DUA PULUH SATU

507 40 0
                                        

Garlan menggunakan topinya untuk mengipasi badannya dengan kancing seragam atas dibiarkan tebuka. Mengingat dirinya yang baru saja menghukum siswa-siswi SMA Tirta yang tidak memakai topi, atau dasi sehabis upacara tadi membuat dirinya gerah karena paparan sinar matahari.

Kelas 12 IPA-2 ada di lantai atas. Berdiri di depan kelas dengan bertumpu pembatas membuat Garlan lebih nikmat lagi mendapatkan semilir angin yang lumayan sejuk. Tangannya terulur ke dalam saku ketika dirinya mengingat sesuatu. Sebuah surat, yang tadi ia dapatkan dari Arlan.

Hai Kak. Gina tulis surat ini karena Gina nggak berani ketemu sama Kak Garlan. Gina mau minta maaf soal ucapan Gina kemarin malam. Gina nggak bermaksud bilang begitu. Sekali lagi Gina minta maaf. Dan Gina bakalan habisin cokelatnya dari Kak Garlan seperti biasa.

“Gimana?”

“Eh, monyet!” Garlan terkejut bukan main karena tingkah Arlan barusan. Tiba-tiba cowok itu muncul langsung di depan wajahnya dengan muka konyol khas milik Arlan.

Dan cowok tidak tampan tetapi playboy itu malah saat ini tertawa.

Garlan tak menanggapi tingkah sahabatnya. Dirinya memilih menatap ke depan, sesekali matanya melirik ke bawah sana melihat murid lain yang masih berseliweran karena kegiatan pembelajaran pun belum dimulai.

“Gimana, woi?! Gue tanya, Pak Ketos, kok nggak dijawab!” ucap Arlan geram sendiri.

“Ya gitu.”

Oke, ingatkan Arlan untuk bersabar.

“Ada masalah lagi?”

“Cuman masalah kecil,” sahut Garlan dengan enteng. Kemudian ia menoleh ke arah Arlan yang memakan permen karet.

“Gue lihat tadi pagi lo nggak barengan sama Gina.”

“Ya itu, karena masalah kecil.” Ucapnya, Garlan tersenyum jahil melihat ekspresi kesal dari Arlan karena jawabannya. “Dia salah paham pas dia nggak sengaja denger bokap gua sama tante Helena bahas kerja sama mereka. Dia ngira gue deketin dia lagi karena kerja sama itu,” ucap Garlan menjelaskan.

Bahkan tadi pagi, saat dirinya ke rumah sang mantan. Dirinya tidak menemui Gina karena kata Helena, putrinya itu sudah berangkat pagi-pagi sekali.

“Buset, dah. Bingung gue sama kelakuan kaum hawa,” ucap Arlan sok-sokan.

“Caelah, tampang cap playboy kayak lo pake bilang gitu.” Garlan mendaratkan topinya ke muka Arlan sebelum masuk ke dalam kelasnya.

Bersamaan dengan hal itu, bel masuk pun berdering nyaring.

Krrrriiiing!

🔻🔺️🔻

“SEKALI LAGI! DIMOHON UNTUK SEMUA ANGGOTA OSIS UNTUK BERKUMPUL DI GEDUNG OLAHRAGA SMA TIRTA. TERIMA KASIH!”

Gina yang mendengar pengumuman dari pengeras suara sekolah tidak berminat untuk bangkit dari duduknya. Sampai suara Uti membuat cewek itu menoleh.

“Gina. Lo nggak ke GOR?”

Gina menggelengkan kepalanya. “Lah?” bingung Uti mengerutkan alisnya.

“Gina, kenapa masih duduk? Silakan, ibu ijinkan kamu keluar.”

Belum sempat Uti berbicara lagi, guru yang mengajar di kelas 11 IPA-1 itu mengeluarkan suaranya. Terpaksa Gina berdiri, menyalami guru yang masih muda nan cantik itu sebelum keluar dari kelas.

Kejar Mantan [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang