Zayyan Zainul Muttaqin (25)

3.6K 314 4
                                        

Assalamualaikum

Bismillah,
Malam setelah aktifitas ini itu akhirnya baru sempet ketik.

Semoga kita senantiasa diistiqomahkan dalam kebaikan. Aamiin.

Happy Reading

¤¤¤

Hujan

"Mendung dan kilat memang membuat sebagian ketakutan. Namun, hadirnya hujan dan pelangi membuat orang dan seluruh alam bahagia. Pemikiran kita seringkali tidak baik bila menyangkut orang lain.  Hati-hati, karena Allah itu menurut prasangka hamba-Nya."

       "Ustad, maaf dipanggil Abah Afnan untuk ke ndalem," kata Kang Rohim menghampiriku yang sedang berdiam diri di kamar sambil mutolaah kitab.

        Siang ini aku tidak ada jadwal untuk menjadi juri. Aku menyempatkan diri untuk tetap mengulang materi dengan membuka kitab nahwu, Alfiyah ibnu Malik. Aku langsung menutup kitab nadhom itu dan merapihkan peci yang sedikit miring. Pantang bagi santri bertanya ada apa?atau kenapa?ketika Abah Yai sudah berkata. Apalagi ketika dipanggil seperti ini harus segera datang.

¤¤¤

            Abah Yai terlihat sedang meminum kopinya di ruang tamu ndalem. Aku duduk di depan pintu tanpa mengucap salam. Adab santri salah satunya tidak berani mengucap salam atau mengetuk pintu. Santri akan menunggu perintah Abah Yai memperbolehkan masuk atau tidak. Abah Yai berkenan menemui atau tidak.

           "Zain, sudah datang to?" tanya Abah Afnan membuatku menunduk.

           "Enggih, Bah," jawabku pelan.

            "Nak, sebenarnya kamu atau abahmu yang sudah punya calon," kata Abah Afnan. Deg, kalimat beliau tidak seperti pertanyaan, malah cenderung pernyataan. Aku diam. Aku terkejut mendengar kalimat beliau yang tanpa kuduga sebelumnya. Beliau tidak seperti biasanya yang berbicara tidak langsung ke inti masalah. Ada apa ini? pikirku dalam hati.

              "Aku di telpon abahmu Zain, katanya kamu disuruh pulang," terang Abah Afnan. Aku masih diam lagi dengan keringat yang mulai membasahi pelipisku. Otakku berputar, memangnya Abah benar-benar serius kemarin sebelum pulang ke Lampung. Abah Afnan juga sudah menyuruhku pulang saat ini. Kenapa begitu mendadak? Apa aku punya kesalahan?

            "Abah ikhlaskan kamu untuk pulang Zain, terima kasih sudah mau bantu mengurus pondok. Alhamdulillah, Daffa juga mau pulang." Abah Afnan seperti memperhatikanku yang semakin menunduk tanpa sepatah katapun.

            "Enggih, Bah," kataku. Hanya kata itu yang bisa aku sampaikan.

            "Jangan pikirkan masalah perlombaan ini, Abah sudah bilang sama Rohim untuk menggantikan tanggung jawabmu," jelas Abah Afnan yang membuat hatiku sedikit terluka. Mataku sudah berkaca-kaca. Astaghfirulloh, ada apa ini? Aku tidak bisa berpikir positif. Aku butuh penjelasan tentang semua ini. Badanku lemes. Aku kehilangan pasokan oksigen. Namun, aku tidak berani sekadar bertanya.

            "Zain, pondok Abahmu juga butuh kamu. Ini sudah waktunya kamu pulang. Besok aku yang akan mengantarmu, bersiap-siaplah dari sekarang," kata Abah Afnan mengakhiri.

      "Enggih, Bah," kataku lagi dan undur diri dengan berjalan menggunakan dengkul, mundur dengan hati-hati melalui pintu ndalem.

¤¤¤

       Setelah berjalan beberapa meter dari ndalem Abah Afnan air mataku luruh. Aku segera menepisnya. Rintik gerimis mulai turun membasahi bajuku. Aku segera berlari untuk berteduh di tempat terdekat yaitu koperasi pondok. Aku tediam mengamati tetesan air dari langit yang lambat laun makin deras. Kemudian banyak santri yang berlalu lalang berlarian karena hujan siang ini mengguyur pesantren dengan lebat.

