Perlahan tapi pasti mata Nara mulai terbuka. Nara melenguh ketika merasakan kulit pipinya bersentuhan dengan segemercik air yang membuat tidur nyenyaknya terganggu.
"Bangun."
Hal pertama yang Nara lihat adalah keadaan kamar yang berbeda dari sebelumnya, lalu terdapat Abimana yang sedang duduk dengan sebaskom air di tangannya.
"Makan yuk."
"Ck kenapa mesti dibangunin kek gini sih? Om nih bisa masuk KDRT ya, ntar aku laporin ke Ibu biar tau rasa."
"Saya laporin balik kalau selama ini kamu belum memenuhi kewajiban kamu sebagai seorang istri." Abimana tersenyum miring.
"Dih ngancem."
"Kamu duluan yang mulai."
Bibir Nara mengerucut sebal, ia membuang muka.
"Om ini ngeselin banget," gerutu Nara.
Tanpa diduga Abimana langsung memberikan pelukan hangat untuk Nara.
"Maaf ya tadi saya cuma bercanda."
"Udah ah, modus banget!" Nara melepaskan pelukan mereka secara paksa.
"Jam berapa?" Nara bertanya seraya menguap.
"Lima."
Nara hanya mengangguk, ia memperhatikan sekitarnya lagi. Perasaan tadi ia tidur seraya berpelukan dengan Athala.
"Kenapa?"
"Perasaan tadi pas tidur aku pelukan sama Athala. Kemana tuh bocah?"
"Athala udah bangun dari satu jam yang lalu. Terus sekarang lagi siap-siap buat berbequan nanti malam bareng Marsha."
Nara mengangguk mendengar kata berbequan matanya jadi berbinar.
"Om aku mau makan samyang," rengek Nara.
Sepertinya Nara tidak sadar bahwa rengekannya mulai terdengar seperti istri yang sedang bermanja pada suaminya.
"Hah? Kamu manggil saya sayang?"
Raut bahagia tidak bisa disembunyikan oleh Abimana. Senyumannya mengembang.
Kening Nara mengerut mendengarnya. Ia menoyor jidat Abimana ketika cowok itu hendak memeluknya.
"Samyang keles bukan sayang. Selain nyebelin ternyata pendengaran Om udah mulai melemah. Ingat umur gih." Nara berdiri dan meninggalkan Abimana yang terdiam untuk beberapa saat.
Setelah kesadarannya telah kembali Abimana pun berlari mengejar istrinya.
Di halaman belakang villa Nara melihat kedua anak sambungnya yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Perlu dibantuin apa nih?" tanya Nara membuat mereka langsung menatap Nara.
"Kamu udah sembuh?" Marsha menatap Nara dengan tatapan mengejek.
"Lumayan cuma masih lemes aja."
"Mama duduk aja biar Atha sama Marsha yang siapin."
"Serius nih? Aku kalau udah nawarin satu kali terus kalian tolak nggak bakal aku tawarin lagi. Kadang kesempatan itu cuma datang satu kali aja."
"Banyak omong, sok-sokan nasihatin orang nasihatin diri sendiri gih cara jadi ibu sambung yang baik," sindir Marsha.
"Nggak tau terima kasih," cibir Nara.
Merasa tak dihargai Nara pun meninggalkan kedua anak itu. Mendadak ia menyesal karena telah berbuat baik pada mereka, kalau tau respon mereka tak sebaik yang ia duga mungkin Nara tak akan pernah mau menawarkan bantuan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Mr. Segal [END]
RomanceSegal series 1 Tampan, mapan, berwawasan sepertinya julukan yang patut diberikan pada seorang Abimana Segal, seorang presdir di Segal group. Kegilaannya pada pekerjaan membuat Abimana tidak pernah lagi memikirkan pernikahan, jangankan pernikahan, un...
![Hello, Mr. Segal [END]](https://img.wattpad.com/cover/257226780-64-k396308.jpg)