13. Something has Happened

3.1K 259 63
                                        

sofiastetic, 2021

• ☆ •

Sesampainya Jarvas di UKS, dia membaringkan tubuh Rea yang masih terlihat lemas. Wajah cantiknya yang dibalut oleh make up pun terlihat pucat
pasi.

"Re? Are you okay?? Andrea?" Jarvas menepuk-tepuk pelan pipi Rea agar gadis yang sekarang seperti akan kehilangan kesadarannya itu untuk membuka mata dengan sempurna.

Rea tanpa sadar menatap atap UKS yang berwarna putih. Masih terbayang bagaimana wajah Tandrea yang orang bilang memiliki kemiripan dengan dirinya. Tidak lama, air mata jatuh di pipi. Jarvas dengan cepat menghapus jejak-jejak air mata tersebut.

"Rea? Bisa denger gue? Rea?" Jarvas masih saja mencoba untuk menarik perhatian gadis itu, namun hasilnya nihil. Rea masih saja menatap kosong ke atas sambil mengeluarkan air matanya.

BRAK!

Dengan sekuat tenaga, Teressa membuka pintu UKS dan dengan langkah terburu-buru keempat gadis itu berdiri di samping ranjang Rea. Membuat Jarvas perlahan memundurkan diri. Dan dilihat, teman-teman Jarvas pun ikut masuk ke dalam UKS dan menghampiri cowok yang sedang mengurut pangkal hidungnya sambil menatap ke arah Rea.

"Gimana Vas? Rea kenapa?" Jarvas hanya menggeleng.

"Kayaknya Rea itu kena sesuatu deh, Vas? Gue panggilin Pak Imam buat kesini aja ya?" ucap Abrisam yang sekarang juga sama khawatirnya melihat kondisi Rea yang menangis dalam diam sambil menatap ke atas. Sedangkan teman-temannya Rea, seperti Jarvas tadi, masih mencoba untuk mencari perhatian gadis itu.

"Iya mungkin ya? Coba lo panggilin aja kesini Pak Imamnya, Sam. Kalo enggak sama gue. Yuk cepetan!" kemudian Abrisam juga Oji sedikit berlari keluar dari UKS yang sudah ramai oleh siswa-siswi yang penasaran dengan keadaan Rea. Melihat itu, Angga menuju ke pintu.

"Pergi lo semua," ucapnya dingin kemudian menutup pintu UKS rapat-rapat.

"Daritadi lo bawa dia masih gini, Vas?" tanya Iyus hati-hati karena sepertinya Jarvas saat ini sedang sangat sensitif.

"Enggak. Tadi dia masih sadar dan kayak masih bisa denger suara gue. Tapi waktu gue baringin di kasur tiba-tiba pandangan dia kosong kayak sekarang ini." Iyus yang mendengar itu pun menepuk bahu lebar Jarvas.

Kemudian beberapa menit berlalu, Abrisam dan Oji kembali sambil membawa Pak Imam yang merupakan guru agama Islam di SMA Darmawangsa.

"Nak Andrea kenapa ini?" tanya Pak Imam ketika melihat Rea yang masih diam sambil menangis.

"Gak tau Pak. Tadi dia baik-baik aja, terus jadi kayak gini," ucap Ansel bergerar karena sudah menahan tangis. Ansel ini memang hatinya lembut. Jadi ketika ia melihat teman atau orang-orang terdekatnya terjadi sesuatu, pasti dia akan menangis.

Pak Imam mendekati ranjang Rea kemudian menyentuh keningnya. Begitu juga dengan Jarvas, cowok itu mendekati ranjang untuk melihat apa yang dilakukan Pak Imam kepada gadis itu.

"Nak? Nak Andrea? Bisa dengar suara Bapak?" Rea meresponnya dengan mengangguk membuat yang lain fokus menatap interaksi mereka berdua. "Nak Andrea bisa berbicara?" Andrea menggelengkan kepalanya kuat.

Teman-temannya yang tadi menahan tangis pun akhirnya menumpahkan tangisnya ketika melihat respon Rea. Membuat Angga dengan cepat memeluk Natta yang sekarang sudah menenggelamkan wajahnya di dada cowok itu. Berlin yang sekarang sudah sesenggukan di pelukan Abrisam membuat cowok itu mengelus rambut gadisnya dengan sayang. Dan Oji merangkul bahu Ansel kuat karena gadis itu sepertinya tidak mau menumpahkan air matanya, ia masih saja menahan tangis. Sedangkan Teressa menangis sambil memijat kaki Rea yang terasa kaku dan dingin itu.

RAJARVASTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang