Kepingan scene saat bersama Yugo tadi siang, kembali bermunculan dibenakku. Aku sengaja menghiraukannya dengan mandi lalu dilanjutkan dengan membaca novel.
Menurutku novel itu seperti bantal. Kalau kita tidur tanpa bantal pasti tak akan terasa nyenyak. Novel itu seperti sambal, kalau makan fried chicken tak pakai sambal itu hambar. Novel itu seperti jam tangan, kalo tak pakai jam tangan saat pergi keluar tuh terasa buta waktu. Karena banyaknya novel yang aku punya, aku meminta papa untuk membuat ruangan kecil khusus untuk menyimpan semua novelku.
Sampai dulu Willa pernah bilang "lo pacaran aja sama novel. lo pergi kemana pun bawaannya novel. Sampai-sampai gue ditinggalin di toilet gara-gara lo keasyikan baca novel yang baru lo beli itu".
Kegiatan sabtu sore selanjutnya adalah olahraga di halaman rumah. Setidaknya satu jam aku harus meluangkan waktuku untuk berolahraga.
Tell me why? You're so hard to forget, don't remind me! I'm not over it..
dering hape ku berbunyi, dengan sigap aku ambil, lalu ku angkat.
"hallo? Ini siapa ya?."
"Hi Je, ini gue Yugo."
"KAK YUGO..? lo dapet nomer gue darimana?."
"Gue dapet dari Nico, dia senior lo di eskul badminton, kebetulan dia teman sekelas gue."
"oh Kak Nico, iya gue kenal."
"Sorry ya gue gak bilang dulu ke lo, abis tadi pas kita chitchat, gue lupa minta nomer lo."
"iya gak apa-apa kok. Slow aja," jawabku sambil membuka lembaran berikutnya.
"lagi apa Je?."
"Lagi baca novel nih kak."
"wah lo suka baca novel?," tanya dia dengan nada sedikit meninggi.
"bangeeeeet".
Tidak terasa lagi sudah sejam aku mengobrol di telpon sama dia. Entah waktu terasa cepat banget berlalu kalau mengobrol sama dia. Saatnya aku menyiapkan raket, lalu tidur.
Sinar mentari pagi sudah merayap masuk kedalam sela-sela jendela kamarku, aku pun bergegas mandi dan sarapan, dan seperti biasa berangkat sekolah dianter papa. Sesaat sampai di sekolah, aku melihat ada Yugo di gerbang sekolah. Aku sudah sadar dari kejauhan Yugo memperhatikanku. Di saat aku memasuki gerbang sekolah Yugo menghampiriku dan berbisik
"jam 10 di Gor serbaguna."
Lalu dia pergi ke arah kantin. Setelah urusanku selesai di sekolah, aku langsung ke Gor serbaguna, ternyata disana sudah ada Yugo dan 4 anak basket lainnya. Seperti yang terlihat mereka hanya latihan biasa, tanpa pelatih. Dengan perasaan yang tak karuan, ku berjalan perlahan ke arah tempat duduk di dekat barang-barang mereka.
Yugo melihat ke arahku lalu melambaikan tangannya. Aku membalas dengan lambaian tangan juga. Tak disangka mukaku memerah saat Yugo menatapku. Aku semakin tak mengerti dengan perasaan ini, mengapa Yugo semakin kelihatan menarik di mataku.
buk.. bola basket dilempar ke araku dan langsung aku tangkap. Ternyata lemparan itu dari Yugo
"wow lo ternyata sigap juga. Kenapa gak ambil eskul basket?."
"Gue kurang suka aja sih kak," timpaku.
"Oh gitu.. yaudah Je, sana ganti baju."
"gue lupa, bentar ya.."
"okay.." jawab Yugo dengan mendribble bola basket.
Untuk pemula sih dia jago buat main badminton. Yugo menghampiriku dan mengambil raket yang aku genggam
KAMU SEDANG MEMBACA
Because of Him
RomanceBerawal dari siswa-siswi yang tak saling mengenal, antara lain Jefanka dan Yugo. Mereka bertemu secara tak sengaja di sebuah waktu yang tak terduga. Kejadian demi kejadian membuat mereka dekat dan sesuatu hal yang tak diharapkan terjadi, tumbuh...
