Zayyan Zainul Muttaqin (5)

6.3K 501 2
                                        

Bismillahirrohmanirrohim

Jangan tinggal sholat jamaah dan tilawah Qur'an..

Asmaul husna dan burdah juga dibaca teman...

Vote bintang pojok dan comment yang membangun ditunggu...

¤¤¤¤

Gadis Bercelak

"Ada pandangan yang perlu dijaga. Seperti hati, mata pun perlu dibina. Ada apa denganku hari ini. Mengapa sulit menjaga mata dan hati."

Setelah selesai mengajar di musola putri, aku kembali ke kamar dan langsung membuat kopi khas lampung daerahku. Aku tidak boleh mengantuk karena bakda zuhur nanti aku sudah ada janji dengan Bashir dan keluarganya. Saat ini Bashir sedang berada di ruang tamu putra menemui orang tuanya. Aku jadi tidak berani pulang rasanya liburan ini mengingat sampai sekarang aku belum punya calon. Aku berpikir apa aku juga harus dicarikan abah dan umi juga mengenai jodohku. Memikirkan diriku sendiri mengapa lebih sulit, padahal rasanya mudah sekali bagi Bashir yakin bahwa mba ndalem itu jodohnya. Suara azan zuhur berkumandang dari masjid pondok, aku bergegas wudhu dan mengikuti salat jemaah bersama Abah Afnan.

Aku merasakan lapar saat melihat beberapa santri sudah mengantre panjang di depan kantin pondok dengan membawa piring dan gelas ditangan mereka. Aku kembali ke kamar pengurus dan melihat sudah ada Bashir dan pengurus lainnya makan satu nampan. Lalu, aku bergabung makan bersama mereka. Selesai makan beberapa pengurus keluar kamar.

Ada yang ke kantor atau ada yang ke kantin dan ada pula yang menerima les mengaji untuk santri baru yang sulit mengaji. Tinggalah aku berdua dengan Bashir di kamar. Bashir mengganti kaos dengan jasko hitam. Dia tampak gagah dengan postur badannya yang tinggi. Aku masih memakai kemeja navy seperti saat mengaji di pondok putri.

"Sudah siap Ustadz Hadziq Bashir Shaquile?" tanyaku sambil membenarkan lengan kemejaku yang tadi dilipat saat makan.

"Sudah, Gus, mari ke ndalem, Bapak dan Ibuku sudah di ndalem lebih dulu," katanya sambil berdiri di depan kaca membenarkan pecinya.
Aku tersenyum melihat wajahnya sangat sumringah. Semoga nanti ada kabar bahagia doaku dalam hati. Aku sudah tidak mengantuk. Senyum Bashir membuatku semangat untuk membantunya mengkhitbah Mba Roihana.

Sampai di ndalem aku menyalimi bapak dan ibunya Bashir. Tidak berapa lama setelah aku membenarkan duduk, Abah Afnan dari arah ndalem menyambut orang tua Bashir. Aku pun ikut mencium tangan pamanku ini.

Sebagai pembicara di sini, aku mengutarakan maksud Bashir dan kedua orang tuanya yang akan mengkhitbah santrinya Abah Afnan yaitu Mba Roihana. Abah Afnan justru tersenyum lebar dan menepuk pundak Bashir yang kulihat wajahnya sudah tegang. Abah Afnan tidak langsung menjawab apa yang aku sampaikan. Beliau malah menceritakan tentang Bashir selama di pondok dari sebelum ia jadi pengurus.

Abah Afnan seperti dugaanku. Beliau menyindir aku yang belum menikah malah mengkitbahkan temannya. Hal itu membuat semuanya yang ada di ruang tamu ndalem tertawa. Sementara aku malu dan menundukkan kepala. Semuanya menjadi hening kembali saat ada dua mba pondok membawa unjuan.

Bashir yang asalnya melihat salah satu dari mba pondok itu langsung menunduk lagi. Aku yang belum paham sebenarnya Mba Roihana yang mana penasaran. Aku melihat kedua mba itu menyediakan teh dan kue. Dadaku berdebar saat melihat salah satu mba itu adalah mba yang tadi pagi meletakkan pulpen di meja.

Aku merasa sedikit gelisah, seperti ada sesuatu yang sedang aku takutkan. Aku tidak tahu mengapa dari tadi mataku sering melirik ke mba yang memakai celak itu. Mereka berdua sudah akan ke belakang. Namun, Bu Nyai atau Bibi Maimanah menarik salah satu dari mba pondok itu. Dan tentunya mba pondok yang di tarik Bu Nyai ternyata yang namanya Mba Roihana. Melihat itu aku jadi tenang.

Entahlah memangnya apa yang aku takutkan sebenarnya tadi. Mba yang satunya hanya menemani. Mba Roihana sekarang sudah resmi menjadi tunangan Bashir. Ibunya Bashir sedang memakaikan cincin kepada Mba Rohaina. Aku jadi berpikir bila Mba Roihana itu mba ndalem apakah mba yang satunya juga mba ndalem ya? Tetapi apa hubungannya denganku. Sudahlah jangan diambil pusing. Setelah acara khitbah selesai kami semua pamit.

Sepulang dari ndalem aku kembali merasa sangat mengantuk. Namun, Abah Afnan malah menghampiriku yang terdiam di dekat teras ndalem.

"Belum mau nyusul Kang Bashir?" tanya pamanku langsung.

Aku terdiam sambil tersenyum.
"Mau santri sini atau santri Abahmu , Zain," kelakar Abah Afnan yang membuatku semakin salah tingkah.

"Doanya paman saja, semoga dikasih yang terbaik," kataku dengan memilih kata sesopan mungkin. Abah Afnan itu paman sekaligus guru. Aku sangat menghormati beliau.

"Doa sudah, kalau kamu ga da usaha, sama aja bohong, Zain," katanya membuatku tersindir. Benar apa kata paman. Mungkin selama ini aku belum ada usaha mencari jodohku. Mulai sekarang aku harus berikhtiar karena Allah dan ingin menjalankan sunnah Nabi. Abah Afnan meninggalkanku yang masih merenungi nasihat beliau.

Jangan lupa tinggalkan jejak voment

Sampean Gus?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang