah mengajar dan mendidikku sejauh ini. Aku mengerti posisiku. Sejak kecil aku sudah mengikuti banyak pengajian baik dengan Abah langsung maupun mengaji dengan Paman atau bahkan ikut ke pesantren temannya Abah.
Kedua, Umi memang sudah mengingatkan berulangkali tentang sunah Rasul yang belum aku jalankan.
Sebenarnya aku memang belum memikirkan itu. Selama ini, aku masih merasa haus akan ilmu dan perlu lebih banyak belajar bagaimana mengelola pesantren. Namun, bukan berarti aku menyepelekan perintah Umi.
Aku juga berdoa semoga dipertemukan dengan jodoh yang bisa membersamaiku meneruskan pesantren yang dirintis Abah dan Umi. Aamiin.
¤¤¤
Berdasar hasil rapat dari pengurus dan mualim tahun ini aku mulai ikut mengajar Ushul fiqih untuk pengurus dan mba khuffadz. Awalnya aku menolak, karena biasanya diisi oleh Abah Afnan sendiri atau Ustadz alumni pondok yang masih bantu mengajar di pondok.
Aku belum pernah mengajar di pondok putri karena biasanya aku bisa menolak dengan berbagai alasan. Tetapi mungkin tahun terakhirku disini memang mengharuskan aku mengajar santri putri yang bahkan sudah pengurus.
Mengajar kelas yang isinya lawan jenis semua, membuatku memang harus lebih berhati-hati. Seorang guru yang memasuki kelas bukan hanya memindahkan ilmu kepada muridnya.
Aku juga belajar mendidik pandanganku dan hatiku agar tetap terjaga. Istilah cinta dari mata turun kehati lima puluh persen menurutku ada benarnya, walupun bukan arti cinta yang sesungguhnya.
Aku tidak boleh membiarkan setan ikut berkolaborasi dalam menentukan siapa jodohku. Bila itu terjadi zina pikiran dan hati akan sulit dicegah.
"Gus, mau ke pondok putri ya? " Bashir memecah lamunanku.
"Iya, kenapa? " tanyaku balik. Aku masih bersiap -siap setelah mandi pagi.
"Gus, saya sudah mengabari orang tua. InsyaAllah nanti siang datang. " akunya malu-malu.
Aku tersenyum sekaligus teringat dengan janjiku tempo hari.
"Oh, iya Bashir. Saya berangkat ngaji dulu. " pamitku sambil menepuk pundaknya. Membuatnya lebih salah tingkah.
Langkahku perlahan menjadi lebih berat. Pikiran bercabang. Bismillah ketika sampai di gerbang putri. Dari jauh aku melihat pengurus putri sudah mengisi aula.
¤¤¤¤
Pagi ini adalah pengajian ke lima di aula putri. Aku sudah mulai terbiasa mengaji dan menjelaskan dengan pandangan seperlunya dan selalu menunduk bila tidak ada hajat. Namun, tetap saja beberapa santri putri ini seperti melihatku terus-menerus dan saling berbisik. Bahkan diantara mereka ada yang berani bertanya sembari menggodaku. Aku akui mereka mungkin hanya mengenalku sebagai Ustadz biasa disini. Jadi mereka tidak sungkan bertingkah seperti itu. Aku menyembunyikan status Gus disini. Hanya Abah afnan dan Bashir tentunya yang tahu. Aku pun tidak merasa harus marah atas perbuatan mereka, seperti buang energi.
Teringat percakapanku semalam bersama Bashir di aula putra.
"Jadi, siapa nama calonmu Kang?" tanyaku sambil membuka kitab untuk pengajian besok pagi.
"Mba Hana, Gus," katanya pelan dengan wajah memerah. Lucu. Aku sampai menahan tawa.
"Nama lengkapnya? Masak belum hafal, Kang?" godaku. Kapan lagi bisa menggoda ketua pondok ini.
"Roihana, Gus, emm, maaf Gus, saya mau ke kamar dulu," jawabnya dan langsung pamit ke kamar. Setelah Bashir pergi aku masih tersenyum sendiri melihat kitabku yang masih bersih. Guruku memang tidak memperbolehkan maknani kitab, jadi aku mempunya buku tulis khusus untuk makna kitab tersebut.
Aku melamun. memikirkan bagaimana nanti siang aku matur dengan Abah Afnan mengenai Bashir yang mengkhitbah santri ndalem. Tak terasa pulpenku terjatuh ke bawah, tepat di depan santri putri yang kalau aku perhatikan hanya dia yang paling sering menunduk. Aku bingung mau mengambil pulpennya, tetapi posisinya sangat dekat dengan mba itu, yang tidak aku kenal juga namanya. Namun, teman samping mba itu seperti berbisik-bisik dan akhirnya mba itu mengambilkan pulpenku. Aku sedikit melirik wajah mba itu saat tangannya meletakkan pulpen hi techku. Matanya memakai celak cantik, astaghfirullohal adzim. Aku langsung mengalihkan dengan membaca lagi penjelasan kitab diikuti oleh beberapa santri yang bertanya. Setelah selesai menjawab pertanyaan, aku mengakhiri pengajian dengan doa bersama bertepatan dengan bel pondok berbunyi. Lalu aku beranjak pulang.
Jangan lupa tinggalkan jejak voment
KAMU SEDANG MEMBACA
Sampean Gus?
روحانياتSemenjak membantu temanku mengkhitbah calonnya yaitu santri pamanku, aku sedikit memperhatikan gadis bercelak yang mengantarkan unjuan di ruang tamu ndalem itu. Zayyan Zainul Muttaqin Tahun keduaku mengabdi di ndalem ini sedikit berbeda karena sahab...
