HMS; 16

18.8K 1.3K 16
                                        

Libur semester telah tiba, seperti yang dijanjikan Abimana. Semester kali ini keluarga Segal akan berlibur ke Lombok.

"Kamu udah siapin baju buat suamimu?"

Nara yang sedang duduk selonjoran sambil memegang ponsel pun menoleh. Ditatapnya wajah sang Ibu yang menunggu jawabannya.

"Udah belum?"

Nara kemudian menggeleng.

"Loh, kalau baju kamu udah?"

"Udah," jawab Nara.

"Terus kenapa baju suamimu belum?"

Nara menghela nafas, "Ya kenapa Ibu nggak tanya aja sama Om Abi."

"Om?" ulang Ibu dengan wajah terkejut dan menatap anaknya penuh selidik.

Nara langsung gelagapan, ia hendak pergi tapi tangannya keburu dicekal oleh sang Ibu.

"Kok manggilnya Om?" Ibu bersuara dengan tenang tapi Nara sebagai anaknya sudah hafal betul kalau ibunya sedang menahan marah.

"Salah sebut, harusnya tadi aku bilang Mas tapi masih kebawa suasana manggil tukang kurirnya tadi siang." Nara cengengesan berusaha memasang wajah santai.

"Kamu bohong ya Nara? Kamu nggak bisa bohongin Ibu. Kenapa kamu manggil suamimu dengan panggilan Om begitu?"

Nara tertawa tapi tawanya terdengar kaku, ia memukul lengan ibunya pelan, "Ibu nih apaan sih mana ada aku bohong, tadi sebenarnya mau bilang Mas Abi cuma ya karena masih kebawa sama Om kurirnya aja."

"Nar—"

"Udah ah, bantuin Nara siapin baju yang mau dibawa sama Mas Abi yuk!" Nara menarik paksa Ibunya masuk ke dalam kamar mereka.

"Mama!" panggil Athala ketika Nara dan ibunya hendak melewati kamar Athala.

Sontak Nara dan Ibunya langsung berhenti, "Kenapa?"

"Bantuan Atha siap-siap, Ma. Atha bingung mau bawa yang mana."

"Mama mau—"

"Ya sudah, kita bantu Athala dulu," potong Ibu membawa anaknya masuk ke dalam kamar Athala.

"Kamu mau bawa baju yang mana aja?" tanya Nara berusaha selembut mungkin.

Well, karena Ibunya ada di rumah Segal jadi Nara harus sedikit berdrama. Ia sebenarnya sedikit muak, tapi karena tak mau kena ceramahan sehari semalam dari Ibunya jadi berpura-pura adalah jalan keluarnya.

Selama Nara sibuk mempersiapkan Athala barang bawannya, anak kecil itu berceloteh ria bersama ibunya.

"Athala, Mama kalau di rumah suka jahatin kamu nggak?"

Nara menghentikan aktivitasnya seraya menatap Ibunya. Lewat tatapan matanya Nara meminta agar ibunya menghentikan pembicaraan tersebut.

Ibu hanya menatapnya tajam, sepertinya sudah tidak ada harapan pada Ibunya. Nara kemudian beralih menatap Athala, ia menatapnya was-was takutnya Athala mengadu hal yang tidak-tidak. Nara kemudian merutuki kebodohannya yang sering berbuat kasar di depan anak kecil.

Jangan sampai Athala mengadu juga bagaimana Nara sering sekali berbuat kasar pada Abimana.

"Athala nggak perlu takut sayang, nanti kalau Mama macem-macem ada nenek yang jagain kamu."

Nara menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.

"Nggak kok, Mama orangnya baik. Kemarin dia bantuin Atha dari temen-temen yang nakal."

Nara menghembuskan nafas lega, ia menatap anak tirinya dengan tatapan tak percaya.

"Serius?"

Athala mengangguk mantap, "Mama orang paling baik di dunia."

Hello, Mr. Segal [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang