Chapter 5: Private Lesson

3.9K 439 96
                                        

Setelah berdoa, semua diperbolehkan pulang. Aku mengantri untuk mencium tangan guru PKn ku, bu Dahlia namanya. Aku berdiri di barisan kedua dari belakang. Aku memang sering menghabiskan waktu yang lama untuk memasukkan alat-alat sekolah ke dalam tas sehingga sering berada di barisan belakang.

"Kamu cepet-cepet amat, mau ngapain sih cepet-cepet?" guruku bertanya ketika aku telah selesai mencium tangannya.

"Ih, nggak sengaja bu itu."

"She can't wait to go home. I think she has a plan with her boyfriend." goda bu Dahlia dengan pandangan ke belakangku.

Aku membalikkan badanku setelah itu dan di belakangku ada Harry. Ia baru selesai mencium tangan guru PKN kami itu. Ia adalah murid yang terakhir. Oh sungguhlah memalukan.

"Errr, that's not trueee!" aku mengelak lagi untuk kedua kalinya. Kali ini dengan segera. Harry tersenyum lebar saat mendengarnya. Itu menambah malu yang kurasa.

"Let's go to my car." ajaknya saat kami keluar dari ruang kelas.

"Where are we going to do the lesson?"

"My house." jawabnya singkat.

"Okay, but you walk first. I'll follow." pintaku.

"Why is that?"

"Walk first or not doing the lesson?"

"Okay, okay."

Ia berjalan dan aku mengikutinya dari belakang. Seperti yang sudah menjadi persetujuan. Ia memanduku ke mobil mewahnya. Subaru Impreza berwarna silver. Mungkin tak sering terlihat di jalanan di kota ku. Aku pun tak tahu berapa harganya tetapi yang kutahu seorang aktor Hollywood mendapatkan mobil seperti ini saat ulang tahunnya. Jadi aku memutuskan mobil itu sebagai mobil mewah.

Ia membukakan pintu untukku, aku segera masuk dengan cepat. Ia mulai menyalakan mesinnya. Menatapku untuk beberapa saat lalu mulai menginjak pedal gasnya. Saat itulah perjalanan ke rumahnya dimulai.

Tangannya berada di roda kemudi, terlihat berkonsentrasi kepada jalan yang ada di hadapan. Aku menatapnya, tanpa kusadari aku tersenyum sendiri dan Harry yang menyadari segera menegurku. "Why are you smiling like that?" keningnya mengkerut.

"What?"

"You're smiling."

"Then?"

"Why is that?"

"No, it's just funny how you spoke Sundanese." lalu aku terbayang-bayang ia berbicara bahasa Sunda dengan aksen British-English nya yang kental itu dan segera tertawa.

Harry pun tertawa "I'm learning, you know. How about what you did at the class earlier? Couldn't wait to go home, eh?" ia membalas ejekanku.

"Oh, no! You don't talk about that!" larangku.

"What did the civics teacher said? Having a plan with boyfriend?" ia memberikan senyum liciknya yang menggoda dan itu sangat sukses membuatku kembali merasa malu.

"Yeah, yeah, she said I had a plan with my boyfriend when in fact I have to teach you lessons. So far from what she said, huh?" sindirku.

"Hmm, you want to have a plan with your boyfriend instead of teaching me?" ia menaikkan kedua alisnya.

"Yeah!" jawabku dengan semangat lalu berubah menjadi datar "No, kidding. I have no boyfriend."

"Then, congratulation, your wish to have a plan with your boyfriend has come true because I'll be your boyfriend today." simpulnya dengan enteng. Ia tidak tahu saja betapa terkejutnya aku saat ia berkata seperti itu.

The NewComerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang