Sekarang aku hanya memikirkan semuanya tentang dia hingga membuatku melamun. Lalu lamunan itu telah menghanyutkanku sampai-sampai wajahnya Nico sudah berada tepat di depan wajahku hanya dengan berjarak beberapa centimeter.
"Heh! Apaan sih lo kak!"
Aku tau wajahku kini berubah seperti sayuran yang dikukus dan penuh dengan uap.
"Abisnya lo ngelamun disaat yang gak tepat! Yaudah cepet ikut gue!" ucapnya dengan menarik tanganku.
"Gak! Gak lagi! Kenapa dia jadi hobi banget genggam tangan gue sih?!"
"Pelan-pelan kak!"
Perkataanku pun tidak didengar olehnya.
Ia hanya terus berjalan di depanku dengan tangan kiri masih menggenggam tangan kananku. Kita terus berjalan sampai di depan pintu rumah. Nico perlahan mendorong pintu itu dan kita berdua mendapati banyak orang yang sudah berada di sana, dan mereka semua serempak melihat ke arah kita. Betapa malunya aku menjadi pusat perhatian karena keterlambatanku ini, dan karena aku juga, Nico menjadi sasaran mata-mata itu.
Suasana canggung itu kemudian hilang ketika seseorang yang punya acara di sana, menghampiriku secara perlahan.
"Je, lo dari mana aja?" tanya Yugo.
"Ma.. maaf ya kak, gue terlambat parah banget."
"Lo udah buat gue khawatir! Btw kamu cantik banget Je."
Aku tak pernah terpikir bahwa Yugo akan berkata hal seperti itu kepadaku. Sesaat Yugo mengatakan hal itu, Nico langsung melepaskan genggaman tangannya. Lalu dia berjalan ke arah Oka yang sedang berdiri di dekat meja yang terdapat banyak minuman.
"Thanks anyway, tapi kak maaf ya.. gara-gara gue terlambat, banyak teman-teman kakak jadi terganggu," ucapku pelan.
"Gak ada yang terganggu dengan kehadiran lo Je. Ayo kesini!"
Sekarang giliran tangan Yugo yang menggenggam tanganku, sampai aku tersadar bahwa ada sepasang mata yang bener-bener berbeda dari mata lainnya. Seseorang itu melihat sinis ke arah aku dan Yugo. Seseorang yang lebih mementingkan pergi ke Bali daripada pertandingan karate Yugo yang diadakan selama seminggu. Dialah Naura, yang aku lihat sedang memegang minuman di sudut lain meja minuman itu, melihatku seperti mata elang.
Setelah itu Naura menghampiri Yugo dengan kecepatan penuh. Bagaikan perempuan-perempuan yang heboh saat melihat diskonan di sebuah mall. Ia menarik tangan Yugo utnuk mendekat padanya. Tidak sampai di situ, Naura juga melakukan kontak tubuh lainnya seperti membisikan sesuatu tepat ke telinga Yugo, menepuk-nepuk pundaknya, dan mengusap rambutnya. Sesekali Naura melihat ke arahku.
Tak tau apa maksudnya dengan dia melakukan semua itu di depanku. Apakah tidak ada tempat lain untuk bermesraan? Aku pikir rumah Yugo ini sangatlah luas, halaman depannya saja sudah seperti setengah lapangan bola. Aku yang berada di samping Yugo, melihat hal itu dengan jelas dan yang bisa aku lakukan hanyalah memutar bola mataku. Sungguh pertunjukkan yang membuatku ingin enyah dari sana. Aku tak tau itu cemburu atau apa, yang jelas aku tidak suka melihat perempuan yang bertingkah laku seperti itu dengan seorang laki-laki yang tidak memiliki status hubungan dengannya sama sekali.
Aku mencoba untuk menetralkan pikiran dan mood-ku dengan berjalan ke arah meja besar yang terdapat minuman yang super banyak itu, di samping meja itu juga terdapat meja besar yang penuh dengan ice cream dan makanan yang bervariasi. Mulai dari makanan jepang seperti takoyaki sampai makanan western seperti hotdog.
Aku mengambil satu minuman yang aku tau adalah jus strawberry, tak sampai di situ aku juga menghampiri meja besar yang satunya dengan mengambil satu cup ice cream strawberry. Lalu aku bawa ice cream itu jauh dari kerumunan. Aku duduk tepat di dekat tangga, di mana tidak banyak orang yang berada di sini. Sendok demi sendok aku lahap ice cream itu dengan langsung menelannya ke tenggorokanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because of Him
RomanceBerawal dari siswa-siswi yang tak saling mengenal, antara lain Jefanka dan Yugo. Mereka bertemu secara tak sengaja di sebuah waktu yang tak terduga. Kejadian demi kejadian membuat mereka dekat dan sesuatu hal yang tak diharapkan terjadi, tumbuh...
