Halo, ges. Balik lagi, yah?😂
Cusss baca
---HAPPY READING---
🔆 Menjaga 🔆
"Capek," keluh Arlan langsung menduduki kursi di dekatnya.
"Gara-gara lo juga, kan?" sindir Garlan yang duduk tidak jauh dari cowok tidak tampan tetapi playboy itu, Arlan.
Pasalnya, gara-gara kejailan dari Arlan di saat jam mata pelajaran PPKn tadi, Garlan meluapkan emosinya. Membuat sahabat laknatnya ini tertawa karena berhasil menjahili.
Namun mereka melupakan keberadaan guru super galak di SMA Tirta. Yang mengampu mapel PPKn dan merangkap sebagai pembimbing para OSIS SMA Tirta, Bu Dendi.
"Namanya juga gabut," balas Arlan menyengir.
"Kalo semisal lo botol, nih. Udah gue remet kayak gini," ucap Garlan dengan meremas botol kosong.
Arlan tak menanggapi. Punggungnya dia senderkan untuk rehat sebentar setelah membersihkan kelas sebagai hukuman dari Bu Dendi. Dirinya menatap langit-langit kelas, memikirkan apa saja yang terlintas dalam pikirannya.
"Lan."
"Apa?"
Arlan menjawab masih dengan posisi yang sama. "Masalah mantan lo lagi?" lanjutnya bertanya, menebak ucapan sahabatnya selanjutnya.
"Iya."
Nah, benar 'kan apa yang ditebak Arlan barusan.
"Ada masalah apa lagi?" Arlan bertanya menyudahi kegiatannya menatap langit-langit kelas. Kini, atensi cowok itu sepenuhnya ke arah Garlan.
"Gue bingung," ungkap ketua OSIS itu. "Menyakiti, mengobati, terus menyakiti lagi. Lo pasti inget lah sama omongan Gina di mal waktu itu."
Arlan hanya diam. Menunggu kelanjutan kalimat dari sahabatnya.
"Dari situ logika sama hati gue seolah perang. Di satu sisi, hati gue masih pengen melanjutkan usaha gue buat dapet in Gina. Tapi di lain sisi, logika gue suruh berhenti. Karena dari ucapan itu sudah pasti Gina mengucapkan dari dalam hatinya meskipun dengan tidak sadar saat ia bicara seperti yang dikatakannya."
Garlan menjelaskan panjang lebar. Sudah menjadi kebiasaan Garlan, bercerita apa pun dengan Arlan yang sudah ia anggap seperti saudaranya.
"Anehnya, pas gue bilang ke Gina--"
"Lo bilang apa?" tanya Arlan menyela.
"Gue bilang kalo gue ragu karena ucapannya itu."
"Terus?"
"Gina suruh hilangin keraguan gue. Bahkan dia bilang masih cinta sama gue, seolah dia sudah melupakan kejadian di taman itu. Padahal gue ngerasa setelah kejadian itu dia berubah."
Arlan tersenyum miris. "Dan lo tau? Dibalik ucapan tuh cewek tidak sepenuhnya keluar dengan ketulusan."
Garlan terdiam. Menatap penuh arti ke arah sahabatnya itu.
"Hal yang buat Gina memutuskan untuk mencegah perasaan Gina, untuk tidak jatuh ke dalam lubang yang sama, atau untuk disakiti dengan orang yang sama."
Benar, apa yang diucapkan Arlan barusan. Masih terekam jelas ucapan Gina kemarin. Dirinya tau, sebab saat Garlan ingin memanggil Gina karena dicari Bu Dendi waktu pemilihan OSIS baru, tidak jauh dari posisi Gina dan ketiga temannya Garlan berdiri. Mendengar dan melihat kalimat yang keluar dari mulut sang mantan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kejar Mantan [END]
Novela Juvenil[PART LENGKAP] "Di saat orang-orang ngejar masa depan. Eh, lo sendiri yang ngejar masa lalu." Sindiran itu terucapkan untuk seorang pemuda. "Tapi gua ngejar karena ada hal yang memang ngedorong gue buat ngelakuin itu. Perasaan gue yang terlambat. Em...
![Kejar Mantan [END]](https://img.wattpad.com/cover/259154373-64-k646342.jpg)