Hai, ges. Balik lagi, yah?😂
Cusss baca
---HAPPY READING---
🔆 Pilihan 🔆
Ucapannya tidak main-main dan hasilnya juga bukan main.
Hubungan Garlan dan Gina kembali. Pacaran? Bukan. Mereka menjalin hubungan seperti dulu di awal-awal alias hubungan pertunangan.
Garlan langsung menemui Helena dengan Papinya. Setelah tahu Gina memantapkan hati untuk menerimanya lagi. Pertunangan pun terjadi meski hanya disaksikan kedua orang tua mereka.
Lihat, jari manis cowok itu terpasang cincin. Masih cincin yang dulu, yang pernah ia kotori dengan pengkhianatan yang berujung perpisahan. Tetapi kali ini berbeda. Tidak ada lagi soal benci. Tidak ada lagi soal terpaksa. Tidak ada lagi soal keraguan. Dan tidak ada lagi, niat untuk saling menyakiti.
Dan hari ini Garlan akan membuka Cafe yang ada di Bandung. Dirinya yang baru saja dari toilet kini menghampiri Gina yang berada di sebuah ruangan yang nantinya menjadi tempatnya berehat ketika dia berkunjung sini untuk mengecek Cafe-nya.
"Dada kakak. Iya... Kak Yudhis tenang aja. Oke, salam buat Kak Manda."
Itu suara Gina. Sepertinya cewek itu baru saja bertelepon dengan musuh Garlan. Itu dulu, sekarang enggak!
Gina yang duduk di sebuah sofa langsung terdiam ketika melihat Garlan. Cowok itu tersenyum, dan Gina balas dengan senyum pula tetapi terlihat terpaksa.
"Apa itu yang lo sembunyiin?" Panggilan lo-gue masih melekat. Jadi jangan bayangkan Garlan memanggil kamu-aku.
"Itu.... tadi. Hmmm, Kak Yudhis tiba-tiba telepon pas Kak Garlan ke toilet tadi."
Garlan terkekeh. Merasa gemas dengan Gina saat ini. "Gin. Nggak usah gitu juga reaksinya kalau gue tahu. Sekarang nggak ada lagi gue cemburu sama Yudhis. Gue udah belajar buat ngelola cemburu gue jadi lebih baik." Tangannya mengusap rambut Gina.
Gina yang mendengar pun tersenyum. Menatap seseorang yang sekarang kembali menjadi tunangannya.
Meski dengan cincin yang sama. Tetapi kali ini ada cinta.
"Makasih," ucap cewek itu. Gina mengambil tangan Garlan. Menyamakan tangan yang terpasang cincin itu, memperlihatkan jari manis keduanya yang dilingkari cincin.
"Sama-sama," jawab Garlan tersenyum ke arah tunangannya. Ceileh!
🔺️🔻🔺️
"Yang, yang. Dicariin Garlan kamu," ucap Arlan ke arah Adysti yang saat ini video call dengannya. Maklum saja mereka terus membuat panggilan video di waktu senggang, LDR berat ternyata.
Saat ini Arlan menghadiri pembukaan Cafe sahabatnya.
Tidak begitu ramai. Hanya beberapa teman SMA Tirta seangkatannya dan Garlan yang saat ini kuliah di Bandung. Tak lupa rekan bisnis Tama yang sengaja dia undang untuk menyombongkan putranya itu.
"Nggak, Ti. Tenang aja lo nggak gue cari lagi karena cincin yang lo colong udah balik," sahut Garlan yang langsung memenuhi layar HP sahabatnya.
Terdengar decakan dari benda pipih itu. "Gue juga bisa beli sendiri," sahut Adysti.
"Bener tuh. Bahkan lebih mahal dari cincin yang gue beli buat Adysti," timpal Arlan mengejek sahabatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kejar Mantan [END]
Novela Juvenil[PART LENGKAP] "Di saat orang-orang ngejar masa depan. Eh, lo sendiri yang ngejar masa lalu." Sindiran itu terucapkan untuk seorang pemuda. "Tapi gua ngejar karena ada hal yang memang ngedorong gue buat ngelakuin itu. Perasaan gue yang terlambat. Em...
![Kejar Mantan [END]](https://img.wattpad.com/cover/259154373-64-k646342.jpg)