Ruang guru bersebelahan langsung dengan ruang tamu sekolah, sementara kantin berada tepat di sebelah guru dengan perbatasan tangga menuju lantai atas sehingga tak membutuhkan waktu lama untuk bisa sampai di ruang tamu sekolah. Pertanyaan mengenai panggilan dari bu Yuli dan kedaangan mum masih terus menyelimuti pikiranku. Semoga saja bukan mengenai kasus penguncian itu karena aku tak punya jawaban yang pasti untuk pertanyaan menyangkut hal itu. Jika ku jawab itu semua disebabkan mereka membenciku karena aku bersama Harry pun, mungkin akan terdengar konyol. Masalahnya, mereka pasti menganggap hubungan semacam ini hanya didasarkan cinta monyet atau sesuatu seperti itu.
Memang aku sendiri pun sebenarnya selalu berpikir bahwa berpacaran di saat SMA tidak akan menjamin menghasilkan hubungan yang utuh hingga akhirnya menjadi sebuah keluarga nantinya. Namun, seperti yang sering dinyatakan, seseorang pada masa pertumbuhan cenderung lebih mengambil risiko untuk apa yang diinginkan. Naif tetapi bertekad kuat. Justru disitulah letak kelebihannya, bukan? Untuk belajar dari segala jatuh bangun yang dilewati. Mungkin itu berlaku bagi hubungan juga.
"Do you need a company?" tawar Harry.
"I think I'm fine."
"Right, then. Hope there's nothing so serious."
"Hopefully." angguk ku. Aku menarik kedua otot pipiku, membentuk sebuah senyuman tipis kepada Harry untuk terakhir kali sebelum memasuki ruang tamu tersebut. Ketika memasuki ruangan yang menjadi tujuan, aku mendapati mum yang tengah berbincang dengan bu Yuli. Aku langsung mencium tangan bu Yuli dan Mum, lalu berusaha bersikap senormal mungkin meski sebenarnya aku cemas.
"Ini dia anaknya!" seru bu Yuli sambil tertawa bersama mum. Aku hanya mengernyit heran dengan tertawanya kedua perempuan paruh baya ini. Sejujurnya, apalah yang membuatku dipanggil hingga mum datang ke sekolah. "Lama banget kamu, daritadi ditungguin juga, ngapain dulu?"
"Ehm, tadi ke kantin bu." jawabku sambil nyengir.
"Sama Naya, Cyntia, Rebecca dan Audrey?"
"Eng... Ya gitu deh." aku ku, tak mengelak karena tak ingin mengulur waktu.
"Tapi Sky nggak nakal kan bu di sekolah?"
"Enggak, Sky pake seragamnya aja rapi terus kok saya liat. Nggak macem-macem." jawab bu Yuli sambil tertawa tak jelas. Duh, tidak bisakah mereka berhenti berbincang dan langsung mengatakan alasan dipanggilnya aku ke ruangan ini? Mengapa mereka malah memperpanjang perbincangannya? Ya ampun.
"Ya udah bu, kalau gitu saya sama Sky pamit dulu ya. Makasih izinnya, bu." ucap mum kepada bu Yuli, lalu meraih tanganku dan menarik ku keluar dari ruangan tersebut. "Ayo Sky."
"E-eh mum kita mau kemana?" tanyaku sambil menahan langkah mum yang terus membawaku ke gerbang sekolah.
"Ke rumah sakit Azra, nenek masuk rumah sakit jam 2 malem tadi."
"Ya ampun," aku menepuk keningku sambil menghela napas. Jangan salah sangka, aku lebih menyayangkan kedatangan mum adalah karena nenek yang masuk rumah sakit. Tetapi ada perasaan sedikit lega karena kedatangan mum tak menyangkut insiden kamar mandi itu. "Nenek masuk rumah sakit? Kirain Sky tadi mum dipanggil ke sekolah karena apa."
"Emang kamu kenapa?"
"Enggak, nggak apa-apa." gelengku dengan instan.
"Liat aja kamu kalo bermasalah di sekolah nanti mum bilangin dad biar langsung dikawinin aja sama anak temennya." ancam mum, memberikan tatapan yang juga mengancam.
"Hush, mum enak banget ngomongnya ngawinin. Sky masih mau sekolah, lagi. Mau jadi desainer, penulis, atau enggak jadi apa kek gitu."
"Kamu nggak bermasalah di sekolah tapi nggak nyambung ya. Minatnya semua nggak ada yang nyangkut ke IPA. Terus kenapa masuk IPA, Sky?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The NewComer
FanficSiapa yang kira seorang pendatang baru di sekolah dapat merubah kehidupan SMA ku? ©2014 by itshipstastyles dedicated to all Indonesian High Schoolers WARNING: It's an unedited version, still trying to work on several stuffs as plot, words, typos etc.
