Bismillahirrohmanirrohim
Jangan tinggal sholat jamaah dna tilawah al-Qur'an ya..
Asmaul husna dan burdah juga dibaca teman...
Vote bintang pojok dan saran yang membangun ditunggu..
¤¤¤¤
Pengajian Senin
"Mengaji itu bukan tentang memahami materi kajian karena kecerdasan. Mengaji itu adalah merendahkan diri, menelaah setiap ilmu yang datang untuk diamalkan. Mengaji itu kuncinya hanya satu yaitu istiqomah."
Sejak sore kemarin pembahasanku dengan Bashir, aku merasa berdosa karena mengingat gadis bercelak itu. Sudah beberapa kali terbayang wajahnya saat mutolaah kitab. Pagi ini adalah jadwalku masuk aula putri. Alarm di hati dan pikiranku menjadi was-was.
Aku mengucap salam dan mulai duduk di kursi seperti biasa. Namun, kulihat hari ini sedikit sekali yang mengaji. Sebenarnya dalam hati aku bertanya-tanya. Aku masih bersikap santai dan berusaha tidak mempermasalahkan kenapa yang mbak santri yang mengaji hanya sedikit.
Dulu ketika aku mengaji bersama kyaiku di pondok sebelumnya. Pondoknya dekat rumahku di Lampung. Santri yang mengaji hanya ada dua orang yaitu aku dan Saiful teman sekelas diniyah. Kyaiku tidak marah dan tetap mengaji seperti biasa. Aku berusaha meneladani cara kyaiku mengemban amanah sekaligus medidik santri dengan teladan bukan hanya materi pelajaran.
"Assalamualaikum, Dek Zain? " suara kakakku yang cantik.
"Waalaikum salam warohnatulloh wabarokatuh. " jawabku pelan.
"Bagaimana kabarnya? Sudah ketemu habibi qolibi atau mar'ah ajnabi, sampean? "
"Kakak, ini telpon harusnya tanya keadaan adeknya sehat gk? " jawabku mengalihkan.
"Alhamdulillah sehat, " jawab Kak Zainab.
"Alhamdulillah, " aku juga bingung. Siapa yang ditanya, siapa yang menjawab.
"Gimana? Kakak cariin aja apa ya? Sampean ini laki, gak mau usaha, ikhtiar, Dek, "
"udah usaha," jawabku pelan. Aku memang diam-diam mengamalkan selawat agar ketemu jodohku, tetapi itu rahasia.
"ikhtiar itu action, bergerak gitu lo dek. Siapa santri yang langsung diistikhoroh, yaqin langsung khitbah. " suara Kak Zainab.
"Enggih, Kak, aku mau ngaji dulu, Assalamualaikum, " aku langsung menutup ponsel meletakkan di lemari lagi. Menikah itu artinya aku harus meneruskan perjuangn Abah di Lampung, tetapi nanti dulu Ya Allah. Aku masih betah hanya mengabdi di tempat paman. Berat rasa mengisi tempat ngajinya Abah di rumah.
¤¤¤¤
Aku mengucap salam dan mulai duduk di kursi seperti biasa. Namun, kulihat hari ini sedikit sekali yang mengaji. Sebenarnya dalam hati aku bertanya-tanya. Aku masih bersikap santai dan berusaha tidak mempermasalahkan kenapa yang mbak santri yang mengaji hanya sedikit.
Dulu ketika aku mengaji bersama kyaiku di pondok sebelumnya. Pondoknya dekat rumahku di Lampung. Santri yang mengaji hanya ada dua orang yaitu aku dan Saiful teman sekelas diniyah. Kyaiku tidak marah dan tetap mengaji seperti biasa. Aku berusaha meneladani cara kyaiku mengemban amanah sekaligus medidik santri dengan teladan bukan hanya materi pelajaran.
"Mengaji itu untuk membersihkan hati. Ketika kita mengaji, mata hati kita akan mulai terbuka. Maaf sekilas pengingat untuk kita bersama. Adakalanya mengaji memang tidak menjadikan seorang langsung menjadi 'alim. Namun bisa jadi seorang itu beradab, berakhlaq, bahkan aris. Ini sedikit motivasi untuk mbak-mbak yang mengaji hari ini. " kataku yang malah mendapat ciye dari pengurus putri. padahal nasihat itu sepeti untuk diriku sendiri. Aku melanjutkan memulai pengajian. "Bismillah, rodhitu billah wabil islami dina, wabimuhammadin nabiya wabirosula, robbi zidni 'ilma warzuqni fahma aamiin ya robbal 'alamin....hadoroh.....
Ditengah pengajian, saat aku sedang menjelaskan materi, ada salah satu santri putri yang tertidur. Aku tidak marah. Tertidur saat mengaji pun sudah dapat pahala. Mbaknya sudah niat ikut mengaji pun sudah dapat pahala. Aku tetap membiarkannya selama beberapa menit.
Tiba-tiba mbak itu badannya terhuyung ke depan karena posisi tidurnya duduk. Sebagai santri tidak dapat dipungkiri bahwa posisi duduk pun bisa tidur. Mungkin karena duduknya kurang seimbang jadi tidurnya sedikit oleng.
Aku yang lumayan kaget melihatnya sekilas. Deg, ternyata mbak pondok yang tidur itu gadis bercelak. Temannya membangunkannya. Dia seperti menatapku yang membuatku langsung menunduk. Diam-diam aku menahan tawa yang yang ingin meledak karena tingkah lucunya. Aku tidak mungkin tertawa apalagi terbahak di siini. Aku masih ingat bahwa di sini pondok putri.
Aku jadi meragukan mbak pengurus dengan celak hitam menghiasi matanya. Kemarin kata Bashir dia seorang pengurus. Sebenarnya mbak itu pengurus apa? Mengapa bisa tertidur. Padahal dia duduk dibarisan pertama. Aku baru sadar mbak ini selalu duduk di depanku bersama temannya itu. Mbak ini tidak pernah berpindah duduk seperti mbak pengurus yang lain. Mengapa aku terlalu banyak memikirkan mbak ini, astaghfirulloh.
Jangan lupa , jangan sungkan yuk
KAMU SEDANG MEMBACA
Sampean Gus?
SpiritualSemenjak membantu temanku mengkhitbah calonnya yaitu santri pamanku, aku sedikit memperhatikan gadis bercelak yang mengantarkan unjuan di ruang tamu ndalem itu. Zayyan Zainul Muttaqin Tahun keduaku mengabdi di ndalem ini sedikit berbeda karena sahab...
