Assalamualaikum....
Semoga readers istiqomah jamaah , tilawah dan solawat Nabi...aamiin
Sebenarnya saya mau update dari kemarin tetapi (gkdakuota) hehe...jadi baru bisa....
Monggo readers yang belum follow akun saya, dan masukan cerita ini ke library kalian....silakan
Jangan sungkan juga buat vote and comment ya...
Ada yang nungguin guse kan....
Happy Reading
¤¤¤
Malam Seribu Bulan
"Saat gelapnya langit tak berhias bintang, belum tentu bulan juga menghilang. Saat malam tak menggelar sajadah di musola, kuletakkan sajadah malam ini untuk sang kekasih hati surga dunia."
"Dek, belum tidur?" tanyaku setelah selesai bermain ponsel ria.
Bukan sebenarnya aku hanya menscroll layar ponsel di ruang tengah , dari aplikasi A ke B dan seterusnya. Aku sampai membaca kitab digital sanusiyah hampir khatam. Tenang bukan qurrotul uyun atau fathul izar, untuk kitab itu tenang insyaAlllah aku sudah khatam.
Ini semua kulakukan karena saat mengintip kamar, kulihat istriku ini dari tadi seperti masih sibuk menekuni bukunya di balik meja belajarnya. Entah apa yang sedang dia lakukan. Aku yang sejak pulang dari masjid jam sepuluh malam pun tak tahu harus memulai percakapan apa. Berakhir mutolaah kitab memanfaatkan waktu.
"Sudah Ust," jawabnya gelagapan. Dia bergegas menata buku dan meja belajarnya.
"Ustad butuh apa? Mau teh atau susu sebelum tidur?" tanyanya menunduk masih dalam posisi kami yang berjarak lima langkah mungkin.
"Tidak, " kataku bingung. Aku memang tidak biasa seperti itu.
"Mungkin air jahe ya , Ust," tanyanya lagi yang membuatku berpikir boleh juga.
"Iya," kataku. Dan dia bergegas meninggalkanku sendirian di kamar.
Aku jadi berpikir ulang, sejak jam sepuluh tadi kuurungkan untuk masuk kamar. Dan sekarang setelah masuk istriku malah pergi. Ah, lucu.
¤¤¤
"Ust, ini air jahenya," katanya sambil memberiku secangkir air jahe dan ditemani roti maryam. Wah, ini roti kesukaanku.
"Terima kasih, Dek," tuturku tulus sambil menikmati air jahe buatannya yang membuatku tersenyum.
"Dek, "
"Dalem ,Ust,"
"Enak, Dek,"
"Air jahenya atau rotinya , Ust?"
"Keduanya , Dek,"
"Dek,"
"Dalem,"
"Apa adek belum mengantuk?"
"Sudah, Ust,"
"Masih punya wudu?"
"Masih, Ust,"
"Mari kita salat,"
"Iya, Ust, saya siap-siap dulu," katanya meninggalkanku untuk mengenakan mukenanya.
Aku kembali mengimami salat. Salat kali ini adalah hal yang sunnah. Aku mengakhiri rangakaian ibadah badaniyah ini dengan doa. Lagi aku terenyuh mendengarnya mengamini setiap bait doaku. Aku memberanikan diri berbalik untuk menghadap wanitaku. Bergegas dia mencium tanganku, aku pun tak tinggal diam. Aku memegang kepalanya yang masih berbalut mukena dan mencium pucuk kepalanya sekitar lima menit.
"Dek, mari," kataku ambigu. Dia menatapku sekilas. Dengan lucu matanya mengerjap bingung. Namun, di detik selanjutnya dia segera melepas mukenanya. Aku pun mengganti pakain salatku dengan kaus putih dan sarung untuk tidur. Dan tanpa bisa kucegah, mataku tak berkedip ketika melihatnya kembali membuka jilbabnya. Rambutnya terurai. Dia masih menggunakan kaos panjang dengan sarung ala pesantren tadi.
Aku mendekatinya. Dia sedang sibuk membersihkan kasur dengan sapu lidi. Serta mulutnya yang sibuk berkomat-kamit membaca bacaan doa, mungkin. Memang adatnya seperti itu untuk mengusir setan yang ada di kasur.
"Dek," panggilku dengan jarak yang sangat tipis.
"Dalem, Ust, Astaghfirulloh," tangannya spontan menutup mulutnya yang menganga. Hampir saja bibir kami saling menyentuh. Seketika kami saling menjauhkan diri. Dia pura-pura sibuk mengembalikan sapu lidi di sudut kamar. Sedangkan aku kembali meneguk air jahe buatannya. Tak selang berapa lama, kudengar istriku sudah menguap.
"Ust, sudah siap," perkataannya terdengar ambigu di telingaku, atau cara berpikirku yang sudah kemana-mana. Entahlah. Kami kembali mendekati kasurnya yang berukuran sedang, tidak kecil , tidak juga besar. Cukup. Iya, untuk kami kasur ini pas. Bahkan tak ada jarak lagi yang bisa kami buat barang sedikit untuk bergeser atau pilihannya akan terjatuh ke lantai.
Awalnya kami saling menatap langit-langit kamar. Warnanya putih polos tak ada motif barang sekecil pun, hanya ada beberapa cicak yang seperti sedang memergoki aku dan dirinya berduaan di kamar ini. Suara cicak saling bersahutan lalu menghilang. Kemudian aku mencoba menghadap ke istriku. Dia yang salah tingkah ikut menghadapku dengan menunduk.
"Bismillahirrohmanirrohim, ..." kuucapkan doa-doa sebelum memulai ibadah panjang di atas sajadahku malam ini. Dengan menyebut nama Allah sang pemilik cinta, malam ini aku ingin menikmati surga yang Allah berikan melalui istri manisku. Dia tidak menolak. Wajahnya memerah dan tentu saja lagi tangannya berkeringat. Dengan tangan dinginku tetap kuberanikan diri memberikan nafkah batin untuknya. Alhamdulillah, ku rasa malam terindah layaknya seribu bulan tak hanya ada di bulan ramadhan.
Aahhh....deg degan juga saya nulis part ini. Semoga suka ya...
Komen dong, gimana akwardnya guse dan mbanya....
Jangan lupa tinggalkan jejak vote dan comment.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sampean Gus?
SpiritualSemenjak membantu temanku mengkhitbah calonnya yaitu santri pamanku, aku sedikit memperhatikan gadis bercelak yang mengantarkan unjuan di ruang tamu ndalem itu. Zayyan Zainul Muttaqin Tahun keduaku mengabdi di ndalem ini sedikit berbeda karena sahab...
