34. Rencana Haji

5.1K 672 29
                                        

Air Bathtub sudah penuh sampai lehernya. Namun Dinda tak kunjung bangun dari posisinya.

Haluannya tadi membuatnya takut. Bagaimana jika itu benar. Apalagi Ayah Ibunya sekarang belum pulang.

"Dinda? Kamu lagi mandi?" Pintu kamar mandi diketuk. Itu suara Aisyah, kemungkinan besar Aisyah yang mengetuk pintu.

"Iyaaa," sahut Dinda. Rasa lega menyelimuti hatinya, artinya haluannya tadi tidak terjadi. Lagian aneh saja, bisa-bisanya Dinda halusinasi seperti itu.

Dinda segera menyelesaikan aktivitasnya. Keluar dengan baju panjang dan celana selutut. Ia pergi ke kamar untuk mengaca diri dan sisiran, ya seperti biasa.

"Dinda! kamu setuju enggak mau undang Ibu Felisa?"

Teriak Firman dari luar kamar Dinda. Pintu kamar Dinda terbuka namun Firman tidak masuk karena baginya itu sesuatu yang privasi.

Kemarin bisa saja Dinda setuju, tapi untuk kali ini ia tidak setuju. Baru saja ia merasa kehilangan sosok itu, sekarang malah ditawarkan cara menjauh dari sosok itu. Begitu rumit saat dijauhi dan diminta dijauhi.

"Hm sebentar," balas Dinda. Kemarin ia minta maaf, sekarang lebih baik ia diam. Ingin mengungkapkan rasanya ini namun takut dicoret dari kartu keluarga.

Setelah sisiran, ia mencari kertas yang tadi di genggam tangannya saat bangun tidur. Pertama-tama ia mencarinya di atas kasur lalu beralih ke meja rias saat tak menemukannya di atas kasur. Di meja rias pun sama, tidak ada kertasnya.

"Kemana sih," gerutunya kesal saat frustasi tidak menemukan kertas itu.

Belasan menit ia mencari namun tak kunjung menemukannya. Akhirnya Dinda duduk di atas kasur. Lalu menggaruk rambutnya yang tak gatal. Kuku panjangnya tak sengaja mengenai kulitnya yang terdapat jerawat.

Ekspresi Dinda berubah menjadi tegang, matanya melotot merasakan sakit yang luar biasa. "Duh sakit anj—"

"Din, makan duluuu!!" Teriak Firman dari luar kamar. Mukanya berubah menjadi datar.

Dinda menghela napasnya kasar. "Iyaa on the way nih!!!" Balasnya.

Ia langsung keluar kamar dan pergi ke dapur. Ada Aisyah dan Firman duduk berhadapan tengah sarapan pagi.

Kursi yang berada di samping Aisyah ditempati oleh Dinda. Di hadapannya sudah tersedia makanan untuk Dinda, jadi tugas Dinda sekarang tinggal makan saja.

"Dinda gimana? Masih ada yang ganggu atau udah baik-baik aja?" Tanya Firman memecahkan kesunyian di antara mereka.

Dinda yang tengah makan langsung menoleh ke arah Firman sambil mengunyah.

"Udah baik-baik aja kok." Jawab Dinda lalu tatapannya kembali fokus ke meja makan.

Jawaban Dinda entah benar atau tidak. Hubungan mereka berdua sudah selesai, bahkan sosok itu menuliskan bahwa ia akan menjauhi Dinda. Tapi, Dinda tak ingin mengakui bahwa kisah mereka telah usai.

"Yakin?" Bola mata Aisyah melirik ke arah kiri, ke arah Dinda.

"Iya," jawab Dinda tanpa menjelaskan. Jika dijelaskan semuanya, kemungkinan besar Dinda akan dimarahi.

"Kamu ngalamin apa aja?" Tanya Firman penasaran.

Kedua orang tuanya menatap anaknya yang sedari tadi tatapannya fokus ke piring.

"Dinda, kamu ada masalah?" Panggil Firman lagi.

Dinda tersentak dan langsung menoleh ke arahnya. Otaknya yang tidak fokus membuat telinganya ikut tidak fokus juga.

"Apa, Yah?"

"Kamu lagi ada masalah?" Ulang Firman.

"Oh enggak kok. Cuma lagi kepikiran sama ujian doang, bentar lagi ujian kelulusan," jawab Dinda berbohong karena nyatanya otaknya sedang tidak memikirkan itu.

"Oh gitu. Mulai sekarang belajar ya? Biar enggak dadakan banget," ujar Firman pelan.