            Hujan ini seperti mengerti keadaan hatiku. Sebenarnya apa yang membuatku sedih? Apa karena aku tidak ingin meninggalkan pesantren ini? atau karena aku tidak ingin Abah Afnan membiarkanku pulang ke rumah. Aku tidak menghindar atau menunda kepulanganku. Hanya saja, ada perasaan sesak didadaku ketika Abah Afnan sendiri yang menyuruhku pulang. Aku harus berhusnudzon kepada beliau.

        Tak sengaja mataku melihat Kang santri pengurus koperasi menggunakan sandal swallow berwarna hijau. Sekelebat ingatanku terbayang kejadian sore kemarin. Astaghfirulloh. Kata-kata Abah Afnan diawal tadi membuatku berpikir keras. Memangnya abahku sudah lelah menungguku pulang sehingga langsung meminta Abah Afnan sendiri yang membawaku pulang. Abahku akan segera bertindak karena aku tidak menghubungi memberi kepastian tentang Mbak Niya. Dadaku berdesir mengucap namanya walau hanya dalam hati. Namun, apabila kepulanganku ini karena abahku sudah punya calon lain, aku harus sami'na wa atho'na kan?

              "Ust." Kang Owi datang menghampiriku.
              "Ah..iya, ada apa?" tanyaku sedikit kaget.

              "Gak ada apa-apa, cuma mau curhat," paparnya dengan cengiran khasnya. Aku berusaha tersenyum dan tidak memperlihatkan keadaanku yang sedang tidak baik-baik saja.

          "Silakan," kataku.

           "Ust, saya kan kelas tiga aliyah. Nah, Ibu mintanya saya boyong dan lanjut kuliah, tetapi saya pinginnya di pondok sini. Saya juga pingin ngabdi dulu Ust. Rasanya berar banget buat ninggalij pondok ini." Kang Owi ini orangnya apa adanya kalau di depanku. Jangan tanya kalau di depan teman seangkatan apalagi adik kelas , hmmm gayanya sudah paling cool.

          Aku sudah menganggapnya sebagai adik sejak tahu kita satu pulau. Iya, secara aku Lampung, sedangkan dia Palembang. Owi juga terbuka denganku. Namun, aku yang tertutup dengannya. Bagaimanapun aku membatasi hubungan pribadi dengan mengajar. Owi di sini sebagai muridku di kelas imriti dua. 

            Hubungan antara guru dan murid tidak boleh seperti pertemanan biasa. Hal ini akan menyebabkan rasa takzim murid hilang kepada gurunya. Ini juga jangan disalah artikan guru gila hormat. Namun, memang selayaknya guru memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada muridnya. Guru dihormati karena ilmunya. Menghormati guru berarti menghormati orang yang berilmu.

           "Bapak gimana?" tanyaku tidak langsung menjawab.

           "Bapak mah seneng-seneng aja aku betah di pondok Ust," curhatnya masih dengan wajah kusut.

            "Begitu...sebenernya bisa saja kamu tetap di sini dan juga kuliah. Kenapa tidak masuk Ma'had Ali saja," usulku kemudian. Restu kedua orang tua itu penting. Menuntut ilmu adalah ibadah. Salah satu jihad besar dalam hidup ini, apalagi zaman sekarang. Berbicata tentang orang tua, aku jadi teringat Abah dan Umi. Mungkin memang sudah waktunya aku pulang, membantu Abah, dan yang terakhir segera menikah.

        " Alhamdulillah, makasih Ust. Nanti aku coba telpon Bapak dan Ibu. Doakan ya Ust semoga surgaku merestui," ucapnya sambil menyalimi tanganku.

      "Aamiin," kataku lirih.

       Kang Owi langsung izin pergi ke kantor untuk antre sms. Hujan mulai reda. Aku meraba dadaku yang sudah lega. Allah menurunkan hujan bukan untuk membuat orang bersedih. Namun, Allah memberikan pelangi untuk mengajarkan hati menerima taqdir Allah tanpa tapi. Bismillah, aku akan pulang karena Allah. Aku menuju ke kamar pengurus saat azan asar mulai berkumandang.

Jangan lupa vote dan comment

Salam manis dari sanrti Lampung.

Sampean Gus?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang