6. Kembali berulah

15.4K 1.4K 46
                                        

Wajahnya yang tadi datar berubah menjadi mengerutkan dahinya. Ia merasa ada sesuatu yang merangkak naik ke tubuhnya. Bukan hewan, seperti tangan dan kaki manusia yang merangkak. Hatinya menyuruh untuk membuka mata, tapi mata masih ingin tidur karena mengantuk.

Namun pada akhirnya Dinda membuka matanya. Ia tidak melihat apa-apa. Jadi apamah yang tadi dirasakan hanyalah di dalam mimpi?

Mata Dinda masih dibuka. Ini bukan pertama kalinya, entah hari apa intinya waktu itu ia pernah seperti ini.

Hening. Tapi keheningan itu hilang saat suara air hujan berjatuhan mulai terdengar. Dinda mengubah posisinya menjadi duduk. Ia memeluk lututnya sendiri. Dinda tidak terlalu takut, ia hanya takut ada penjahat yang masuk ke rumahnya.

Tirai jendela terangkat ke atas akibat angin yang kencang. Pemandangan di luar pun mulai terlihat. Tampak hitam semua karena sudah malam. Dinda menoleh ke jendela, lalu menoleh ke jam dinding.

Pukul 03.00 dan pas sekali. Dinda tiduran lagi, ia hendak tidur kembali. Ia tidur menyamping ke kiri. Tanpa ia sadari, di belakangnya ada makhluk yang ikut tidur di sampingnya. Tangannya menyentuh pundak Dinda.

Mata Dinda yang tadi ingin ditutup kembali terbuka. Ada sebuah tangan yang menyentuhnya. Ia juga merasa kasurnya seperti lebih berat. Jantungnya berdetak sangat kencang. Matanya masih melotot dan belum kedip karena kaget. Ia paksakan menoleh ke belalang, tidak ada siapa-siapa.

Srek srek

Baju-baju di lemarinya berjatuhan ke bawah seperfi waktu itu. Dinda duduk di kasurnya. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia benar-benar takut sekarang.

Matanya tertuju pada bagian dalam lemari, seperti ada orang yang mengacak-acak bajunya. Perlahan Dinda mendekati lemari. Ia membukanya, tidak ada siapa-siapa. Dinda tidak berniat membereskan bajunya, ia pikir besok pagi lebih baik. Badannya hendak kembali ke belakang. Tapi, tubuhnya ditarik hingga bertabrakan dengan lemari.

Kepalanya terbentur, membuat suara yang sangat keras. Jantung Dinda sudah tidak bisa dites lagi kecepatannya. Intinya Dinda sangat takut. Sekarang Dinda sangat yakin ada makhluk halus di kamarnya.
Jika tidak ada, lalu siapa yang menariknya.

Dinda hendak berjalan, tapi tidak bisa karena tangannya ditahan oleh sesuatu.

"Ibu!!! Ibu!!! Tolong aku!!!!!" Teriak Dinda sangat kencang.

Jam tiga pagi biasanya Aisyah bangun untuk sholat tahajud. Tapi, tadi Dinda tidak mendengar suara air keran. Hatinya sangat berharap ibunya akan datang.

Pintu kamar Dinda masih tertutup, tidak ada tanda-tanda bahwa Aisyah akan datang. Tangan Dinda dilepas, ia terjatuh ke lantai. Kepalanya terangkat melihat pintu lemari yang menutup kencang dengan sendirinya.

Nafas Dinda menjadi tidak beraturan. Ia berdiri, dan bergegas pergi ke kamar ibunya.

"Ibu!!! Ibu!!" Dinda menggedor-gedor kamar ibunya saat dirinya hendak membuka pintu tapi tidak bisa karena sepertinya dikunci dari dalam.

"Ibu! Hiks! Ibu buka!!" Teriak Dinda frustasi.

Dinda terbangun dari tidurnya. Ia duduk dan menyadari tadi semua hanyalah mimpi. Tidak semuanya ia ingat, hanya sebagian momen saja. Seperti saat Dinda membuka pintu lemari dan ia merasa ada yang naik ke badannya.

