Zayyan Zainul Muttaqin (32)

3.6K 453 32
                                        

Bismillah

Assalamualaikum Wr. wb.

Alhamdulillah semoga my readers rajin jamaah lima waktu, tilawah al-qur'an dan juga selawat nabi... Aamiin..


Terima kasih untuk my readers yang udah vote and comment, yang belum jangan sungkan yuk, hargai karya sesama hehe...

Happy Reading

¤¤¤

Jamaah

"Imam adalah pemimpin, di mana ada makmum yang akan mengikuti setiap gerakannya. Begitupun aku dan dirinya yang ada dalam satu jamaah. Kami beribadah untuk mendapat rida-Nya."

Aku beberapa kali menahan napas. Usai berwudu di kamar mandi belakang rumah, ibu mengantarkanku masuk ke kamar mbak niya, istriku. Iya, aku linglung  ditinggal sendiri. Jadi berdasar inisiatif ibu, memberiku saran bahwa sebaiknya aku menunggu istriku di kamar saja.

Kudengar bunyi air pancuran dari kamar mandi di dalam ruangan ini berhenti.perlahan aku membetulkan posisi kacamata. Tak lama kenop pintu kamar mandi berdengung dan terbuka. Terlihat wanita berambut lurus dengan panjang sebahu. Dia membetulkan rambut dan memakai ikat rambut berwarna pink. Manis. Pakaiannya sudah berganti dengan kaos panjang bertuliskan santri putri ngaji, ngabdi sampai rabi (santri putri mengaji, mengabdi  sampai menikah). Pandanganku turun ke bawah melihat sarung gloyor miliknya berwarna coklat.

"Ehem, Ustad, sudah di sini?" katanya membuyarkan konsentrasiku.

"I..iya, ...Dek, kita salat di mana?" jawabku langsung berdiri dan berusaha mengalihkan pandangan melihat sisi lain kamar ini yang rapih. Terlihat lemari buku yang penuh dengan kitab-kitab dari kecil sampai yang paling besar kamus.

"Iya , Ust," katanya sambil melihat ke arah kaca yang ada di sudut kamar  dan tersadar bahwa tak ada yang menutupi rambut indahnya. Dia segera berjalan cepat sambil menunduk melewatiku ke rak yanh berada di dekat kasur untuk mengambil mukena lajuran berwarna putih dengan motif bunga berwarna pink. Sepertinya istriku ini menyukai warna pink. Apa semua perempuan suka warna pink. Aku rasa tidak, nyatanya Kak Zainab selalu memilih warna hitam. Memang kakakku yang satu itu misterius.

Aku mendekatinya pelan sambil berusaha menetralkan debar jantungku yang cepat. Niatku mau mengambil sajadah. Namun, tidak disangka dia sudah menggelarkan sajadah untukku. Aku terdiam masih memperhatikannya. Sambil membaca tasbih, bagaimana perasaanku meluap hanya karena akan menjadi imam salat untuk pasangan halalku.

"Ust, maaf tadi saya terlalu lama di kamar mandi, jadi mungkin ayah dan abah sudah lebih dulu ke masjid. Bahkan, ibu yang salatnya tepat waktu setelah azan sudah selesai wirid." sesalnya dan curhatan pertama istri manisku. Dia tia manja, bahkan saat berbicara padaku pun masih menunduk. Namun, nada bicara yang kutangkap memang sedikit menggemaskan.

"Iya, tak apa," jawabku sambil berdiri di depannya. Aku berulangkali mengucap basmalah. Dia mulai melantunkan lafad iqomah. Aku berusaha menepis semua pikiran-pikiran yang lain. Dengan membaca surah an-nass di lanjut taawudz aku memulai takbirotul ihram.

¤¤¤¤

Salam  adalah rukun terakhir dalam salat. Ketika salat magrib sudah kami tunaikan. Kami masing-masing masih melanjutkan dengan salat rowatib atau bakdiyah maghrib. Tak ada suara sampai kudengar suara perempuan di belakangku sedikit berbisik membaca wirid. Aku mendengarkan. Semakin lama dia hanyut dalam doa dan aku semakin terkesima. Istriku ini memang pilihan umi dan aku menyukainya. Mungkin sebelum Allah dan umi memilihkannya untukku. Sederhana saja caranya membuatku jatuh cinta. Ketika Mbak Niya mulai mengambil mushaf kecilnya yang juga berwarna pink. Dia memulai bacaan dengan pengucapan lafad yang fasih.

Aku tidak berbalik. Sebenarnya sejak tadi aku ingin merasakan punggung tanganku dicium olehnya, seperti tadi. Namun kuurungkan. Aku tidak ingin membatalkan wudunya. Mungkin jika wudu kami batal. Aku tidak akan melihat pemandangan indah maghrib ini. Aku masih diam seolah sibuk dengan wiridku. Padahal, diam-diam aku menyimak bacaannya. Aku pikir istriku ini lupa dengan keberadaanku  atau terlalu menikmati dunianya bersama Al-Qur'an. Ditengah lantunan suara mengaji istriku aku tertidur. Aku memang lelah dan sangat mengantuk.

"Ust," suara yang sejak sore tadi tidak asing bagiku. Aku langsung membuka mata. Namun, hal pertama yang kudapati adalah tangan mungil wanita yang melingkar di perutku. Aku tersentak dan menyentuh jemarinya.

"Ust, maaf," katanya hendak melepas tangannya yang memelukku dari belakang. Aku tau dia reflek menolongku agar tidak terjatuh saat tertidur tadi. Aku tersenyum dan tidak membiarkannya melepas jemarinya yang kini kugenggam.

"Tidak apa,"  jawabku singkat. Aku tidak tahu harus merespon bagaimana. Namun, aku masih memperhatikan tangan cantik istriku yanh dihiasi henna merah. Gambarnya sedikit, maksudku dulu saat Kak Zainab  menikah tangannya dipenuhi henna berwarna hitam sampai ke sikunya. Aku sampai merasa ngeri karenanya. Berbeda dengan istriku yang manis ini.

Tangan istriku mulai berkeringat. Dia pasti juga gugup.sama sepertiku, hanya saja tidak membantah atau menolak apa yang kulakukan, pasrah mungkin. Lagi-lagi kami terdiam, sampai suara azan isya membuat kami berdua saling memisahkan diri. Aku izin ke luar untuk salat isya di masjid saja. Istriku mengiyakan dalam diamnya.

Lalu, aku langsung ke luar kamar. Kupegang dadaku yang yang berdebar. Aku membaca istighfar untuk menenangkan hati. Abah dan paman datang menghampiri untuk mengajakku salat di di masjid agar tidak telat dan menjadi makmum masbuk.

Jangan lupa tinggalkan jejak ya pembaca budiman.

Btw, biasanya aku setelah membaca salah satu comment langsung ada ilham buat nulis kelnjutan cerita ini...yuk, bantu aku, mungkin komen kamu yang bisa jadi inspirasi untukku...

Salam dari santri lampung

Sampean Gus?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang