"Bukan aku yang ingin pergi, namun hati mu yang menolak kehadiran diriku ini"
-HazzfaNaeema
Gadis itu menangis terisak dengan memeluk lututnya sendiri. Jam kini sudah menunjukkan pukul 01.25, namun gadis itu tak kunjung tidur untuk beraktivitas besok. Ah, jangankan untuk beraktivitas besok, mengganti pakaian saja rasanya sudah tak sanggup.
Pikirannya berkecamuk, dadanya merasakan sakit yang tak kunjung hilang. Mengapa? Mengapa harus sekarang? Mengapa ia harus tahu sekarang, saat luka yang di torehkan laki-laki itu belum sepenuhnya sembuh dan kini sudah bertambah lagi? Hatinya sungguh tak tenang, dalam benaknya ia terus bertanya-tanya, siapa Kara? Sejak kapan Haffaz melecehkan gadis itu? Ia sungguh tak tahu.
Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur king size miliknya. Memeluk dirinya sendiri dengan sangat erat. Air matanya tetap mengalir, dengan hati yang di hancurkan oleh kenyataan.
Perlahan matanya mulai menutup, dengan baju sekolah yang kini masih ia kenakan.
"Bunda..."
"Ayah..."
***
Matahari masuk melewati celah jendela kamarnya. Matanya terbuka, jujur saja ia lelah untuk menjalani sekolah hari ini, tapi ia tak ingin membuat Biya khawatir dengannya. Mungkin lebih tepatnya membuat khawatir lelaki brengsek itu, ah yang benar saja!
Dirinya bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ia tak peduli dengan penampilannya yang sekarang, yang terpenting ia berangkat ke sekolah.
Ia menatap dirinya di depan cermin besar yang ada di kamarnya, tersenyum miris sambil menahan air matanya yang hendak keluar.
"Oke, Hazzfa kuat!" semangatnya pada diri sendiri.
Sedangkan disisi lain, keluarga nyaman dan tenang sedang sarapan bersama. Haffaz, lelaki itu tersenyum merekah saat melihat roti bakar kesukaan buatan mamanya itu.
Ia duduk di salah satu kursi meja makan, melahap roti kesukaannya itu. Tapi ia berhenti saat mendengar kakaknya yang berbicara tentang seseorang yang sangat ia kenal.
"Faz, kemarin gue liat Hazzfa sama cowok laen. Ngga tau deh itu siapa. Gue kira lo, soalnya kalo itu lo pengen banget gue ledekin gitu, eh pas tuh cowok ngga sengaja nengok bukan lo ternyata," ucap Nayla sambil melahap nasi gorengnya.
Rahangnya mengeras, tangannya yang tadi memegang roti kini berganti dengan mengepal. Ia yakin, sangat-sangat yakin bahwa lelaki yang bersama gadisnya itu adalah Danu.
"Haffaz berangkat!" pamitnya yang langsung keluar membuat mereka terheran-heran.
"Kenapa dia?" tanya Reno yang baru menuruni tangga.
"Biasa, nih si Nayla suka jadi kompor" celetuk Resa yang langsung di tatap sinis oleh Nayla, anaknya.
Haffaz menancapkan gas motornya meninggalkan rumahnya dengan hati yang campur aduk. Perkataan kakaknya sungguh membuat dirinya sangat amat marah. Berani sekali gadis itu berjalan dengan pria lain tanpa dirinya tahu? Bahkan jika ia tahu, ia tak akan mengizinkan Hazzfa dengan siapapun, apalagi itu sahabatnya.
Ia berjalan di koridor dengan langkah cepat saat melihat gadis yang ingin ia temui. Dengan cepat ia menarik lengan gadis itu, membawanya ke Rooftop sekolah. Dan itu mampu membuat para ciwi-ciwi disana menganga tak percaya.
Ia melepaskan cengkraman tangannya dengan kuat, membuat gadis itu meringis. "Aww!"
"Kamu apa-apaan sih?!"
Haffaz mengacak rambutnya, bisa-bisanya cewek di depannya ini bertanya segampang itu, padahal dirinya sudah membuat kesalahan yang membuat Haffaz emosi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Everything Is Fake
Teen FictionBagaimana jika jadinya aku hanyalah butiran debu bagi kamu yang benar-benar batu? Butiran debu yang hanya di lewatkan dan tidak di pedulikan. Bagaimana jika jadinya aku tetap mencintaimu walaupun sikapmu berbanding terbalik denganku? Apa aku harus m...
