HMS; 37

23.4K 1.6K 29
                                        

Setelah bermalam di rumah sakit pagi sekali Nara akhirnya pulang ke rumah Abi. Ibu ikut untuk karena masih khawatir dengan keadaan Nara sekalian membantu urusan anak-anak.

Sebenarnya Nara sudah meyakinkan kalau ia akan baik-baik saja selama masih bersama Abi tapi memang dasarnya Ibu takut anak semata wayangnya kenapa-kenapa jadilah Nara mengiyakan saja.

"Badan aku sakit banget, serasa mau remuk," keluh Nara tepat setelah ia mendudukkan bokongnya di ranjang kamar mereka.

"Punggung aku kok panas ya." Nara meraba punggungnya dan baru tersadar kalau punggungnya juga terasa sakit.

"Mungkin luka, sini saya periksa."

Nara membalikkan badan membelakangi Abi, dengan setengah ragu Abi membukanya dan ternyata luka itu memang benar adanya.

"Saya olesin salep ya."

"Nggak mau ah, ntar perih."

"Nggak. Ini mahal, kalau dipake jadi dingin."

"Seriusan?" tanya Nara masih ragu.

"Percaya sama saya."

Abi beranjak mengambil salep yang terletak dalam kotak P3K, menaikkan baju kaos yang membalut lekuk tubuh Nara. Maka ketika tangan Abi menyentuh kulitnya barulah Nara sadar, jantungnya berdegup kencang, terasa geli, panas dan dingin ia rasakan.

Tak jauh berbeda dengan Nara, Abi juga merasakan hal yang sama. Melihat lekuk tubuh Nara saja sudah membuatnya merasakan gejolak yang luar biasa, terlebih ketika telunjuknya menyentuh punggung Nara. Dengan sekuat tenaga ia menahan gejolak dalam dirinya untuk tidak meledak-ledak.

Tapi sepertinya itu hanya berlangsung sebentar karena setelah itu Abi memeluk Nara dari belakang menghembuskan nafas beratnya tepat di leher Nara. Abi memejamkan mata mencoba mengusir imaji liar yang berkeliaran di kepalanya tentang ia dan Nara, tapi tetap saja bayang-bayang akan nikmat tubuh Nara malah semakin terputar jelas dalam bayangannya.

Nara yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa mematung, nafasnya terasa berat, entah rasa geli atau kenikmatin ia rasakan saat Abi menghembuskan nafas berat di lehernya hingga tanpa sadar Nara mendesah dibuatnya.

Desahan Nara menyadarkan Abi kalau Nara juga menikmati perlakuannya. Bagai mendapat kesempatan tangan Abi mulai meraba area perut Nara, terus naik ke atas sampai pada pipi Nara. Perlahan Abi membalikkan tubuh Nara menghadapnya.

Ditatapnya Nara dengan penuh kasih sayang. Nara menyadari kalau Abi menatapnya penuh nafsu, Nara juga tidak munafik kalau ia merasakan hal yang sama. Sampai detik berikutnya Abi menautkan bibir mereka.

Ini ciuman pertama untuk Nara, ia hanya bisa terdiam mengikuti permainannya Abi. Melihat Abi memejamkan membuat Nara semakin kebingungan. Sekitar satu menit kemudian Abi melepaskan tautan mereka.

"Mas," panggil Nara.

"Maaf," kata Abi penuh penyesalan.

"Saya nggak netapin janji buat nggak nyentuh kamu maaf—"

"Kunci pintunya Mas," sergah Nara yang dibalas kerutan dahi oleh Abi.

Meski bingung tapi Abi tetap pergi mengunci pintu. Abi kemudian menggenggam tangan Nara dan menatapnya penuh penyesalan.

"Maaf. Kamu marah?"

Nara menggeleng dan mulai mencium bibir Abi sekejap.

"Aku nggak apa-apa Mas, kalau Mas Abi mau sekarang aku udah siap." Nara mengusap kedua pipi Abi lembut.

"Kamu ... Serius?" ada kebahagiaan tak terdeskripsi mendengar Nara menyatakan kesiapannya sekarang.

Nara mengangguk mantap, "Aku serius. Maafin aku udah buat Mas Abi nunggu lama."

Hello, Mr. Segal [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang