Sesekali ia mencuri pandang. Ada kalanya tatapannya tertangkap oleh Taeyong, bukannya malu atau sungkan. Taeyong justru menatapnya balik seperti akan melawan. Bawahan yang sangat nekat.
Jaehyun mendekat dan meraih kotak pink itu "Kue tidak berguna"...
Ia berlama-lama mengaduk Teh Bunga Rosella di gelas yang kini berada di tangannya. Taeyong sedang di pantry. Ini hari kedua perusahaan heboh dengan gossip tentang pacar bosnya yang baru pulang dari Polandia. Taeyong berusaha menguping pembicaraan beberapa staf di pantry.
"Kau tahu, mereka itu sangat cocok."
"Ah.... Hwasa memang yang terbaik. Kau lihat saja badannya. Nyaris sempurna, bak Gitar Spanyol"
Mendengar itu Taeyong langsung melirik dada lalu melirik bokongnya ke belakang. Mengingat lagi bentukan Hwasa saat di kafe kemarin. Benar-benar jauh lebih menggoda Hwasa dari dia yang ala kadarnya. Taeyong cemberut sedih.
"Bagaikan Pangeran dan Putri. Aku dengar mereka memang berpacaran setelah kepergian Wendy. Hwasa sengaja pulang ke Korea demi menghibur Jaehyun. Ah.... wanita yang sungguh berlapang dada."
"Apa mungkin kali ini mereka akan meresmikan hubungan mereka? Pernikahan...ini akan menjadi pesta yang sangat mewah!"
Taeyong tak tahan lagi. Ia meminum habis the hangat tadi lalu ke luar menuju ruangannya.
🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭
Tiga kali ia menghubungi Jaehyun namun berada di luar jangkauan. Ia memasukkan lagi telepon genggamnya ke dalam tas.
Air mataku tak boleh jatuh. Aku memang bukan siapa-siapa. Bertahanlah Taeyong.Jika dia pria baik-baik ia tidak akan mempermainkanmu dan tolong jangan gegabah atau bahkan meminta klarifikasi. Itu sangat memalukan.
Sore harinya Taeyong melewati rumah Jaehyun. Ia hanya ingin tahu kabar bosnya yang tidak tampak seharian di kantor. Jangan lupa, panggilannyapun tidak masuk.
"Selamat sore Pak, bos Jefri apa ada di rumah?" Taeyong bertanya pada penjaga rumah Jaehyun.
"Maaf Nona, Bos dan Nyonya besar tadi pagi pergi ke luar Negeri. Ke polandia."
Mendengar kata Polandia darah Taeyong langsung berdesir. Kini ia sangat gugup. Cukup sudah menyakiti dirimu sendiri Taeyong. Memberimu kabar saja tidak. Apa yang kau harapkan? Jaehyun pun membawa sang mama ke sana. Semua sudah pasti untuk membahas apa. Bodoh.
Ia menelan ludah tak berkata-kata lagi lalu menunduk pamit.
🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭
Ten manaruh tentengannya di meja ruang tengah. Ada banyak makanan. Semua makanan kesukaan Taeyong sahabat karibnya itu. Sementara Johnny langsung mengambil tiga buah gelas dan menuang minuman botol yang mereka bawa lalu memposisikan diri duduk dengan santai.
Kondisi Taeyong tampak memprihatinkan. Tubuh kecilnya terlilit selimut putih tebalnya yang berantakan. Sisi kanan dan kiri kepalanya bertaburan tisu bekas lelehan cairan bening dari hidung dan air mata. Matanya sudah membengkak dan sembab. Wajahnya sangat loyo dan tirus.
Ten memasuki kamar Taeyong. Menariknya paksa keluar dari gulungan selimut tebal itu.
"Ayo bangun. Kami membawa banyak makanan" bujuk Ten.
Taeyong masih cemberut dengan hidung yang memerah. Saat ia akan berdiri rambutnya pun ikut berdiri.
"Sisir dulu cantik." Ten memberikan sisir ke telapak tangan Taeyong.
Tertatih Taeyong berjalan menuju ruang tengah apartemennya. Johnny tersenyum menyodorkan minuman yang sudah tertuang di gelas. Taeyong tak merespon ia masih cemberut kesal seperti anak-anak yang tidak dituruti kemauannya.
"Lihat wajahmu Taeyong, bagaimana mungkin sampai sedepresi ini?" Johnny mengacak rambut Taeyong yang tadinya sudah sedikit rapi.
"Oppaaa!!!" Ten melotot melihat tingkah jahil Johnny dan mencubit lengannya. Johnny terkekeh sembari meringis memegangi lengannya. Cubitan Ten cukup berbisa.
Ten membuka semua bungkusan yang ia bawa tadi "Ini makanlah semua. Jangan bersedih lagi Yongie. Memang hanya Johnny oppa pria terbaik di dunia ini, selebihnya TIDAK ADA."
Bukannya menghibur, Taeyong malah semakin menangis melempar bungkusan makanan pada Ten sialan itu.
Ten menyenderkan tengkuknya di dada bidang Johnny. Seakan pamer prianya sangat setia. Ia menikmati beberapa cemilan. Sesekali pucuk kepalanya dikecup mesra oleh Johhny.
"Cih... tidak bisakah kau menghentikan tingkah kekanakan itu saat kondisiku seperti ini Ten?" Taeyong berdecih sebal.
Ten malah tertawa melihat ekspresi marah Taeyong. Sangat menggemaskan dengan matanya yang bulat hitam berkilau.
"Maaf aku harus mengatakan ini, kau tidak perlu terlalu merespon semua sikap manis Jaehyun. mungkin kemarin dia hanya kesepian. Aku mewakili Jaehyun meminta maaf padamu Tae." Jelas Johnny pada Taeyong.
Taeyong semakin menangis "Huuaaa...... kenapa bos sangat tega oppa. Bahkan aku sudah memutuskan untuk menyanyanginya walau ia bersikap kasar huaaa hiks.... Hiks...." ia semakin terisak dan cairan bening hidungnya turun lagi.
Pasangan JohnTen hanya menggeleng kasihan.
🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.