Forgiveness? Pfftt

22.5K 2.1K 77
                                        

[Jessie's POV]

Dimana ini? Tempat ini terasa familiar. Ah aku ingat, ini tempat dimana aku bertemu dengan Jeslyn yang asli waktu itu. Aku pun berjalan tak tentu arah, berharap ada yang memberiku petunjuk.

Seolah ada yang mengerti kehendakku, sebuah kupu-kupu cantik berwarna ungu muncul dihadapanku. Akupun tanpa ragu mengikutinya, karena aku tau itu jelmaan siapa.

Setelah lumayan jauh berlari, kupu-kupu itu berhenti di bawah pohon apel rindang dimana seorang gadis berambut keunguan tengah duduk di bawahnya. Ah tunggu, gadis itu tidak sendirian. Ia nampak tengah bersenda gurau bersama seorang wanita cantik berambut hitam, 'bukannya itu...' batinku saat melihat wanita cantik itu.

"Jessie~!" Jeslyn melambaikan tangannya memanggilku. Aku pun berlari kecil mendekatinya ke arah pohon itu.

Bruk

Aku terkejut saat Jeslyn tiba-tiba memelukku erat, namun sekian detik kemudian tanganku terangkat membalas pelukan Jeslyn.

"Makasih banyak Jes hiks berkat lo semuanya hiks semua ini berkat lo Jes" ucap Jeslyn masih di dalam pelukanku.

Aku tersenyum lembut, "Gue seneng kalo lo udah tenang sekarang" ucapku sembari mengusap punggung kecilnya yang bergetar.

"Ini ya yang namanya Jessie?"

Wanita berambut hitam itu kini berada di hadapanku, ada satu anak yang wajahnya terlintas di pikiranku saat melihat wajah wanita ini.

"Jes, ini-"

"Kak Sisca?" ucapan Jeslyn kupotong. Jelas-jelas wanita ini adalah Sisca.

Wanita itu tersenyum manis, "Ansel kecantol sama kamu ya sekarang? Haha maaf ya, Ansel emang jarang banget lengket sama orang. Saya aja ninggalin dia waktu dia masih 3 tahun" ucap Sisca tersenyum sendu.

Melihat wajah sedihnya, hatiku terasa berdenyut. Mulutku terbuka, "A-Ansel anak kuat kok!" seruanku membuatnya mendongak menatapku.

"Dia gak pernah ngerepotin siapapun, dia juga ga pernah ngeluh, dia pinter, dia imut lucu" ucapku panjang lebar ingin menangis.

Ia tersenyum lembut, tangannya terulur meraih tanganku, "Makasih banyak ya, tolong jagain mereka" ucapnya kemudian tangannya beralih memelukku erat. Hangat, itulah yang kurasakan di dalam pelukannya.

"I-iya, tan-eh kak" ucapku bingung dan salah tingkah.

Ia tertawa kecil, "Fufufu kok kakak sih? Kamu manggil Michael aja papa masa manggil saya kakak? Saya kan isterinya Micheal, jadi panggilnya mama dong" ucapnya mengelus rambutku pelan.

"I-iya ma" ucapku.

Ia melepas pelukannya, ia tersenyum begitu manis padaku. Aku tidak heran kenapa Micheal sampai jatuh hati pada wanita ini.

Pandanganku beralih, "Jeslyn" panggilku pada gadis cantik yang aku tempati tubuhnya itu. Ia menoleh, "Iya?" jawabnya.

"Mereka mau diapain?" tanyaku. Jujur aku tidak tau mereka harus kuapakan. Karena aku tidak memiliki hak atas tubuh Jessie sama sekali.

Jessie tersenyum mendengar pertanyaanku, "Menurut lo mereka pantes ga dimaafin?" tanya Jeslyn.

Aku terdiam, jujur kalau aku berada di posisi Jeslyn aku pun tidak akan mampu memaafkan mereka sekeras apapun aku mencoba. Perbuatan mereka yang seenaknya terhadaoku seolah aku adalah alat bagi mereka, tentu saja hal itu tidak bisa dimaafkan.

Aku pun menggeleng pelan menjawab pertanyaan Jeslyn.

Ia kembali tersenyum, "Jes, gue udah mati. Gue udah ga bisa apa-apa lagi di dunia. Tapi lo, lo hidup Jes. Keputusan itu ada di tangan lo" ucapnya meyakinkan. Sisca menatap Jeslyn lembut namun sedih, ia bangga namun juga kasihan pada Jeslyn.

Villainess' RevengeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang