Halo, ges. Balik lagi, yah?😂
Cusss baca
---HAPPY READING---
🔆 Ritme Langkah 🔆
Saudara tak sepabrik itu menuju kelas Gina. Berjalan dengan ekspresi yang berbeda. Garlan yang setia dengan ekspresi datar, menghiraukan Arlan yang berkespresi tengil mengejek ke arahnya.
Sedari tadi Arlan menggodanya karena rahasia surat yang diberikan ke Gina itu hasil dari pikiran dan tulisan cowok itu. Bodohnya Garlan, kalimat yang keluar dari otak Arlan tidak ia tulis sendiri, tetapi cowok itu yang menuliskannya.
"Nggak bisa bayangin pas lo ketemu sama Gina nanti," ucap Arlan kemudian tertawa lagi.
Gila, sahut Garlan dalam hati.
Bel istirahat terdengar tiga menit yang lalu. Membuat koridor sekolah terisi para murid yang berjalan menuju kantin, atau ke tempat lainnya. Seperti perpustakaan mungkin.
"Hei." Gina yang baru saja keluar dari kelasnya sedikit terkejut, hampir saja menubruk tubuh sang mantan.
Garlan tersenyum. Demi apapun sebenarnya Garlan juga malu bertatap muka dengan Gina seperti ini. Apa lagi saat melirik ke arah Arlan yang sibuk menahan tawanya. Dan melihat Gina yang juga melirik ke arah Arlan dengan ekspresi yang sama seperti cowok itu. Rasanya Garlan ingin menutup kepalanya dengan kresek plastik.
"Gue ke toilet." Ucapnya langsung pergi begitu saja.
Dari pada menyaksikan orang yang menahan tawa karena dirinya. Dan pada akhirnya suara tawa hadir setelah dirinya melenggang pergi. Yah, lebih baik seperti itu.
🔻🔺️🔻
Kali ini mantan ketua OSIS itu gagal berargumen. Tempat yang tidak mau ia kunjungi kini dia pijak. Cafe dengan interior khas anak muda, yang menjadi saksi garis luka. Yang mengingatkan Gina, akan kisah masa lalu.
Cewek manis itu terlihat biasa saja saat ini. Berbeda dengan Garlan, yang berusaha untuk biasa saja dengan menatap Gina yang sibuk melihat suasana di dalam Cafe sana.
"Nostalgia dengan sikap kakak yang seperti dulu? Atau nostalgia waktu kakak pelukan sama Kak Adysti di depan Gina?"
Ingatan, ucapan, perlakuannya, pelukan itu, semuanya menyakitkan.
Dan ucapan Gina yang protes beberapa waktu lalu juga masih di ingatan Garlan.
"Kak, nanti pas libur kita ke pantai itu lagi, ya? Gina pengen ke sana, di sana tempatnya bagus buat foto," ucap Gina.
"Pantai mana?" Bingung Garlan.
"Yang itu, 30 Desmber. Pokoknya Gina mau ke sana," ucap cewek itu.
Garlan tak tau lagi selain ia menganggukkan kepalanya. "Tapi lo--"
"Sssst, nggak mau tau pokoknya ke sana."
Garlan langsung terdiam.
Mereka menunggu pesanan mereka datang. Masih dengan obrolan yang didominasi suara si cewek manis.
Dua tempat. Hanya dua tempat, yang Gina inginkan. Dan yang lagi-lagi membuat perasaan penuh sesal dalam diri Garlan hadir begitu saja. Cukup lama pandangan itu kosong, seolah hanya otak pikiran yang berfungsi.
Tangan seorang waitters yang menghidangkan makanan dan minuman pesanannya saja dihiraukan.
Gina yang melihat hal itu pun mengerutkan alisnya, bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kejar Mantan [END]
Fiksi Remaja[PART LENGKAP] "Di saat orang-orang ngejar masa depan. Eh, lo sendiri yang ngejar masa lalu." Sindiran itu terucapkan untuk seorang pemuda. "Tapi gua ngejar karena ada hal yang memang ngedorong gue buat ngelakuin itu. Perasaan gue yang terlambat. Em...
![Kejar Mantan [END]](https://img.wattpad.com/cover/259154373-64-k646342.jpg)