"Iya, Yah." Jawab Dinda.

Selanjutnya tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka bertiga. Firman ingin mengajak bicara, tapi saat melihat kondisi anaknya yang seperti ada masalah, lebih baik ia diam daripada akan membuat anaknya bertambah masalah.

Setelah makan lalu bekas makan Ayah Ibu serta dirinya langsung dicuci oleh Dinda. Firman beranjak pergi ke kamarnya. Sedangkan Aisyah masih di dapur sedang membaca buku.

"Din, kamu nanti habis lulus mau langsung kerja atau kuliah?"

"Bebas aja aku mah," jawab Dinda yang sedang cuci piring.

"Mau nikah aja gimana, Din?" Tawar Aisyah hanya bercanda.

Tangan Dinda langsung berhenti melakukan aktivitasnya.

"Karena kita akan segera menikah."

Ucapan ibunya membuatnya teringat dengan perkataan Jaka waktu itu. Seketika rasa rindunya kembali tumbuh lagi.

Sekarang ibunya tengah membahas masa depan yang bentar lagi akan terjadi. Mau tidak mau pasti akan terjadi. Di saat anak kelas 12 sudah mempersiapkan, Dinda malah belum menyiapkan sama sekali. Di saat orang lain fokus ke masa depan, Dinda malah fokus ke sosok itu yang termasuk ke dalam masa lalu.

Hatinya seperti disenggol oleh pertanyaan ibunya. Aisyah seolah-olah bertanya "Sesuatu apa yang kamu sudah persiapkan untuk masa depan? Di masa depan nanti kamu bakal hidup sendiri, enggak ada Ayah sama Ibu."

Dinda lanjut mencuci piring. "Nikah sama siapa? Orang aku jomblo," jawab Dinda ikut bercanda juga.

"Din, kamu tuh gangguan apa aja sih dari makhluk itu selain yang pernah kamu ceritain ke Ibu,"

Dinda masih mencuci piring. "Ya kaya diganggu sama hantu aja sih. Sekarang mah udah enggak diganggu, gak tau kenapa,"

"Kayanya doa Ayah sama Ibu selama ini terkabul gak sih, Din? Doa orang-orang yang pengen kamu selamat di kabulin sama Allah,"

"Iya kayanya sih Bu," jawab Dinda cuek.

Piring dan gelas beserta sendok sudah dicuci olehnya. Karena merasa ibunya ingin mengobrol, Dinda duduk terlebih dahulu di hadapan ibunya.

Aisyah yang paham pun langsung menutup bukunya dan disimpan di atas meja. Aisyah dan Dinda saling tatap-menatap namun tidak terlalu serius.

"Eh iya Din, nanti setelah kamu lulus SMA tuh Ibu sama Ayah mau ada rencana haji sama temen-temen Ibu,"

"Kamu mau ikut enggak? Ayah sama Ibu ada kok biayanya," tawar Aisyah.

Terima aja Din! Itung-itung move on dari si Jaka! Atau hitung-hitung ibadah sekalian jalan-jalan kan lumayan!

"Boleh,"

"Eh enggak deh," tolak Dinda cepat.

"Kenapa? Mumpung Ayah sama Ibu lagi ada uang,"

"Enggak deh Dinda di rumah aja. Nanti siapa yang jaga rumah? Kalo lulusan juga pasti Dinda ada acara main sama temen-temen sih,"

"Maksud Ibu kan mumpung Ayah sama Ibu masih ada umur,"

"Enggak ah, Dinda juga enggak paham tuntunan haji, nanti disana planga-plongo."

"Yakin nih?"

"Iya Ibuku tersayang,"

"Bisa aja kamu. Ya udah deh, tapi kamu gapapa Ibu tinggal dirumah sendirian?"

Dinda mengangguk yakin. "Gapapa, emangnya aku anak kecil apah,"

"Ya udah deh,"

"Dinda Mau ikut Ayah ke toko buku enggak??" Tawar Firman yang sedang mencari kunci mobil.

Dinda melirik ke arah Ayahnya. "Emang Ayah ke toko buku mau ngapain?"

"Mau jualan bubur,"

"Ya mau beli buku lah. Ayah mau beli buku tentang haji gitu kan buat nanti baca-baca lagi barangkali ada yang lupa atau salah gituh,"

"Ohh. Dinda ikut dehh," Dinda berdiri dan bergegas siap-siap ikut Ayahnya. Barangkali dapet novel gratis kan, lumayan.

HE LOVE ME (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang