Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Part 11 : Kakak senior lagi?

7.6K 251 5
                                        


Masih berada di gedung olahraga, masih merasakan sukacita karena masuk babak penyisihan, dan masih tak menyangka kalau aku akan bermain dengan Kak Nico di bagian ganda campuran. Bukannya tak bersyukur, tapi aku baru tau kakak senior itu yang dibilang jago badminton dan popular, tingkahnya sangat menyebalkan! Bahkan ia bersikap dingin kepadaku yang saat ini sebagai partner di School Sport Competition bersama dia nanti.

Gimana mau menang kalau kerjasama tim aja tak ada?! Saking jengkelnya, aku pun memutar bola mataku. Daripada aku terus-menerus memikirkan partnerku yang dinginnya minta ampun itu, lebih baik aku melakukan peregangan tubuh sebentar. Ku tarik kedua tanganku sejajar di atas kepalaku. Selanjutnya aku arahkan ke samping kanan, samping kiri, juga bawah. Saat sesi pernafasan, aku mendengar suara Genta dengan nada ejekannya yang luar biasa menyebalkan.

"Ciee yang jomblo. Mana nih partnernya?" Genta menghampiriku dengan memutar-mutarkan raketnya.

"Kurang ajar lo ya dari tadi. Udah jangan ganggu gue, gue lagi males mikirin partner." Aku melempar shuttlecock tepat ke mukanya Genta.

"Hahaha sorry deh. Yaudah gak usah dipikirin Je. Kita pulang bareng mau gak? Tapi sebelumnya gue mau mandi dulu." Genta memasukkan raketnya ke dalam sarung raket.

"Mmm okay deh.. gue juga mau mandi dulu kali."


Selesai mandi dan ganti baju, aku dan Genta berjalan ke lorong loker baru. Namun sebelum mengarah ke lorong loker baru, kita harus melewati lorong loker lama terlebih dahulu. Semenjak cctv menangkap tindak pembullyan yang melibatkanku di lorong loker lama, kepala sekolah dan segenap pengurus sekolah sepakat untuk membuang loker lama sekolah, sehingga lorong tersebut dibiarkan kosong.

"Ta, lorong tempat loker lama jadi kosong gitu ya? Jadi keliatan serem deh." Aku melirik ke dalam lorong itu yang gelap dan lembap.

"Iya jadi gelap banget. Gue seret kesana mau gak lo?"

Secara reflek aku menutupi badanku dengan tas. "Mau ngapain lo?"

"Je, gue gak mikir kesana kali. Wah ini sih lo sendiri mikir yang aneh-aneh nih! hahaha." Genta tertawa terbahak-bahak.

"Ih apa sih! tau ah lupain!" pipiku pun memerah.

Setelah memasukkan barang-barang yang dipakai tadi olahraga ke dalam loker. Karena loker baru dekat dengan ruang-ruang ekstrakulikuler seperti badminton, karate, mading, dan sebaginya, langkah kakiku dibuat perlahan untuk melewati ruang karate yang tepat beberapa meter lagi. Saat tepat di jendelanya, aku melirik ke dalam.

Tampak satu sosok yang aku cari-cari dari tadi siang, ia sedang berdiskusi dengan orang-orang disitu. Kak Yugo tampan sekali kalau sedang serius seperti itu. Ia berbicara sambil membuat gerakan pada tangannya. Sosok yang suka memimpin memang seperti itu rupanya. Bukannya Kak Yugo yang menyadariku, sialnya malah Willa yang menyadari keberadaanku, lalu melambaikan tangan tanpa menghiraukan orang yang ada disampingnya sedang mengemukakan pendapat. Aku hanya tertawa kecil melihatnya bertingkah seperti itu.


Kita pun langsung berjalan menuju gerbang sekolah, sesaat melangkah keluar dari gerbang sekolah, muncul lah Willa berlari ke arahku.

"Jeeeee?" teriaknya bagaikan tarzan.

"Apa Will? Aduh teriak lo tuh kayak tarzan lagi di hutan tau gak!"

"Bukan tarzan, Je. Tapi temennya tarzan," tambah Genta.

"Siapa temennya tarzan?" tanya Willa.

Because of HimCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang