Maaf atas keterlambatan update nya karena author nya tumbang beberapa hari kemarin. Sebagai gantinya, author buat cerita ini lebih panjang dari sebelumnya. Sekali lagi maaf udah buat nunggu^^
Suara petir seperti menyambutku, ketika taksi yang aku naiki memasuki area sekolah. Entah apa yang ada di depan sana hingga membuat taksi yang ku tumpangi tak bisa melaju, padahal tinggal 5 menit lagi bel masuk sekolah akan berbunyi. Baru beberapa detik setelah memutuskan untuk berjalan kaki, rintik hujan tiba-tiba menghujam tanah.
Beberapa menit kemudian hujan itu berubah menjadi sangat lebat. Sehabis memberikan ongkos taksi, kakiku langsung berlari menuju gerbang sekolah. Mungkin hentakan kakiku cukup kencang, hingga air yang terkena pijakanku terciprat kemana-mana. Aku sudah tidak mempedulikan dengan seragamku yang mulai basah. Hanya dengan beberapa detik sebelum langkah kakiku mencapai gerbang sekolah, gerbang itu mulai ditutup oleh satpam sekolah.
"Fiuh.. kali ini hampir," kataku sambil mengatur nafas.
Sebelum memasuki kelas, aku berjalan menuju kamar mandi untuk merapikan rambutku yang sudah berantakan seperti orang yang baru menaiki roller coaster. Namun hanya seragamku yang tidak bisa terselamatkan dari guyuran hujan tadi. Terdengar beberapa kali bunyi gemuruh dari petir. Kilatan pun ikut menyambar ke sana-ke mari yang terlihat dari pantulan cermin yang sedang aku lihat ini. Setelah dirasa cukup rapi, aku berjalan ke arah tangga untuk naik ke lantai atas.
Belum sampai menaiki tangga, aku melihat Yugo sedang berbicara dengan seseorang melalui handphonenya. Aku mendengar ucapannya cukup jelas. "Iya sayang, nanti tunggu aja di kantin. Aku mau masuk kelas dulu. Okay, bye!" ucapnya. Seketika itu pula aku berusaha bersembunyi di bawah tangga, dan berharap dia tidak melihat kehadiranku yang tanpa sengaja telah menguping pembicaraannya. Setelah Yugo telah hilang dari pandanganku, aku baru berani menaiki tangga menuju kelasku.
Sesampainya di kelas, aku heran mengapa semua mata tertuju padaku. Apakah ada sesuatu yang aneh di rambutku atau bajuku, tapi terakhir kali aku mengecek tadi di kamar mandi, tidak ada sesuatu yang memalukan sampai-sampai membuatku menjadi pusat perhatian seperti ini. Aku perlahan berjalan menuju bangkuku. Willa yang duduk di sampingku, masih melihatku dengan tatapan cemasnya. Aku mengerutkan dahi sambil melihatnya.
"Je, gue anter ke UKS yuk!" Willa memegang tanganku erat.
Ketika tangan Willa menempel di kulitku, entah mengapa tangan Willa hangat sekali.
"Will, tangan lo anget deh," jawabku polos.
"Bukan gue yang anget, tapi emang badan lo yang dingin. Lo abis hujan-hujanan ya?!"
Aku hanya merespon dengan sekali anggukan.
"Je, muka lo pucet banget itu," timpa Zike yang duduk di belakangku.
"Apa sih, gak apa-apa kok girls."
Guru Bahasa Indonesia masih belum datang juga, padahal sudah jam 07:05. Tiba-tiba aku merasakan pusing yang teramat sangat menyerang kepalaku. Aku pikir, aku harus menghapus coretan yang ada di papan tulis sebelum guru itu datang dan marah-marah karena papan tulisnya penuh dengan coretan. Aku berjalan perlahan menuju papan tulis. Menghapus mulai dari bagian bawah lalu ke bagian tengah. Saat di bagian atas, aku mulai sedikit berjinjit untuk mencapai coretan itu. Aku tidak tau apa yang terjadi, tiba-tiba mataku gelap dan aku merasa sakit di bagian kepalaku yang membentur lantai.
Sehabis itu aku tidak tau lagi apa yang telah terjadi. Saat tersadar aku sudah terbaring di tempat tidur tepatnya di ruang UKS. Aku melihat ke seluruh isi ruang ini, dan mendapati Willa sedang duduk di samping kananku. Dia sedang asyik memainkan handphonenya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because of Him
RomanceBerawal dari siswa-siswi yang tak saling mengenal, antara lain Jefanka dan Yugo. Mereka bertemu secara tak sengaja di sebuah waktu yang tak terduga. Kejadian demi kejadian membuat mereka dekat dan sesuatu hal yang tak diharapkan terjadi, tumbuh...
