Rasa ingin menghujam dada Yugo terus-menerus dengan kepalan tanganku, beriringan dengan tetesan air mata yang mengalir ke pelipis sampai pipi, dan berkali-kali juga Willa menahanku yang tak henti-hentinya memukul dada Yugo.
"Je, udah."
Aku tidak tahu apakah ini rasa kesal, sedih, atau bagaimana, tapi yang terasa seperti banyaknya silet menyayat dadaku.
"Pukul gue, Je. Pukul gue lebih kencang. Pukul gue kalau itu bisa buat lo merasa baik."
Yugo menangkap kepalan tanganku, lalu diarahkan ke wajahnya.
"Kenapa sih?
tanyaku pilu.
"Kenapa sih sama lo? Kenapa bisa berbuat yang aneh-aneh gini?!"
Yugo masih tertunduk dengan tangannya masih memegang kepalan tangan kananku.
"Lo gak tau sesakit apa gue liat lo sama Kak Naura? dan lo masih mau membebankan sakit di hati gue dengan liat lo babak-belur? lo emang sengaja mau buat hati gue hancur berkeping-keping?!"
Yugo yang tadinya tertunduk tak berdaya, kini membuka tangannya, lalu meraihku dan membenamkan kepalaku di dekapannya.
Tidak ada lagi sepatah dua patah kata yang terucap dari mulutku ataupun dari mulut Yugo. Kamar ini terasa sangat hening dan sunyi. Sangat kebalikannya dengan lantai dasar yang penuh hiruk-pikuk, suara perbincangan dan suara alunan musikpun sampai beradu seperti banteng.
Keadaan ini sampai membuatku tidak menyadari bahwa masih ada sosok Nico di sampingku. Saat aku menoleh ke arah Nico dengan mataku yang masih terus-menerus meneteskan air mata, Nico hanya tersenyum dan tanpa ada kata-kata darinya, ia langsung menggandeng Oka dan Willa keluar dari kamar ini. Dengan perlahan Nico menutup pintu dan aku yakin sekali Nico menggerakan bibirnya seperti mengucapkan sesuatu tanpa suara yaitu ia mencoba berkata "gakpapa".
Seketika itu juga aku menghentikan tangisanku dan keluar dari dekapan Yugo. Aku melihat langsung mata Yugo dalam-dalam yang masih berkaca-kaca. Hanya beberapa menit tak bersuara, akhirnya aku berani mengucapkan ini atas kebulatan tekat dan niatku.
"Go, gue tau perasaan lo sekarang kayak gimana. Gue juga tau kok lo paling gak bisa dipaksain atas apa yang lo gak mau lakuin, tapi lo harus tanggung-jawab atas bakti lo dengan orang tua lo. Lo bukan anak-anak lagi. Lo juga masih harus kuliah dan bekerja nantinya untuk penghasilan lo sendiri."
Aku menghela nafas dengan panjang dan melanjutkan perkataanku
"Walaupun lo maksain untuk gak tunangan sama Kak Naura, dan lo pilih dengan yang lain, apakah lo mau cinta lo tanpa restu orangtua lo sama sekali?!"
Dengan cepat Yugo menepis perkataanku dan sekali lagi ia menggenggam tanganku.
"Tapi gue maunya sama lo Je."
Seketika itu juga aku terdiam, dan terdiam lagi. Kamar yang hanya ada dua orang manusia ini bagaikan ada puluhan manusia di dalamnya. Sangat terasa sesak, sampaiku tepuk beberapa kali dadaku untuk menghilangkan kesesakan ini. Entah karena aku memang sudah dewasa atau memang situasi seperti ini yang memang sengaja mendewasakanku.
Aku berpikir kembali jika aku dan Yugo bersama, maka akan banyak hati yang tersakiti. Cukup dengan memadamkan perasaanku saja. Suatu saat Yugo pasti bisa menyukai Naura, cepat atau lambat. Cukup, cukup aku yang memadamkan dan membenamkan perasaanku saja.
Tanpa ada kata yang menenangkan untuk Yugo, aku berkata,
"Aku mau Kakak bersiap dan turun sekarang juga. Please, demi aku Kak. Kalau Kakak masih dengan niat kekanak-kanakan Kakak untuk berbuat aneh-aneh supaya membatalkan acara pertunangan Kakak dengan Kak Naura. Maka jangan harap Kakak bisa liat aku lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Because of Him
RomanceBerawal dari siswa-siswi yang tak saling mengenal, antara lain Jefanka dan Yugo. Mereka bertemu secara tak sengaja di sebuah waktu yang tak terduga. Kejadian demi kejadian membuat mereka dekat dan sesuatu hal yang tak diharapkan terjadi, tumbuh...