Suara air keran terdengar. Ia menghela nafas lega, sepertinya Aisyah bangun untuk tahajud. Tapi, tunggu. Dinda menengok ke jam dinding. Sudah pukul 04.47 an kemungkinan besar ibunya sedang mengaji di kamar.

Dinda pergi ke kamar ibunya. Ia mengetuk pintu dan langsung dibuka oleh ibunya.

"Ibu udah sholat Shubuh?" Tanya Dinda basa-basi. Padahal Dinda tidak terlalu perduli tentang itu.

"Sudah, barusan. Kamu sudah? Tadi Ibu mau bangunin kamu,"

"Oh, aku udah sholat. Oh iya Bu hari ini kan Ibu mau jemput Ayah, aku izin ke rumah Febi ya. Tadi dia kesetrum, aku mau jenguk sekalian mau ngobrolin sesuatu."

Aisyah keluar kamar dan menuju ruang tamu. Ia duduk di sofa, Dina duduk di sofa depannya.

"Kesetrum? Terus keadaan Febi sekarang gimana?" Tanya Aisyah sambil memakan biskuit yang tersedia di atas meja.

"Gak tau, makannya Dinda pengen jenguk. Boleh kan?"

"Boleh aja," balas Aisyah.

"Kamu kabarin Febi dulu kalo mau kesana, dia kan kadang gak boleh main,"

"Eh iya bener juga sih, ya udah Dinda mau telpon Febi dulu,"

Dinda berjalan menuju kamarnya. Ia menepuk jidatnya karena lupa memberi tau Aisyah apa yang ia alami tadi.

Ia mencari ponselnya dan menemukannya di tas sekolah. Dinda langsung menelpon Febi.

"Assalamualaikum, ada apa Din pagi-pagi?"

"Waaalaikumsalam. Keadaan Lo gimana? Gue mau jenguk lo."

"Alhamdulillah udah sehat normal seperti biasa. Eh iya katanya mau ke kafe? Mau hari ini?"

"Iya hari ini aja. Lo bisa?"

"Bisa, nanti Lo kesini aja. Tapi telpon dulu pas mau kesini, soalnya Gue beres-beres dulu,"

Dinda menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Ibunya berdiri di ambang pintu.

"Ibu mau jemput Ayah jam tujuh pagi, rumah mau ibu kunci aja. Kalo bisa kamu pagi ya kesananya," ucap Aisyah.

Dinda mengangguk lalu Aisyah pun pergi ke kamarnya.

"Jam tujuh pagi bisa enggak?"

"Bisa banget. Jadi jam tujuh nih?"

"Eh tapi katanya Lo mau beres-beres rumah, yang bener ah. Gue takut Kak Al marah,"

"Abang Al gak akan marah kalo Lo enggak ngajak Gue ke jalan yang haram,"

"Ye malah ceramah. Ya udah intinya jam tujuh Gue ke rumah Lo,"

"Oke."

Tut

Sambungan itu mati. Dinda mengambil charger lalu mengisi daya ponselnya yang diletakkan di atas meja.

Ia teringat celana panjang berwarna hitam yang diberikan oleh pelayan itu di kafe. Ia membuka lemari, Dinda menjadi was-was dengan lemari. Ada beberapa kejadian yang membuatnya takut, termasuk kejadian di mimpi tadi.

Setelah dapat, ia pergi ke meja yang ada tas sekolahnya. Ia mengeluarkan buku-buku, ada plastik hitam. Itu bekal makan nya dan belum dimakan oleh Dinda, serta bakso yang Dinda pesan. Jika Aisyah melihat ini, maka Dinda akan dimarahi bahkan tak segan akan dihukum.

Alhasil Dinda tidak mengeluarkan dua plastik itu. Akan ia buang saat hendak pergi ke rumah Febi.

Dinda memasukkan celana itu ke dalam tas. Ia pergi keluar untuk mengambil handuk lalu mandi. Sepertinya tepat jam 05.00 ia mandi dan selesai mandi pukul 05.43

HE LOVE ME (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang