EMPAT PULUH

703 35 0
                                        

Hai, ges. Balik lagi, yah?😂

Cusss baca

---HAPPY READING---

🔆 Situasi dan Kondisi 🔆

Hari ini Garlan sudah ada di Bandung. Cowok itu tiba di Kota Kembang ini sekitar jam 8 malam dan menginap di apartemen Arlan. Sahabatnya memilih tempat tinggal sendiri selama dia di Bandung untuk melanjutkan pendidikan. Arlan memang memilih kota itu karena ada beberapa sanak saudara yang ada di sana. Daripada di Jakarta, Arlan sebatang kara karena orang tua Arlan sering keluar kota atau luar negeri menjalankan bisnis mereka. Jadi kalau ada apa-apa dia dekat dengan saudaranya, begitulah pemikiran Arlan.

Berbeda dengan Garlan. Cowok itu masih belum menentukan Universitas mana yang akan jadi tujuannya. Sebelum dia bertemu Gina, keputusan itu belum fokus di pikirannya.

"Gini, nih. Gue 'kan udah bilang kalau gue beliin lo tiket itu sore. Kenapa lo nyampeknya malem?"

Garlan masih tidak habis pikir dengan orang yang ada di sampingnya kini. "Jadwal tiket yang lo beli nyampeknya jam segitu, pe'a. Lagian Jakarta-Bandung jaraknya nggak sama kayak rumah gue ke rumah lo," balas Garlan.

Arlan yang menyopir menoleh ke arah sahabatnya. Menampilkan giginya dengan menggaruk kepala belakangnya dengan salah satu tangannya. "Gue salah, ye, Gar?"

Garlan tak menanggapi. Dirinya sibuk memandang ke arah luar.

Mobil yang mereka tumpangi kemudian berbelok ke arah pagar besi hitam. Menunggu sebentar sampai ada seorang satpam di sana membuka pagar itu. "Makasih, Pak," ucap Arlan dibalas dengan senyuman sang satpam.

"Bener ini, Lan rumahnya?" tanya Garlan melihat bangunan rumah berlantai dua itu.

"Ck, lo segitunya, ya nggak percaya sama gue?" Arlan mendecak kesal.

"Muka lo, sih tampang kriminal."

"Sialan," umpat Arlan menanggapi.

Mereka melangkah ke arah pintu bercat putih itu yang terbuka sebelah. Tanpa basa-basi Garlan langsung memencet bel yang ada di dekat kusen pintu itu. Sampai kedatangan seorang wanita yang sepertinya bekerja sebagai ART di rumah itu.

"Selamat siang--"

"Siapa, Bi?" sela seorang cewek dari arah belakang sang ART.

Garlan yang melihat tersenyum senang ke arah cewek itu. "Long time no see, Mantan."

🔻🔺️🔻

Hening. Suara dedaunan yang bergemerisik dengan angin yang mendominasi.

"Srrruuuup, ahhhh." Dan suara Arlan yang sengaja menyeruput es sirup melon dengan keras. "Diem-diem, bae," gumam cowok itu melihat ke arah Garlan dan Gina.

Sama sekali tidak ada ekspresi dari wajah manis Gina. Datar. Melihat ke arah Garlan saja tidak, hanya sekedar melirik dan menatap Arlan yang bertingkah konyol.

"Heh! Cepetan ngomong. Kayak sama siapa aja, sih harus ada malu-malu kucing gitu," ucap Arlan lagi.

Kali ini Garlan bereaksi meskipun hanya embusan napas yang cowok itu keluarkan. "Bisa minta tolong? Bukannya ngusir, tapi gue butuh ruang," pinta Garlan kepada sahabatnya.

"Nggak. Kak Arlan tetap di sini atau Gina bakal ikut Kak Arlan kalau beranjak pergi," ucap Gina membuat Garlan menatapnya.

Garlan menampilkan senyumnya. Akhirnya cewek di sampingnya kini mengeluarkan suara. Berbeda dengan Gina yang bereaksi lain.

Kejar Mantan [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang