Umniyatul Ula (18)

3.9K 366 3
                                        

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamualaikum teman-teman boleh tanya kalian santri dari mana aja? Atau belum pernah nyantri..pingin mondok tapi masih takut jauh dari ortu? Nanti kita liat kisahnya dek dina...hehe adeknya sapa tu...

Jamaah Sholat 5 waktu diusahakan ya...
Tilawah Al-Qur'an juga diistiqomahkan...
Bila punya banyak keinginan perbanyak sholawat dan istighfar teman...

Budayakan vote bintang pojok dan coment...

Happy Reading

¤¤¤

Sekitar pukul 11 pagi kami sekeluarga hendak sowan ke ndalem Abah Afnan. Mengingat beliau beserta Bu Nyai dari subuh sudah ti tindak (pergi), aku bingung sendiri.

Bapak sedang ke kamar mandi. Sedangkan ibu sedang menenangkan adekku yang rewel.

Keluarga dek Alya sudah pulang, memang rumahnya tidak jauh dari pondok mungkin jarak tempuh hanya 1jam kurang lebih.

Dek Alya yang sudah menghampiriku bersalaman dengan ibu dan adikku.

Dia duduk disampingku sambil berkata "mba Niya, sudah sowan belum keluarganya?"

"belum dek, bukannya di ndalem tidak ada Abah dan ibu? "kataku

"mba Niya belum tahu kalau kakaknya Abah yai ada di ndalem, bisa sowan sama beliau. Namanya Abah Zuhdi yang pondoknya Di Lampung. Tadi Bapak sama Mamak sudah sowan duluan ke ndalem aku ga diajak padahal katanya Abah Zuhdi putranya mondok disini. Tapi ga da yang tahu si yang mana gus Lampung itu. Katanya Lagi gusnya ga cuma ganteng tapi mahir kitabnya."katanya bercerita panjang lebar terlalu semangat.

"jadi intinya bisa sowan ke ndalem ini? "tanyaku to the point.

"Iya si, tapi ko mba Niya biasa aja sih ga penasaran sama gusnya".katanya lagi sambil merengut.

"la niat nya mba kan mau sowan ke ndalem bukan bahas gus Lampung itu."kataku sambil membereskan barang-barang yang dibawa bapak Ibu.

"Iya mba Niya..mba aku sekalian ikut balik ke pondok bareng."katanya lagi. Aku mengangguk saja.

Aku lalu mengajak ibu bapak dan Adek ke ndalem. Ayah ,Ibu dan dek Nana berjalan berdampingan.

Sedangkan aku di belakang bersama dek Alya membawa sekardus sowanan (adat membawa oleh-oleh biasanya berisi snack baik manis atau gurih /terkadang juga hasil tani misal cabe, atau sayuran /hasil laut ikan juga sering ) untuk keluarga ndalem sebagai bentuk terimakasih dan penghormatan. Beliau Abah dan ibu membimbing kami para santri tanpa dibayar sepersen pun.

¤¤¤¤

Ndalem Abah Afnan

Sesampainya di ndalem keluargaku langsung masuk ke ruang tamu sedangkan aku menuju ke dapur ndalem. Dek Alya awalnya menemaniku Di dapur tapi berhubung perutnya mules dia sudah lari ke kamar mandi dekat dapur ndalem. Tapi entah lama sekali mungkin aku ditinggal ke pondok duluan ya sudahlah.

Jadilah aku hanya sendirian yang membuat teh . Karena setelah aku tanya mba yang tugas racik-racik (piket bagi mba ndalem untuk meracik bumbu dan memasak nasi sayur untuk keluarga ndalem dan kos santri) mba yang tugas unjuk.an (mba yang biasa menyiapkan minum untuk tamu) sedang keluar membuang sampah.

Aku mendengar suara laki-laki dari balik gorden
"mba ndalem geh, tolong dibuat unjuk,an (jamuan) untuk tamu didepan".katanya

"enggih".kataku pelan.

Sebenarnya membuat teh ini tidak terlalu sulit, dimulai memasak air, lalu menyiapkan teh celup dan menambahkan gula putih secukupnya.

Kemudian aku menata 6 cangkir diatas nampan. Dan menuangkan teh yang sudah jadi kedalam cangkir. Jadi teringat mba roihana...awal kerengganngan komunikasi kami berawal dari saat menemaninya membuat unjuan dan ke ruang tamu. Tidak boleh terlalu banyak melamun aku segera mengangkat nampan dengan teh dan toples roti yang sudah ada.

Saat aku berjalan melewati gorden , ada laki-laki berdiri dekat pintu menghalangi.

