TIGA PULUH SEMBILAN

581 26 0
                                        

Hai, ges. Balik lagi, yah?😂

Cusss baca

---HAPPY READING---

🔆 LDR 🔆

Sekolah SMA sudah selesai mereka tempuh. Saatnya mereka melangkah lagi ke jenjang untuk masa depan. Mencari ilmu di salah satu Universitas yang mereka inginkan, salah satunya itu.

Sama halnya dengan Garlan. Bedanya saat ia sibuk dengan kuliahnya nanti, dirinya juga disibukkan dengan Cafe barunya. Seperti saat ini, dia sedang ada di sebuah bangunan yang didesain seperti Cafe pada umumnya. Dengan plang yang barus dipasangkan dua orang suruhannya.

TwoG S Cafe

Yap. Itu adalah bisnis kecil yang dia rancang sejak dulu. Bermodalkan dengan uang saku yang diberikan Tama yang sangat-sangat melebihi kantong seorang anak SMA. Garlan yang cerdik, membuat usaha itu dengan membuka dua cabang sekaligus.

Yang satu ada di Jakarta. Satunya lagi ada di Bandung. Pasti tahulah kenapa Bandung yang ia pilih.

"Dua G berarti Gina dan Garlan. Ditambah S yang berarti selamanya," ucap cowok itu memandang plang yang baru dipasang.

Getaran di saku celananya membuatnya mengangkat panggilan telepon itu. "Hallo, Pi?"

"Hei bocah! Apa kamu benar membuka Cafe dan itu tanpa sepengetahuan, Papi?!"

Garlan terkekeh dengan kekesalan Papinya. Sengaja dia tidak memberitahu Tama. Seperti Papinya yang tidak memberitahu keberadaan Gina dulu. Balas dendam?

Mungkin.

"Belum buka, Pi. Masih ada beberapa hal yang harus dipersiapkan," jawab Garlan. "Toh sekarang Papi 'kan udah tahu. Nggak usah ngomel kayak ibu-ibu." Garlan terkekeh membayangkan wajah kesalnya Tama.

"Papi bingung aja gitu. Maling dari mana kamu buat modal buka Cafe?"

"Sungguh teganya dirimu wahai papi," ucap Garlan jenaka. "Lebihan uang saku yang papi kasih. 100 juta setiap bulan selama tiga tahun buat Garlan sendiri mana Garlan bisa habisin, Papi," ucap cowok itu. Meskipun ia sering mentraktir teman-temannya tetapi dia juga bisa memanfaatkan dengan baik.

Terdengar kekehan dari seberang sana. "Nah, papi rasa cuman papi yang jadi orang tua kasih uang saku ke anaknya sampek bisa buat buka Cafe macam kamu, bocah!" ucap Tama menyombongkan diri.

Yah, sultan, mah bebas, sahut Garlan dalam hati.

"Berarti itu kamu utang sama papi. Jadi kamu harus ganti, ya, bocah."

"Pasti," jawab Garlan dengan mantap. Meskipun dalam hati menggerutu. Mana ada sesuatu yang dikasih malah diambil balik, batin Garlan.

Tama tertawa mendengarnya. "Nggak usah. Itu memang sudah hak kamu. Bahkan semua yang papi punya itu milik kamu. Jadi nggak usah ganti. Papi bercanda."

"Tapi Garlan serius."

Tama mendengar baik-baik ucapan anaknya. Tak menyahut membuat Garlan melanjutkan ucapannya.

"Garlan bakal ganti dengan kebahagian buat papi," ucap sang putra yang membuat Tama tersenyum haru.

"Memang apa yang buat papi bahagia?" tanya Tama seakan ingin mengetahui jawaban putranya. Padahal dirinya tahu, dengan Garlan yang tidak lagi membuatnya kecewa. Sudah pasti Tama merasa bahagia.

"Mungkin dengan mencarikan papi kekasih," jawab Garlan yang membuat senyum Tama luntur.

"Sialan," umpat pria itu membuahkan tawa kelakar dari sang anak.

Kejar Mantan [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang