"Nggak apa-apa, kamu santai aja nanti urusan skripsi kamu biar aku bantu ngomong," hibur Arga.
Semenjak mendengar perkataan yang tak mau dibantah dari Pak Alden tadi aku menjadi tak bersemangat. Bahuku merosot, dengan suasana hati yang tak bisa digambarkan antara sedih, kecewa, marah. Rasa-rasanya aku ingin menangis sekencang-kencangnya sekarang juga.
"Hey, udah." Arga memegang pundak menatapku dengan tatapan meyakinkan.
"Tapi nanti kalau dia nggak mau gimana?"
Sumpah aku takut. Bagaimana kalau Pak Alden benar-benar serius? Aku tidak mau menjadi mahasiswa abadi.
"Aku pastiin dia tanda tangani, kamu juga harus pintar-pintar nyari suasana buat merebut hati dia." Arga tersenyum meyakinkan.
"Aku yang salah, harusnya waktu itu aku nggak bercandai—"
"Nggak apa-apa, udah terlanjur juga." Arga menyela.
Aku menghembuskan nafas berat. Mobil Arga berjalan menjauhi rumah sakit. Masih terekam dengan jelas diingatan bagaimana Pak Alden mengucapkan kalimat terkutuk itu dan yang lebih parahnya lagi Arga malah bersikap sangat baik padaku.
Seketika aku merasa menjadi manusia penuh dosa karena sudah menyakiti keluarga Arga.
Hembusan nafas berat untuk sekian kalinya keluar dari mulutku. Sampai akhirnya kami sampai di depan mini market tadi dan melihat keberadaan mobilku yang terparkir manis di tempatnya.
"Kayaknya udah deh, biar aku cobain ya?"
Aku mengangguk dan Arga berhasil mobil tersebut menyala.
"Terima kasih ya," ucapku tulus sambil tersenyum paksa.
"Sama-sama."
Segera aku meraih uang yang berada di saku, "Ini aku ganti uang kamu."
"Nggak usah, anggap aja aku balas budi karena waktu itu kamu pernah nolongin aku."
"Tapi kan waktu itu aku nggak pakai uang, sedangkan kamu nolongin aku sekarang pakai uang udah ambil aja nih."
Arga malah mendorong tanganku yang hendak memberikannya uang.
"Aku kaya Nar, lagian aku ikhlas kok ngebantuin kamu."
"Serius nih? Kalau nggak mau sih nggak apa-apa, bisa aku pake jajan."
Sejujurnya aku bergurau mengatakan itu, tapi sepertinya Arga malah menganggapnya serius.
"Iya nggak apa-apa. Buat kamu beli cemilan aja."
"Oke sip." Tapi ada untungnya juga dia menolak nanti uang beli bensin bisa dipake buat jajan, aku menaruh uang kembali ke dalam saku.
"Eh Nara," panggil Arga mencekal pergelangan tanganku untuk berbalik menghadapnya.
"Kenap—"
Belum sampai aku menyelesaikan pertanyaanku mataku sudah melotot karena perlakuan Arga. Arga, mencium bibirku. Aku akan menampar tapi tiba-tiba tubuhku terasa kaku saking kagetnya.
Ciuman tersebut tidak bisa dibilang sebentar dan aku benci dilecehkan, tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Kalian pernah kan kaget sampai otak kalian terasa ngeblang dan tubuh langsung kaku saking syoknya.
"NARA!!"
Aku mengerjapkan mata kemudian mendorong tubuh Arga menjauh. Tatapanku langsung tertuju pada Om Abi yang menatapku dengan kecewa, lelaki itu berdiri tak jauh dari tempatnya dengan geleng-geleng kepala. Sorot matanya menatapku dengan kecewa sekali dan jujur itu menyakitiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Mr. Segal [END]
RomanceSegal series 1 Tampan, mapan, berwawasan sepertinya julukan yang patut diberikan pada seorang Abimana Segal, seorang presdir di Segal group. Kegilaannya pada pekerjaan membuat Abimana tidak pernah lagi memikirkan pernikahan, jangankan pernikahan, un...
![Hello, Mr. Segal [END]](https://img.wattpad.com/cover/257226780-64-k396308.jpg)