DUA PULUH ENAM

399 27 0
                                        

Hai, ges. Balik lagi, yah?😂

Cusss baca

---HAPPY READING---

🔆 Harapan 🔆

"Diminum, Kak. Ini juga cemilannya dimakan, masih baru karena Gina baru beli tadi di minimarket," ucap Gina dengan senyuman.

"Makasih," balas Yudhis menuangkan es sirup ke gelasnya.

Tadi Gina tidak sengaja bertemu dengan Yudhis di depan minimarket dekat dengan perkomplekan rumahnya. Dan cowok itu menawarkan untuk mengantarnya pulang, hingga mereka duduk di kursi depan rumah minimalis bercat abu-abu itu.

"Udah pulang, Kak lesnya? Baru jam tiga masak udah selesai? Biasanya Kak Garlan jam empat baru keluar," ucap Gina menanyakan Yudhis yang masih memakai seragamnya.

"Ada perlu sama papa," balas cowok itu.

"Oh, kok masih di sini? Ntar ditungguin papanya Kak Yudhis."

"Itu kan alasan yang harus diberi sama guru les, Gin. Nggak harus dilakuin muridnya yang sebenarnya bolos."

Butuh beberapa detik Gina mencerna kalimat Yudhis sebelum mereka berdua tertawa.

"Dasar. Capek, ya, Kak?"

"Untuk sekarang capek. Tapi besoknya diusahain nggak capek lagi."

Jawaban Yudhis membuat Gina tersenyum. Memang, ada kalanya langkah harus berhenti, rehat sebentar untuk melanjutkan langkah ke depan.

"Kak Yudhis makasih," ucap Gina tersenyum tulus.

"Makasih apa, Gin?" Cowok itu membalas senyuman Gina.

"Makasih udah jagain Gina, udah jadi kakak buat Gina beberapa bulan ini." Begitu tulus ucapan cewek manis itu. Hingga senyuman cowok di depannya semakin melebar hingga keluar kekehan kecil.

"Sama-sama, Cantik." Balasnya mengacak suarai rambut Gina. "Lo itu amanah dari orang baik sebaik Om Pras. Orang yang begitu baik karena beberapa kali kita pernah bertemu. Bahkan beliau sudah gue anggep Om Pras itu Om gue sendiri. Saking dekatnya Om Pras sama papa karena ikatan persahabatan mereka yang begitu kuat, sering kali Om Pras bantuin papa meskipun beliau di masa sulit. Dan papa juga merasa nggak ada gunanya sebagai sahabat saat Om Oras cerita kalo..." Jeda sejenak, Yudhis melihat Gina sebentar sebelum melanjutkan ucapannya.

"Perusahaan Om Pras dalam masa sulit tapi papa juga sama-sama mengalami masa sulit waktu itu. Sampai lo ambil langkah untuk menjadi tunangan Garlan, orang yang sama sekali nggak lo kenal. Tetapi Om Pras tau kalau Garlan nggak suka banget sama lo," lanjut Yudhis.

Gina terdiam. Dirinya juga tahu kalau pertemuannya dengan Garlan, pandangan pertama yang terlihat adalah tatapan kebencian dari cowok itu. Mungkin dirinya egois, langsung mengiyakan permintaan Tama demi menyelamatkan perudashaan sang ayah. Tanpa bertemu atau perkenalan terlebih dulu, mereka langsung dipertemukan satu hari sebelum pesta pertunangan itu terjadi. Dan tanpa persetujuan atau pertimbangan dari Garlan. Secara tidak langsung, dirinya sekarang sadar perbuatannya yang terasa memanfaatkan Garlan di situasi dulu.

"Kapan kakak dimintai papa untuk jagain Gina?"

"Setelah acara pertunangan lo. Gue juga hadir di sana walaupun datangnya telat dan nggak ketemu sama lo. Gue juga hanya merespon mengangguk saat Om Pras bilang gitu, gue juga nggak tau lo meskipun lo satu sekolahan sama gue."

Kejar Mantan [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang