Mungkin sebagian manusia di dunia sudah tau tentang sejarah mengapa minggu merupakan hari libur dan senin adalah awal memulai kesibukan. Tidak hanya untuk para pekerja, namun untuk siswa dan siswi sekolah, hari senin dianggap lebih kramat dari hari-hari biasanya. Selain adanya upacara, hari itu juga menjadi awal pelajaran-pelajaran yang sulit.
Tak terkecuali untuk siswa-siswi di Bellva International High School ini. Hari Senin adalah hari wajib untuk pelajaran matematika atau kimia. Namun sepertinya hanya diriku yang merasa Senin ini yang punya beban ganda. Tak hanya itu semua, tapi juga bebanku saat bertemu Nico dan Yugo nanti setelah kejadian kemarin dan kemarinnya lagi. Entah mengapa aku menjadi memikirkan yang tidak-tidak tentang mereka.
"Je, ini penggaris yang tadi gue pinjem."
Aku mendengar suara itu, tapi kesadaranku masih diambil alih oleh lamunanku yang abstrak.
"Je! Woi Je!" Willa mengguncang-guncangkan pundakku.
"Hah? Apa Willa?" tanyaku seperti orang bodoh.
"Lo apa-apaan sih pagi-pagi udah ngelamun. Itu Nika mau kembaliin penggaris."
Willa kalau kesel sama aku pasti nyubit-nyubit, anehnya itu tidak membuatku sakit, tapi malah geli sendiri karena melihat ekspresinya seperti ibu-ibu yang kesel karena anaknya tidak mau mandi sore, dan akhirnya ibu itu mengguyurkan air ke kepala anaknya sambil ngomel-ngomel.
"Sorry ya Nika.. kayaknya otak gue emang butuh asupan," kataku dengan langsung duduk menghadap belakang.
"Iya gak apa, Je. Yaelah ini juga udah waktunya istirahat kok Je," jawab Nika.
Sebelum penggaris itu mendarat di tanganku, penggaris itu sudah mendarat lebih dulu di kepalaku.
"Aw! Sakit Zike!"
"Lagian lo ngelamun aja sih," ucap Zike gemas.
"Kayaknya bukan cuma gue yang ngelamun pagi ini."
Aku memberi kode kepada mereka dengan menunjuk ke arah Genta yang duduk di belakang Zike. Aku dan yang lainnya sama-sama beranjak dari kursi dan menghampiri Genta perlahan. Belum sempat mengagetkannya, dia sudah menangkap basah kita.
"Hayo kalian mau ngapain?!"
"Gak, itu Jefanka ngajakin ke kantin. Lo mau ikut gak?" tanya Willa.
"Dih alibi lo Will!"
Genta beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu. Tiba-tiba dia berhenti dan menoleh.
"Lah kenapa pada diem? Katanya mau ke kantin? Gue yang traktir deh."
Mendengar perkataan itu, semua termasuk aku langsung tertawa.
"Nah gitu dong!" ujar Zike.
"Kalian kalau denger kata traktir langsung nyengir semua ya," respon Genta sambil tertawa.
Setelah itu kita berjalan menuju kantin. Di sana kita berpencar dengan membeli makanan yang berbeda-beda. Tadinya aku ingin membeli ketropak, tapi entah mengapa aku lebih ingin makan roti bakar.
"Ta, lo tungguin mejanya. lo mau apa? gue pesenin deh."
"Lo mau beli apa Je?" tanya Genta.
"Gue mau beli roti bakar ice cream. Lo mau apa?"
"Gue roti bakar coklat keju aja."
Aku pun balas dengan mengacungkan jempolku padanya. Untung saja kedai roti bakar tidak seramai biasanya, jadi aku tidak perlu mengantri panjang. Disaat aku memesan, aku tak sengaja menyenggol tangan seseorang. Dan saat aku menoleh ke arah wajahnya, ternyata dia adalah Yugo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because of Him
RomanceBerawal dari siswa-siswi yang tak saling mengenal, antara lain Jefanka dan Yugo. Mereka bertemu secara tak sengaja di sebuah waktu yang tak terduga. Kejadian demi kejadian membuat mereka dekat dan sesuatu hal yang tak diharapkan terjadi, tumbuh...