"maaf mba, biar saya saja yang mengantarkan ke depan sampean bisa balik ke belakang." katanya sambil menunduk mengulurkan tangannya.

Awalnya aku hanya melihat tangannya, namun saat aku melihat wajahnya rasanya jantungku shock langsung menunduk lagi sambil istighfar dalam hati.

Setelah menyerahkan nampan kepada lelaki yang ternyata Ustadz Zayyan aku lalu beranjak pergi.

Aku meninggalkan dapur lewat lorong pinggir ndalem yang berbatasan dengan asrama putri.

¤¤¤
Ruang Tamu Ndalem

Aku memasuki ruang tamu ndalem sambil menunduk berjalan dengan lutut mendekati keluargaku.

Aku yang masih deg-deg an dari insiden ketemu dengan Ustadz Zayyan di dapur kaget melihat dari ujung mataku beliau seperti mengawasiku.

Aku berbisik kepada Ibu untuk segera undur diri untuk mengurus administrasi pondok di kantor. Akhirnya setelah ayah pamit kepada Abah Zuhdi, aku berkesempatan bersalaman dengan istrinya. Jujur ini pertama kali sejak bertahun-tahun lamanya aku bertemu dengan kakaknya Abah Afnan.

¤¤¤

Kantor putri

"Kak, to long dek Nana ini didaftarin dulu. Ibu juga sekalian masuk ke pondok putri dulu , Ayah mau langsung ke masjid pondok. Nunggu adzan dzuhur Susan setengah 12 ."kata ayah sambil melirik jam tangannya.

"iya yah..." jawabku sambil mencium tangan ayah.

"ibu duduk disini dulu biar kakak yang ngurus adek ngisi formulir pendaftaran".kataku memberi tempat duduk untuk ibu.

Lalu aku meminta berkas pendaftaran kepada mba pengurus yang jaga kantor. Dek Nana mengisi data yang diperlukan, dan mengumpul kk, ktp orangtua, sampai foto 3x4 dll.
Setelah selesai melengkapi data, berkasnya aku kumpulkan kepada pengurus.

Selesai urusan administrasi pondok tentunya ibu yang langsung membayar kepadaku.

Aku mengambil buku bendahara di kantor, dari uang pendaftaran, uang asrama, uang syariah, uang kitab, seragam pondok hingga tabungan ziaroh dan haflah pondok.

Semua administrasi dirinci sedetail itu, dari sini terlihat semua pembayaran itu untuk kebutuhan santri sendiri alias Abah, Ibu, Ustadz, Ustadzah di pondok itu tidak digaji. Kalau Abah sering berkata "Niatkan semua karena Allah, kita ini buruhnya Allah, digaji oleh Allah. Matematikanya Allah itu beda. Belajarlah ikhlas. Seperti Surat Al ikhlas yang tidal ada lafadz ikhlas didalamnya. Ikhlas itu tidak diucapkan. Hatimu yang merasakan. Seperti dalam lafadz "wallohu 'alimum bidzatis sudur" Allah maha mengetahui apa yang ada di dalam hatimu."

Setelah mengurus biaya pondok aku dan adekku, aku mengajak ibu dan dek Nana untuk ke kamar.

¤¤¤

Kamar Ummu Aiman

Setelah berdiskusi dengan mba Lail akhirnya dek Nana dimasukkan ke kamar Ummu Aiman, alasannya pertama adekku tidak langsung masuk khuffadz alias kamar untuk santri umum, ada lemari kosong tersisa, kamarnya tidak jauh kamar pengurus (ini bonus biar aku tidak sulit pantau adek sendiri).

Setelah memasuki kamar ini Ibu semua santri yang ada dikamar bersalaman kepada ibu dan tentunya berkenalan kepada adekku yang ternyata mudah akrab dengan teman barunya.

Aku mulai memberesi baju dan barang-barang dek Nana di lemarinya. Semua barangnya kuberi nama atau tanda dari kitab/ buku, alat tulis, Baku jilbab, sampai alat mandi. Biasanya santri yang baru mondok suka lalai dengan hal ini dan langsung merasa kehilangan, awalnya ini sepele tapi banyak juga yang langsung boyong karena barang si A hilang misal.

Sementara ibu rebahan sebentar, adekku malah sepertinya sudah punya grup, dari yang aku dengar mereka sedang membahas novel entah apa judulnya asyik sekali.

Adzan dzuhur berkumandang, aku mengajak ibu , adekku dan tentu santri yang lain untuk mengambil wudhu dan jamaah di mushola.

Jangan lupa tinggalkan jejak voment

Sampean Gus?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang