Parents, huh?

24.7K 2.1K 175
                                        

Keluarga Zavica merupakan keluarga yang terkenal akan perusahaan internasional mereka yang bergerak di bidang industri dan persenjataan.

Jadi wajar jika Jeslyn dulunya lebih fokus untuk menjadi sniper dibandingkan yang lain. Karena keluarga Jeslyn yang memang memiliki pasokan senjata lengkap, membuat Jeslyn tertarik untuk menggunakannya.

Namun hal ini seolah menjadi beban di pikiran Jeslyn karena orang tuanya yang tidak menyetujui keputusannya ini. Tidak, mereka tidak tau bahwa Jeslyn adalah anggota sebuah gangster dan merupakan sniper di dalamnya. Mereka mengira bahwa Jeslyn menjual senjata-senjata itu secara ilegal di pasar gelap. Bodoh sekali, apa untungnya bagi Jeslyn? 

Namun Jeslyn tetap bersikeras, menurut Jeslyn inilah satu-satunya cara baginya untuk bisa melindungi orang-orang yang ia sayangi. Tetapi Jeslyn tidak ingin keluarganya tau karena hanya akan membuat mereka melarangnya lebih keras lagi.

Oleh sebab itu, Jeslyn secara diam-diam membuat ruang senjatanya sendiri.

Ya setidaknya itulah yang bisa Jessie lihat dari ingatan Jeslyn. Jessie ingat bahwa ada ruang rahasia yang pintu masuknya berada di walk in closetnya. Yang Jessie tidak ingat adalah masalah saklar itu. Tapi...

"Kok isinya malah sepatu sama tas?" ucap Jessie setelah melihat-melihat ke dalam ruangan itu.

Di dalam ruangan yang didominasi warna ungu dengan kombinasi putih itu terdapat banyak sekali rak yang berisi sepatu dan tas dengan berbagai macam merk dan jenis. Di tengah ruangan terdapat pouf bundar berwarna ungu pastel dengan diameter sekitar 1 meter.

"Si Jeslyn hobinya kek beginian ye" ucap Jessie saat tengah melihat-lihat tas dan sepatu yang tersusun rapi di rak berdasarkan warna mereka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Si Jeslyn hobinya kek beginian ye" ucap Jessie saat tengah melihat-lihat tas dan sepatu yang tersusun rapi di rak berdasarkan warna mereka.

"Nih tas kalo gue jual semua bisa foya-foya sampe mati gue. Belom lagi sepatunya" ucap Jeslyn berkacak pinggang melihat barang-barang branded berkilauan di sekitarnya.

Pandangannya terhenti pada sebuah snikers putih yang nampak usang yang terletak di bagian sudut bawah rak, tempat yang tidak mencolok namun tidak mampu melewati ketelitian Jessie. Di antara semua barang di sini hanya sepatu itu yang bisa dibilang err-jelek(?)

'Kalo barang yang lainnya bagus-bagus dan terbaru, kok bisa yang ini jelek sendiri? Kan aneh' batin Jessie seraya berjalan mendekati sepatu tersebut. Ia berjongkok, tangannya terulur ingin meraih sepatu itu, namun-

"Jessie"

Suara seseorang membuatnya menghentikan tangannya. Ia segera berdiri dan berbalik mendapati Gibran yang tengah menatapnya dari pintu masuk ruangan ini. Gibran nampak tidak terkejut dengan adanya ruangan ini, karena mereka semua sudah tau tentang 'lemari' rahasia Jeslyn yang berisi barang-barang kesukaannya.

"Abang? Ada apa?" tanya Jessie sembari berjalan mendekati kakaknya.

"Jessie kemana aja? Abang panggil daritadi gak disahut" tanya Gibran khawatir sambil menggenggam kedua lengan Jeslyn erat.

Villainess' RevengeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang