Aku menoleh untuk memastikan sosok lelaki itu. Benar saja, anak baru bernama Harry Styles itu berjalan di sebelahku. Ia memberikan sebuah senyuman, sementara aku mengerutkan dahiku. Bukan maksud berlaku kasar tetapi tidak biasanya ia berjalan kaki seperti ini.
"What are you doing? I thought you have a fancy car."
"I want to feel the tradition, the habits and everything. I need to know more about the places around me." ia menempatkan kedua tangannya di gendongan tasnya sambil memandang jalanan di sekitar "Do you think you can help me to go around?"
"There are many people who would happily help you. You can ask them if you want." aku menolak secara tak langsung. Tak ada keinginan sama sekali untuk menerima permintaannya.
"Are you saying you can't help?"
"Yeah, that's it."
"How about telling me a bit about school stuffs, friends and teachers?" lelaki ini tak berhenti. Ia malah menjalar kepada topik bahasan lain.
"I'm afraid I know least. Besides, from what you've been through, I can see you getting on well with everything."
"Tell me a bit, like how do you feel about school stuffs and everything."
"Why should I?"
"Why do you hate me?"
"Who says I do?" aku terus membalas pertanyaannya dengan segala pertanyaan dan pernyataan yang tak menjawab pertanyaan yang diajukan Harry sama sekali sambil terus berjalan. Tetapi meski aku mempercepat langkahku pun, lelaki itu tak menyerah.
"Nobody. I just haven't seen you hanging around and you always seem like you're avoiding me."
"Don't try to guess. You don't even know me."
Untuk beberapa detik, aku tak mendengar derap langkahnya. Kupikir aku berhasil membuatnya diam. Kupikir ia sudah berhenti, tetapi tidak. "I just want to know why." dari posisinya berdiri ia berbicara, nada bicaranya meninggi seolah memaksaku mengungkapkan semuanya. Aku yang awalnya sudah di atas angin karena merasa berhasil menghentikannya sekarang malah terpukul oleh sebuah kalimat darinya.
Aku pun menghentikan langkahku, membalikan badanku dan segera memandangnya dengan tajam meski air mata menghadang "Why, huh? You asked me why? You take most everything. You take the only good friends I used to have. You take the happiness I used to have. People don't even seem to care what's around them. All they talk about is you. All they care about is you. You're special and I'm completely nothing." emosi yang membara akhirnya membuat mataku tak kuasa mengeluarkan air yang kutahan sedari tadi.
"I never meant to do that."
"You only said so because we are partner for the upcoming English class. You know what? You don't even need to try to be good, the next material is expressing anger. I can act naturally."
"I mean it, I care about you!"
"Saying you care about me after what happened? Take your words, man!" aku kembali membalikan badan menuju arah yang kutuju. Namun tangannya meraih tanganku dan menghentikan langkahku.
"That's why I'm here! I want to fix everything that happened between us."
"You can't just fix a broken glass."
"Then I want to start it all over again with the new glass and I need you to show me the way so that I won't break another glass. Can we start it all over again?" tangannya mulai bergerak dengan lembut. Tatapannya tertuju kepadaku, tatapan yang lekat. Ia seolah menunggu responku.
KAMU SEDANG MEMBACA
The NewComer
FanfictionSiapa yang kira seorang pendatang baru di sekolah dapat merubah kehidupan SMA ku? ©2014 by itshipstastyles dedicated to all Indonesian High Schoolers WARNING: It's an unedited version, still trying to work on several stuffs as plot, words, typos etc.
